Wakil Ketua MPU: Rumah Ibadah Seharusnya Tak Perlu Label Organisasi

Wakil Ketua MPU: Rumah Ibadah Seharusnya Tak Perlu Label Organisasi

BERITAKINI.CO, Banda Aceh | Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Aceh, Faisal Ali mengatakan,  sebuah rumah ibadah seharusnya tak perlu menggunakan label organisasi. Kondisi ini hanya mengesankan ekslusifitas dan cenderung memancing reaksi dari masyarakat.

Hal ini disampaikan Faisal Ali saat dimintai tanggapannya terkait aksi pembakaran sebuah balai dan tiang-tiang yang didirikan untuk pembangunan Masjid At Taqwa Muhammadiyah, di Gampong Sangso, Kecamatan Samalanga, Kabupaten Bireuen.

Baca: Masjid di Samalanga Dibakar, Pemuda Muhammadiyah Aceh: Kami Minta Kapolda Mengusut Tuntas

Faisal Ali mengatakan, rencana pembangunan tersebut memang menuai reaksi dari masyarakat.

“Menurut informasi yang saya terima, masjid yang hendak dibangun itu terkesan tidak sama dengan masjid lainnya dimana masjid yang lain itu lazimnya masjid umum, tanpa ada pencantuman label organisasi,” katanya, Rabu siang.

Dengan pencantuman lebel  tersebut, kata Faisal Ali, masjid kerap dinilai berbeda dengan kultur umum di Aceh. “Kalau di Aceh masjid hanya diberi nama saja. Nama apa saja boleh, misal, masjid babussalam, namun tanpa mencantumkan lebel organisasi, karena hal itu akan mencolok dan masyarakat awam cenderung menilai itu terkesan eksklusif,” katanya.

Baca: Pembangunan Masjid Muhammadiyah Samalanga Memang Sedang Dalam Sengketa

Meski begitu, kata Faisal Ali, semua pihak hendaknya tetap mengedepankan cara-cara yang sesuai dengan kultur ke-Acehan, terutama bermusyawarah untuk mendapatkan solusi yang terbaik.

“Bangun komunikasi antara kedua belah pihak, baik itu pihak yang mendirikan masjid, maupun pihak masyarakat yang menyatakan tidak setuju dengan pendirian masjid, sebaiknya lakukan hal hal yang memang merupakan kearifan lokal Aceh selama ini,” kata Faisal Ali.

Baca: Muslim Ayub: Usut Segera Pembakar Rumah Ibadah Muhammadiyah di Bireuen

Faisal Ali juga mengatakan bahwa aksi pembakaran tersebut bukanlah pembakaran masjid. Menurut dia yang dibakar hanyalah sebuah balai tempat beristirahat pekerja pembangunan masjid. “Kalau orang Aceh bilang ‘rangkang’,” katanya.

Namun, kata Faisal Ali, memang ada dua tiang yang sedang dibangun yang juga terbakar. “Tapi bukan itu yang dibakar, yang dibakar itu bukan masjid,” katanya.

Rubrik

Komentar

Loading...