Tujuh Rute Penerbangan Perintis di Aceh Diusulkan untuk Dihapus

Tujuh Rute Penerbangan Perintis di Aceh Diusulkan untuk Dihapus
Pesawat Wings Air di Bandar Udara Rembele.(Foto: Internet)

BERITAKINI.CO | Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Kementerian Perhubungan merekomendasikan 10 rute penerbangan perintis untuk dihentikan.

Usulan ini menimbang berbagai aspek mulai dari pelayanan moda transportasi lain, baik darat, laut atau sungai, kapasitas, waktu tempuh, dan pelayanan rute penerbangan komersial. Selain itu, persentase realisasi frekuensi dan jumlah penumpang yang rendah juga menjadi pertimbangan pemberhentian rute tersebut.

"Terdapat 10 rute yang direkomendasikan untuk dihentikan," ujar Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Transportasi Antar Moda Kemenhub, Imran Rasyid di acara FGD 'Penelitian tentang Pelaksanaan Angkutan Udara Perintis Penumpang', di Jakarta, Jumat (23/11/2018).

Baca: Wings Air Tutup Penerbangan Kualanamu-Sabang

Dijelaskan, 10 rute penerbangan itu antara lain Nagan Raya-Singkil, Banda Aceh-Blangpidie, Blangpidie-Sinabang, Medan-Tapak Tuan, dan Medan-Blangpidie. Lalu, Medan-Gayo Luwes, Banda Aceh-Gayo Luwes, Sangata-Balik Papan, Palangkaraya-Kuala Pambuang, dan Kambuaya-Sorong.

Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Perhubungan Udara M. Alwi menjelaskan, rute perintis merupakan rute penerbangan ke pelosok daerah yang disubsidi oleh pemerintah melalui APBN. Ketersediaan infrastruktur darat yang telah dibangun pemerintah disebut menjadi salah satu alasan munculnya rekomendasi penghentian 10 rute tersebut.

"Salah satunya karena infrastruktur sudah terbangun sehingga bisa melalui jalur lain seperti darat," tuturnya.

Dikatakannya, rekomendasi penghentian 10 rute penerbangan ini akan diusulkan kepada Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi. Selain itu, akan direkomendasikan beberapa rute yang sebelumnya merupakan penerbangan perintis diubah menjadi komersial.

Rute itu di antaranya Banda Aceh-Nagan Raya, Sinabang-Nagan Raya, Banda Aceh-Kutacane, Palangkaraya-Muara Teweh, Palangkaraya-Puruk Cahu, Masamba-Seko, Waingapu-Ruteng Merauke-Ewer, Sorong-Inanwatan, Sorong-Teminabuan, Sorong-Werur, dan Timika-Dekai.

"Supaya alokasi subsidi bisa diberikan ke lokasi penerbangan perintis yang lain," kata Alwi.

Alwi mengungkapkan, anggaran subsidi untuk rute perintis ditetapkan sekitar Rp400 miliar per tahun. Anggaran ini dialokasikan untuk menyubsidi harga tiket pesawat perintis bagi masyarakat.

"Tahun depan tidak (berkurang anggaran). Karena dialokasikan ke wilayah yang lain," kata dia.

Berdasarkan survei Balitbang di 10 koordinator wilayah (korwil), juga ada beberapa wilayah yang direkomendasikan untuk tetap menjadi rute perintis. Di antaranya adalah semua penerbangan perintis di Korwil Ternate dan Korwil Dekai. Kemudian, Korwil Samarinda dengan rute ke Long Ampung, Datah Dawai, Muara Wahu, serta Datah Dawai-Melak.

Lalu, Korwil Palangkaraya dengan rute Kuala Kurun-Banjarmasin dan Buntok-Banjarmasin, Korwil Masamba dengan rute Seko-Rampi, Masamba-Rampi, Rampi-Palu, Seko-Tana Toraja, Korwil Waingapu dengan rute Kisar-Kupang, Atambua-Alor, Sabu-Waingapu, Sabu-Ende, Korwil Ternate dengan rute Ternate-Gebe, Ternate-Sanana, Sanana-Ambon, Gebe-Sorong, Korwil Sorong dengan rute Sorong-Ayawasi.

Masih berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Balitbang, angkutan udara perintis banyak digunakan oleh penumpang dengan rentang usia 21-35 tahun dan sebanyak 29 persen memiliki penghasilan di bawah Rp1 juta. Sebanyak 70 persen penumpang pun disebut hanya sanggup membayar tiket pesawat dengan rentang harga Rp200-400 ribu.

Rubrik
Sumber
viva.co.id

Komentar

Loading...