Wow, Karyawan Kepercayaan Diduga Gelapkan Duit Klinik Hingga Rp 1 Miliar di Banda Aceh

Wow, Karyawan Kepercayaan Diduga Gelapkan Duit Klinik Hingga Rp 1 Miliar di Banda Aceh
Suci Rahayu, terdakwa penggelapan duit klinik mengikuti sidang secara virtual dari Lapas Kelas III Lhoknga

BERITAKINI.CO, Banda Aceh | Seorang karyawan didakwa menggelapkan uang di tempatnya bekerja. Tak tanggung, nilainya diestimasi mencapai Rp 1 miliar.

Karena perbuatannya itu, pelaku pun kini dijebloskan ke penjara untuk proses mempertanggungjawabkan perbuatannya. Dia adalah Suci Rahayu, warga Aceh Besar.

Pengadilan Negeri Banda Aceh telah menggelar sidang lanjutan perkara itu, Rabu (31/3/2021) dengan agenda mendengarkan keterangan saksi.

Jaksa Penuntut Umum (JPU) dari Kejari Banda Aceh menghadirkan tiga orang saksi di muka sidang yang dipimpin Hakim Nurmiati didamping dua hakim anggota yakni Eti Astuti dan Safri. 

Ketiga saksi itu masing-masing Ulfah Wijaya sebagai pemilik Klinik Anugerah Ayah Bunda; Nomi, asisten apotaker dan kasir; serta Irma Mulyani sebagai pembuat e-faktur pada klinik tersebut.

Sementara terdakwa Suci Rahayu mengikuti sidang melalui virtual dari Lapas Kelas III Lhoknga.

Ulfah dalam kesaksian mengatakan bahwa Suci Rahayu merupakan karyawan kepercayaannya. Namun sejak 2018, dia mulai menaruh curiga pada perilaku Suci.

Terlebih Ulfa sudah mendapatkan laporan dari anak-anaknya tentang dugaan penyelewengan uang klinik yang dilakukan Suci. Di mana dia diduga menilap sekira Rp 2 sampai Rp 4 juta dari pendapatan klinik per hari.

Namun, rasa percaya menepis semua sehingga dia pun tak menindaklanjuti laporan anak-anaknya tersebut.

"Si Suci latar belakang pendidikannya adalah bidan, tapi di klinik jabatannya sebagai pengawas, dia juga asisten pribadi, satu ruangan kerja di klinik, orang yang paling saya percaya dan keluarga dari dulu,” katanya. 

Hingga pada 14 Desember 2020, perbuatan terdakwa mulai terkuak.

Ulfa menjelaskan, berdasarkan laporan, total pendapatan klinik per hari mencapai Rp 15 juta, tapi yang dilaporkan oleh Suci sekira Rp 10 juta. 

Atas dasar itu, dilakukan penelusuran dan terungkap hal itu diduga sudah dilakukan oleh Suci sejak 2018 sehingga kerugian klinik ditafsir mencapai Rp 1 miliar lebih.

Dari hasil penelusuran, kata Ulfah, diduga duit yang digelapkan tersebut digunakan untuk kepentingan pribadi terdakwa.

Ulfa menemukan bukti stor transaksi belanja online dari tahun 2018 hinga 2020 mencapai Rp 667 juta.

Selain itu, terdakwa juga diduga menggunakan duit tersebut untuk membeli perhiasan emas, sepada motor, sepeda gunung, laptop, kulkas, dan tas berbagai merk sebanyak dua 25 buah. 

"Terdakwa mengakui perbuatannya dengan membuat surat di notaris, dia juga juga telah mengembalikan sebagian barang yang diduga dibeli mengunakan uang klinik, seperti emas, motor, dan tas,” katanya.

Tak hanya itu, saat sedang dalam proses pemeriksaan di polisi, terdakwa mengakui sempat berangkat umroh tanpa diketahui penyidik. 

“Terdakwa ini sudah enam tahun berkerja di klinik namun belum menikah dan selama ini menjadi tulang punggung keluarga,” ungkap Ulfah.

Selain itu, Ulfah juga menemukan adanya peningkatan perekonomian keluarga Suci yang cukup signifikan, di mana Ayahnya yang selama ini bekerja menjaga ternak milik orang lain, saat ini telah memiliki sapi sendiri.

Ulfah juga mengungkapkan bahwa Suci diduga menggunakan duit klinik untuk membiayai kuliah dua adiknya. Satu di antaranya telah lulus sebagai dokter hewan, dan satu lainnya masih dalam proses studi. 

“Dari percakapan WA antara terdakwa dan ibunya, setiap tahun ibunya meminta uang untuk kenduri maulid,” katanya.

Ulfah, pernah melakukan cek rekening di bank milik terdakwa, namun tidak menemukan uang dengan jumlah besar.

"Terdakwa ini pintar, dugaan saya dia tidak menyimpan uang di bank,” katanya.

Ulfah juga mengaju sudah pernah mencoba melakukan pendekatan dengan terdakwa dan keluarga untuk menyelesaikan persoalan itu secara kekeluargaan.

"3/4 dikembalikan uang klinik, akan kami maafkan,” katanya.

Namun, menurut dia, tidak ada itikat baik dari terdakwa dan bahkan mengatakan bahwa dirinya telah difitnah. 

Sementara Nomi dalam kesaksiannya mengatakan heran dengan terdakwa yang selalu belanja makanan per hari hingga Rp 300 ribu.

p"Setiap hari saya lihat belajanya, kue, nasi dan cemilan lain mencapai ratusan ribu, kadang Rp 150 ribu, Rp 300 dan Rp 500,” katanya. 

Ia mengetahui jumlah transaksi belaja tersebut karena kerap membayarnya, di mana terdakwa memesan makannya secara online dan memerintahkan agar dibayar oleh klinik.

"Terdakwa selalu pesan makanan dan diantar ke klinik, nanti kalau tidak ada terdakwa, kami yang bayarkan,” katanya. 

Nomi juga sudah pernah melakukan penelusuran, diketahui terdakwa selalu memainkan harga obat, misalnya harga jugal Rp 180 ribu namun disetor Rp 120 ribu. 

Nomi yang mengetahu hal tersebut namun, takut melaporkan dikarenakan terdakwa orang kepercayaan Ulfah.

Nomi, juga melihat sendiri terdakwa sudah mengakui perbuatannya kepada pemilik klinik dan meminta untuk tidak dilaporkan ke polisi serta bersedia mengabdi seumur hidup demi bayar uang yang ditelapnya tersebut.

Sementara saksi Irma Mulyani memberikan kesaksian bahwa terdakwa selalu menyuruhnya untuk membuat laporan pengeluaran per hari Rp 1 juta.

Irma mengetahui selalu ada paket yang datang ke klinik untuk terdakwa, sehingga dia dan teman-teman yang lain merasa heran.

Selain itu, katanya, terdakwa selalu memantau harga emas dan biasanya dalam beberapa hari terdakwa sudah menggunakan emas tersebut.

Atas keteragan para saksi, terdakwa mengakui telah melakukan penggelapan. Namun meminta untuk dibuktikan jumlah kerugian klinik tersebut.

Setelah mendengar kesaksian tersebut, majelis hakim menunda sidang hingga Rabu, 7 Apri 2021, untuk mendengarkan keterangan saksi dari terdakwa.

Editor
Rubrik

Komentar

Loading...