Ternyata Sudah Ratusan Sapi Milik Dinas Peternakan Aceh yang Mati di Saree

Ternyata Sudah Ratusan Sapi Milik Dinas Peternakan Aceh yang Mati di Saree

BERITAKINI.CO, Jantho | Sapi-sapi milik Dinas Peternakan Aceh yang dipelihara di UPTD Inseminasi Buatan dan Inkubator (IBI) Saree, Kabupaten Aceh Besar, dilaporkan mati satu per satu.

Bangkai-bangkai sapi itu pun dibuang di perbukitan tak jauh dari komplek IBI Saree yang berada di Dusun Teladan, Gampong Sukadamai, Kecamatan Lembah Seulawah, Aceh Besar itu.

Seorang petugas pemberi pakan ternak yang ditemui BERITAKINI.CO pada Selasa, 2 Juni 2020 lalu mengatakan, akumulasi kematian sapi telah mencapai ratusan, sejak 2017 lalu.

Setiap kali sapi yang ditemukan mati, bangkainya diangkut pakai traktor dan dibawa ke perbukitan tersebut.

Dalam sebulan terakhir, tak kurang dari 10 ekor sapi yang mati terdiri dari 7 ekor betina dewasa dan 3 anakan.

“Jadi penduduk sekitar lokasi pembuangan bangkai juga sudah mulai mengeluh lantaran aroma busuk yang ditimbulkan. Untuk mengubur bangkainya, tentu tidak sanggup menggali tanahnya,” kata petugas tersebut.

Plt Kasi Inkubator UPTD IBI Saree, Muslina pun tak menampik ihwal kematian sapi-sapi tersebut.

“Dengan kondisi seperti ini, yang mati jelas ada. Waktu lebaran kemarin juga ada mati,” kata Muslina didampingi Petugas Instalasi Ternak M Zaini, Petugas Inkubasi dan Pendataan Ternak, Nasrul dan Nurlaila, staf di sana.

Kondisi yang dimaksud Musliana tak lain adalah tentang kekurangan pakan.

“Keadaan sapi-sapi, terutama jenis Peranakan Ongole (PO), kekurangan makanan, khususnya konsentrat yang mengandung protein dan karbohidrat,” katanya.

Untuk total populasi sebanyak 392 ekor sapi dan kerbau, tambah M Zaini, dibutuhkan sebanyak 20 sak konsentrat per hari. “Persaknya isi 50 kilogram,” katanya.

Sementara sejak 21 Maret 2020, stok konsentrat telah habis. Terakhir mendapat pasokan konsentrat dari Dinas Peternakan Aceh adalah pada November 2019.

Selain konsentrat, sapi-sapi juga membutuhkan asupan makanan lainnya yakni fermentasi jerami. “Ini juga sudah habis,” sambung Muslina.

Sapi-sapi di peternakan UPTD IBI Saree | Foto: A. Putra

Praktis, selama dua bulan terakhir, ratusan ternak tersebut hanya mendapat konsumsi pakan hijauan yakni rumput.

“Jadi kebutuhan asupan gizinya tak terpenuhi, sehingga membuat kondisi sapi-sapi tersebut kurus,” kata Muslina.

Dia menambahkan, kebutuhan konsentrat sebetulnya sudah disampaikan kepada Dinas Peternakan Aceh.

“Tapi sepertinya terkendala soal dananya. Anggaran yang ada saja terkena refocusing akibat pandemi Covid-19. Ini yang mengganggu dalam rangka proses penggemukan sapi dan pembibitan sapi.”

Selain itu, kata Muslina, populasi sapi saat ini tak berbanding lurus dengan kapasitas instalasi. Karena itu, banyak sapi yang juga terpaksa tidak dikandangkan, sehingga terkena hujan dan panas.

Sapi-sapi di peternakan IBI Saree | Foto: A. Putra

“Terdapat juga beberapa sapi yang sudah overbodyweigh, khususnya jenis Limosin. Seharusnya sapi-sapi ini bisa dikeluarkan atau dijual, tapi belum ada payung hukum untuk itu,” ungkapnya.

Alhasil sapi-sapi tersebut menjadi beban bagi peternakan tersebut, terutama untuk mencukupi kebutuhan makannya.

“Sapi-sapi jenis ini membutuhkan makanan per hari minimal 10 persen dari berat badannya. Selayaknya sapi-sapi ini sudah keluar dari peternakan ini dan dijual dan menjadi PAD, lantas diganti dengan sapi anakan yang baru. Kami berharap ada payung hukum untuk ini," katanya.

Sudah Ratusan Sapi Mati

Keberadaan sapi di UPTD IBI Saree sebetulnya sudah ada sejak akhir 2016 lalu.

Petugas Inkubasi dan Pendataan Ternak UPTD IBI Saree, Nasrul mengungkapkan, pada Desember 2016, total ada 300 sapi jenis PO yang masuk ke IBI Saree, kemudian pada 2017 berturut-turut masuk sapi Bali 225 ekor, Limosin 50 ekor, Brahma 25 ekor, Simental 50 ekor, dan sapi lokal Aceh 18 ekor.

Ini artinya, ada sebanyak 668 ekor sapi yang masuk pada akhir 2016 dan 2017.

Sementara posisi saat ini, total populasi sapi di peternakan itu hanya sebanyak 387 ekor, terdiri dari 223 ekor sapi PO, 23 ekor Limosin, 34 ekor Simental, 22 Brahman, 63 sapi Bali, dan 13 sapi lokal Aceh.

Ini artinya, dari total jumlah pengadaan pada 2016 dan 2017, telah berkurang sebanyak 281 ekor sapi yang diduga telah mati. Itu belum termasuk anakan sapi yang lahir kemudian mati. | A. Putra, Muhammad Ramadan

Rubrik

Komentar

Loading...