Tujuh Alasan Indonesia Belum Siap Terapkan Teknologi Mobil Autopilot

Tujuh Alasan Indonesia Belum Siap Terapkan Teknologi Mobil Autopilot

BERITAKINI.CO, | Mobil otonom atau mobil otomatis adalah teknologi yang dikembangkan secara cepat oleh para ilmuwan. Hampir semua perusahaan besar teknologi ikut berkecimpung dalam industri ini. Bahkan, Apple pun dikabarkan turun gunung untuk turut mencipta di industri mobil otonom. Startup-startup kecil yang mengembangkan kecerdasan buatan untuk mobil otonom mulai didanai juga oleh perusahaan besar untuk produknya.

Manfaat utama mobil otonom adalah soal harmonisasi lalu lintas. Pasalnya dengan diadopsinya teknologi ini secara luas, tentu macet akan hilang.

Namun layaknya mimpi, hal ini masih jauh untuk direalisasikan. Teknologinya memang sudah ada dan bahkan telah tersemat di beberapa produk mobil yang saat ini telah dijual. Namun sarana dan prasarana sangat tidak memadai.

Jangankan di Indonesia, di AS pun hal ini masih mustahil. Jadi, kapan teknologi ini terealisasi? Mari kita bahas.

Cuaca

Banyak sekali perusahaan mobil otomatis beroperasi di AS. Google dan Tesla yang menguji Tesla Autopilot software, semua dilakukan di California yang terkenal dengan cuacanya yang selalu hangat. Semua mobil otomatis ini belum pernah dicoba di salju atau hujan lebat.

Tentu di cuaca yang tak menentu, kondisi jalan pun tak menentu pula. Mobil belum tentu memiliki stabilitas yang sama ketika di jalanan licin di bawah kendali komputer.

Hingga saat ini, berbagai uji coba mobil otomatis selalu dilakukan dengan dua orang navigator yang tetap menjaga kemudi jika ada apa-apa. Jadi, di kondisi cuaca buruk mobil otomatis sama sekali belum bisa diandalkan.

Jalan Berlubang

Kita tentu sangat membenci lubang di tengah jalan yang seringkali tidak kita sadari dan pada akhirnya membuat motor atau mobil oleng. Di kondisi terburuk, jalan berlubang bisa sebabkan kecelakaan.

Hal ini juga masih jadi masalah terbesar bagi mobil otomatis. Mobil tanpa kemudi bisa deteksi jika ada kerucut atau konstruksi jalan yang resmi dan besar. Namun lubang-lubang di jalan yang kecil dan tak terdetaksi, tentu sistem navigasi masih abai. Ini akan jadi masalah di jalanan yang banyak dilalui kendaraan berat.

Hal ini bisa dilakukan dengan penguatan sensor, pengalihan mobil otomatis untuk tak melewati jalan yang dilalui truk, atau perubahan jalan ke sistem paving yang terkadang juga lubang atau bergelombang terkena akar pohon.

Jalan Tak Dikenal

Mobil otomatis masih sangat bergantung pada data yang disediakan oleh Google, ditambah dengan kondisi sekitar yang dideteksi lewat sensor LIDAR.

Nah, Google sendiri menggunakan informasi yang ia kumpulkan selama ini dari mobil pemindai, yang bisa membuat rute atau peta yang bisa dikendarai oleh mobil.

Mobil-mobil pemindai itu sendiri dikendarai oleh manusia, sehingga analisis jalan raya dilakukan dengan cermat. Hal ini bisa membuat rute yang baik bagi mobil otomatis.

Namun, rintangan bisa jadi muncul di tengah jalan ketika kita butuh ke suatu tempat yang informasinya tak tersedia oleh Google. Di AS saja, banyak jalanan yang belum teranalisa karena tingginya jumlah jalan dibanding waktu dan upaya yang tercurah. Terlebih lagi masih akan ada jalanan dan tol baru.

Belum lagi jika ada halangan di tengah jalan tanpa adanya konfirmasi ke pengguna, misalnya jalan ditutup karena event.

Perempatan

Jika Anda adalah pengemudi yang lihai, perempatan ramai tanpa adanya lampu lalu lintas atau polisi, pasti bisa Anda taklukkan meski kondisi sangat ramai dan tumpang tindih. Hal ini tentu sudah diprediksikan oleh para produsen mobil otomatis, namun hal ini bisa dijalankan dengan baik jika semua orang sudah menggunakan mobil otomatis.

Jika di jalan masih sangat banyak mobil dengan pengemudi manusia, komputer dengan berbagai sensornya yang canggih belum tentu bisa menangani ramainya perempatan sebaik manusia.

Deteksi Manusia

Salah satu masalah yang merundung para developer dan insinyur di teknologi mobil otomatis adalah soal deteksi manusia di jalan. Saat ini, mobil otomatis menaruh manuisia sebagai obyek bergerak. Jadi jika ada orang, mobil akan berhenti untuk mempersilakan orang tersebut lewat dan hal ini sangat aman bagi pejalan kaki.

Hal ini akan jadi masalah jika di jalan ada polisi lalu lintas, dan sang polisi dianggap sebagai benda random. Hal ini akan membuat mobil tak tunduk pada lalu lintas yang sedang diarahkan oleh polisi.

Hal ini juga akan jadi masalah di area konstruksi jalan atau gedung jika ada orang yang ikut mengatur lalu lintas agar tak konstruksi tak membawa petaka ke jalan.

Mobil otomatis pun sebenarnya juga masih belum tentu bisa membedakan apakah penghalan di jalan itu berbahaya atau tidak. Jika yang dideteksi adalah batu paving besar, tentu akan aman jika mobil berhenti. Namun jika yang dideteksi adalah sebongkah kertas yang tak berbahaya jika dilewati, akan sangat merepotkan jika mobil harus berhenti.

Ambulan

Soal objek di jalan yang masih susah diidentifikasi oleh mobil otomatis, ambulan akan jadi yang paling merepotkan. Pasalnya sirine ambulan didesain untuk reaksi manusia. Di kondisi gawat darurat hingga mobil-mobil di jalan harus memprioritaskan ambulan, mobil otomatis akan tetap meganggapnya mobil biasa.

Pemerintah

Salah satu masalah besar berkembangnya mobil otomatis adalah soal Pemerintah yang masih belum sadar jika teknologinya sudah ada di depan mata. Hal ini terlihat dari tak adanya pengembangan infrastruktur yang visioner untuk dilewati mobil otomatis di masa depan. Jangankan di negara dunia ketiga, di AS dan Eropa, hal ini masih belum juga terwujud.

Kebijakan haruslah dibuat oleh Pemerintah pusat, daerah, hingga kota dan kabupaten. Hal ini akan sulit diwujudkan jika tak ada sinkronisasi.

Rubrik
Sumber
merdeka.com

Komentar

Loading...