Waled Husaini: Tinggalkan Ganja, Mari Beralih ke Tanaman Halalan Thayyiban

Waled Husaini: Tinggalkan Ganja, Mari Beralih ke Tanaman Halalan Thayyiban

Jantho | Wakil Bupati Aceh Besar Tgk H Husaini A Wahab mengajak para petani yang masih menanam ganja untuk meninggalkan tanaman haram itu. Terutama karena pemerintah saat ini sedang gencar-gencarnya menggalakkan program ketahanan pangan.

Ada banyak program pemerintah yang akan direalisasikan, terutama pengembangan padi dan palawija, untuk tujuan swasembada pangan. Pada 2018, misalnya, pemerintah akan mengembangkan seluas 2.645 hektar lahan jagung di Aceh Besar.

“Karena itu saya mengajak semua petani agar meninggalkan tanaman ganja dan seterusnya beralih kepada tanaman yang halalan thaiyiban seperti yang diprogramkan pemerintah saat ini,” kata Tgk H Husaini A Wahab  atau yang karib disapa Waled Husaini itu saat pidato di acara Gerakan Tanam Perdana Jagung di Gampong Meunasah Teunong, Kemukiman Lamkabeu, Kecamatan Seulimeum, Aceh Besar, Selasa (9/10/2018).

Waled pun meminta petani untuk memanfaatkan kesempatan tersebut. Dia memastikan bahwa program bantuan tersebut tidak terkait dengan kepentingan pihak mana pun, tak kecuali partai politik.

"Ini bukan punya partai ini atau partai itu. Ini program pemerintah untuk petani," kata Waled.

Yang terpenting saat ini, kata Waled, memastikan program pengembangan jagung tersebut bisa berjalan baik dan menghasilkan bagi masyarakat.

Di sisi lain, Waled juga mengakui bahwa masih ada sekelumit masalah yang mengganjal jalannya pengembangan sektor pertanian di Aceh Besar.

“Keluhan petani misalnya saat ini adalah soal pupuk. Ketika sedang diperlukan oleh petani, pupuknya hilang (dari pasaran). Tidak tau siapa yang 'makan', selalu hilang asal sedang dibutuhkan," kata Waled.

Karena itu, dia berharap para stakeholder untuk bersama-sama mengontrol. “Karena penyakit bukan hanya hama saja, tapi manusia juga menjadi hama,” katanya lagi.

Selain itu, kata Waled, ketersediaan air di Aceh Besar juga sedang dalam ancaman, terutama karena maraknya praktik penebangan liar.

“Hari ini di Aceh Besar, banyak orang melakukan penghentian air dengan cara illegal logging,” katanya.

Keluhan ini, kata Waled, datang dari warga Lembah Seulawah. Mereka mengadu bahwa saat ini hutan mereka terus digundul: kondisi yang bisa memicu terjadinya banjir bandang.

“Jika itu (banjir bandang) terjadi, maka sawah mereka tidak akan bisa digunakan lagi karena akan dipenuhi pasir,” kata Waled.

“Hal yang sama juga terjadi di Lamteuba, sementara illegal logging itu kita tahu siapa yang kerja, siapa yang motong (pohon). Tapi belum bisa kita atasi padahal semua kita mengerti dan tahu. Di hutan-hutan di Aceh Besar itu saat ini sudah seperti di kota, kalau malam itu lampu truk sangat banyak. Sementara masyarakat hanya bisa melihat hutan ditebang terus.”

Menurut Waled, persoalan tersebut seperti penyakit yang tidak pernah hilang. Iapun berharap polisi untuk menegakkan hukum dengan tegas.

"Kalau memang ada yang berbuat jahat, kita tangkap. Kami mendukung penegakkan hukum,” katanya.

Sementara Kadis Pertanian Aceh Besar Dr Ir Azhar MSc menambahkan, pada 2018 pengembangan jagung hibrida dilaksanakan di beberapa kecamatan di Aceh Besar.

Di antaranya Pulo Aceh, Lhoong, Lembah Seulawah, Seulimeum, Kota Jantho, Kuta Cot Glie, Darussalam, Kuta Baro, Darul Imarah, serta Mesjid Raya. Untuk suksesnya kegiatan tersebut, dukungan semua stakeholder sangat diharapkan.  

Sebelumnya, Kadistanbun Provinsi Aceh A Hanan SP MM menjelaskan, pemerintah akan mengembangkan seluas 2.645 hektar lahan jagung di Aceh Besar pada 2018. Program tersebut merupakan dukungan dari Kementerian Pertanian Republik Indonesia.

“Dengan areal pertanian yang sangat luas dan subur, Kabupaten Aceh Besar menjadi salah satu daerah lumbung pangan di Aceh,” katanya.

Rubrik

Komentar

Loading...