Tunnel Bantuan Pemerintah Aceh Terlantar, Petani Garam di Pidie Olah Bibit Garam Medan

Tunnel Bantuan Pemerintah Aceh Terlantar, Petani Garam di Pidie Olah Bibit Garam Medan

BERITAKINI.CO, Sigli | Tunnel garam di hamparan lahan produksi garam kawasan Cebrek, Kecamatan Simpang Tiga, Kabupaten Pidie terlantar.

Tunnel merupakan hasil transformasi sistem pengolahan garam tradisional ke proses yang lebih inovatif digunakan untuk meningkatkan produksi dan kualitas garam.

Ketua Asosiasi Petani Garam Kabupaten Pidie Hamzah mengatakan, terdapat dua tunnel yang dibangun di kawasan itu. Tunnel tersebut merupakan bantuan pemerintah pada 2019 lalu.

"Namun sangat disayangkan, tunnel yang dibangun dengan anggaran seratusan juta tersebut kini dalam kondisi terlantar," kata Hamzah, Senin (21/12/2020).

“Setelah dibangun, yang satu kelompok sama sekali tidak ada hasil, dan satu kelompok lainnya lagi sudah beberapa kali memproduksi, hanya selama 2020 ini belum pernah sekali pun."

Hamzah menilai, kehadiran tunnel tersebut belum memberikan dampak positif bagi 300 kepala keluarga yang menggantungkan hidup dari produksi garam di kawasan itu.

Kondisi tersebut diduga karena anggota kelompok tani penerima bantuan bukanlah petani yang selama ini bergelut di bagian produksi garam.

Seharusnya, kata Hamzah, dengan adanya tunnel itu meskipun dalam kondisi hujan, para petani tetap bisa produktif.

“Jika hujan seperti saat ini, petani terpaksa harus beli bibit garam dari Medan seharga Rp 110 ribu per karung untuk dimasak, dan sehari bisa dapat Rp 140 ribu hingga Rp 160 ribu,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Kalautan dan Perikanan Kabupaten Pidie Tarmizi mengatakan, program giomemran tunnel tersebut merupakan bantuan Pemerintah Aceh pada 2019 lalu.

Bahkan saat itu, pemerintah menargetkan pembuatan tunnel hingga 15 hektar.

"Namun dalam proses pendataan dan komunikasi dengan petani garam di daerah itu, para petani mengaku tidak menyukai sistem produksi garam dengan tunnel tersebut," katanya.

“Karena saat itu petani menyampaikan tidak suka sistem tunnel itu, sehingga tidak diberikan lagi."

Meski demikian, DKP Pidie tetap mengusul program pemberdayaan petani garam ke Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP).

Hal itu, kata Tarmizi, sembari meyakinkan petani untuk terus melakukan ivonasi dalam produksi garam.

“Sebelumnya pada 2020 lalu DKP Pidie pernah mengusulkan tapi belum terealisasi, namun kita akan terus berupaya semoga bisa diterima pada 2021 mendatang," katanya.

Editor
Rubrik

Komentar

Loading...