Viral Video Bus Rombongan Turis Malaysia Dihadang di Banda Aceh, Begini yang Terjadi Sebenarnya

Viral Video Bus Rombongan Turis Malaysia Dihadang di Banda Aceh, Begini yang Terjadi Sebenarnya

BERITAKINI.CO, Banda Aceh | Sebuah video viral di media sosial, khususnya Instagram tentang satu rombongan turis Malaysia yang disebut dihadang Indonesia Tourist Guide Association atau Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) Aceh. Salah satu akun Instagram yang mengunggah video tersebut adalah @tercyduckaceh.

“ PENGHADANGAN BUS PARIWISATA YANG MENGANGKUT TURIS ASAL MALAYSIA DI BANDA ACEH. Sekelompok orang yang mengaku dari “Indonesia Tourist Guide Association” dan mengaku asosiasi tersebut berada dibawah pemerintahan menghadang sebuah bus pariwisata yang mengangkut puluhan wisatawan asal malaysia saat masuk ke PLTD Apung Banda Aceh. Tidak diketahui kapan kejadian penghadangan ini. Beberapa pria yang mengaku dari asosiasi guide ini terlihat sengaja menunggu bus pariwisata dan menghadangnya. Hal ini sangat disayangkan karena dapat menurunkan jumlah wisatawan yang berkunjung ke aceh, sepertinya budaya “peumulia jamee adat geutanyoe” sudah tidak berlaku lagi di serambi mekkah ini.Atau sudah menjadi "pengusiran jamee adat geutanyoe."

Dikonfirmasi soal ini, Ketua HPI Aceh Didin Johan membenarkan bahwa salah satu orang yang ada dalam video itu adalah dirinya. “Itu terjadi pada 28 Juli 2019 lalu sekira pukul 10.00 WIB di kawasan objek wisata Kapal Apung, Punge Blangcut, Banda Aceh,” kata Didin pada BERITAKINI.CO, Selasa (30/7/2019). Namun Didin membantah jika hal itu disebut penghadangan.

“Dalam video seoalah-olah saya sedang marah, tapi bukan. Video tersebut sesungguhnya berdurasi 10 menit lebih dan jika dilihat secara utuh, maka akan diketahui itu bukanlah penghadangan,” katanya.

Apalagi, menurut Didin, pertemuan itu dilakukan dengan cara-cara yang baik dan sopan.

“Saya buka dengan salam dan memperkenalkan diri dengan sopan dan menjelaskan maksud dan tujuannya kedatangannya, dan bicara dengan wisatawan tersebut di dalam bus,” kata Didin.

Menurut dia, HPI menanyakan kepada pada pelancong tersebut siapa sesungguhnya yang Tour Leader (TL) yang membawa mereka ke Aceh. “Saat itulah yang direkam jadi seolah-olah saya sedang mengintrogasi,” katanya.

Padahal, kata Didin, maksud dan tujuan mereka hanya untuk menjelaskan kepada rombongan pelancong tersebut bahwa di Aceh ada asosiasi dan juga ada regulasi.

“Kita ingin menjelaskan kepada para pelancong, jika datang ke Aceh lagi, untuk dapat memakai travel dan TL atau pemandu dari Aceh agar kunjungan para wisatawan dan lokasi wisata yang dikunjungi menjadi tepat, dan dijelaskan juga secara tepat dan benar dan oleh orang yang tepat,” katanya.

Menurut Didin, para pelancong tersebut dapat mengerti dan mengiyakan serta menerimanya dengan senang hati.

Sebelumnya, kata Didin, mereka memang menerima adanya wisatan yang sedang melancong di Banda Aceh tersebut dari sopir bus yang membawa wisatawan itu.

“Sering juga sopir tersebut kami pakai jasanya, sopir tersebutlah yang menceritakan pada kami perjalanan membawa wisatwan kali ini bentrok terus-terusan dengan TL-nya. Karena rute yang disodorkan sangat berliku dan tidak runut,” ungkap Didin.

“TL yang orang Malaysia itu terkesan sok tahu dibandingkan dengan sopir yang asli orang Aceh yang sudah sering membawa wisatawan. Berawal dari informasi dari sopir itulah akhirnya kami mendatangi bus yang membawa rombong wisatawan tersebut yang sedang berada di kawasan wisata Kapal Apung,” katanya.

“Sebenarnya dalam peraturan tidak boleh TL merangkap sebagai wisatawan. Sementara paket wisata yang dilakukan oleh travel dari Malaysia ini semua dirangkap oleh mereka, dan ini tidak boleh, jika kita laporkan pada Imigarasi bisa ditangkap TL tersebut,” kata Didin.

Sebab pernah kejadian pelancong datang ke Aceh dengan memakai TL dari luar, dan yang terjadi pemandu tersebut menceritakan sejarah destinasi di Aceh tidak sesuai dengan fakta yang sebenarnya.

Rubrik

Komentar

Loading...