Tak ‘Diberi’ Peran, Waled Husaini: Ta Duek Pip Pip Rukok Mantong di Kanto

Tak ‘Diberi’ Peran, Waled Husaini: Ta Duek Pip Pip Rukok Mantong di Kanto

BERITAKINI.CO, Banda Aceh | Aroma pecah kongsi antara Bupati Aceh Besar Mawardi Ali dan Wakilnya Tgk Husaini A Wahab kian menguat. Duet yang maju dengan tagline “pasangan putih” pada Pilkada 2017 lalu itu, kini diisukan tak lagi sejalan.

Mawardi Ali dinilai kerap mengesampingkan peran wakilnya yang dari kalangan ulama itu. Hal yang kemudian disebut-sebut membuat geram kalangan dayah yang merupakan salah satu basis mayoritas pendukungan pasangan tersebut pada kontestasi lalu.

Sinyalemen perpecahan ini memang sudah terang benderang. Tgk Husaini A Wahab atau yang sering disapa Waled Husaini menukilkannya juga dalam rapat paripurna beberapa waktu lalu. Ini persoalan peran minim sehingga dirinya terkesan seperti ban serap yang selalu disimpan.

“Jadi itu sesungguhnya sudah saya sampaikan dalam paripurna DPRK Aceh Besar beberapa waktu lalu,” katanya saat diwawancarai BERITAKINI.CO, Sabtu malam (27/7/2019).

“Karena saya nilai, paripurna itu adalah sidang terhormat dan tertinggi bagi legislatif, di mana anggota legislatif adalah wakil yang dipilih rakyat. Mereka dipilih oleh rakyat untuk mengawasi dan mengawal pemerintah.”

Karena itu, kata Waled Husaini, jika ada yang menanyakan kepadanya (soal hubungan dengan bupati), dia akan menjawab bahwa semua itu sudah disampaikan semua kepada wakil rakyat.

Dia sendiri tak mempersoalkan jika pun tak diberi peran. “Kita kerjakan yang bisa di kita lakukan. Jika ada tamu datang ke kantor, disampaikan assalamualaikum, kita jawab walaikumsalam. Jika ditanya seperti apa keadaan, kita jawab hana ta teu oh peugah (tidak tahu apa yang harus disampaikan),” katanya sambil tertawa.

Peu peu na di ateuh meja, nyan keh yang na. Ta duk pip pip rukok di kanto. (Yang ada di atas meja, hanya itulah yang tersedia. Selanjutnya, kita duduk-duduk sambil merokok).”

Ditanya soal seperti apa rencana kerja anggaran dan relasinya dengan pembangunan selama ini, Waled mengaku sama sekali tak mengetahuinya.

“Kalau ditanya soal penganggaran di Aceh Besar, saya tidak tahu karena memang tidak dikasih apapun. Hana buku bak lon (tidak ada dokumen apapun pada saya),” katanya

Namun Waled tak mempersoalkan jika memang dirinya tak diberi peran. "Saya tidak mau menzalimi orang, meski orang itu menzalimi saya,” katanya.

Ia pun sadar jika sebagai “ban serap” tentu tidak akan dipakai kalau memang masih ada ban utama.

Sementara Juru Bicara Pemerintah Aceh Besar Syukri Rahmat mengatakan relasi antara kedua kepala daerah itu sesungguhnya tetap harmonis, meski diisukan hubungan keduanya tengah retak.

Syukri tak menampik jika relasi antara kepala daerah memang sering menjadi sorotan.

“Bupati-bupati sebelumnya juga kita bisa lihat. Pak Bukhari misal, sampai pernah ingin mengundurkan diri,” kata Syukri.

Baca: Mawardi Ali Minta Angkasa Pura Hentikan Penerbangan Saat Lebaran, Huda Aceh Besar: Harusnya MPU Dilibatkan

Karena itu, menurut Syukri, hal itu adalah hal biasa dan merupakan dinamika dalam menjalankan tugas-tugas kepala daerah.

“Asal tidak mengganggu kerja-kerja pembangunan. Dan masing-masing kan sudah punya tupoksinya,” katanya Syukri.

Rubrik

Komentar

Loading...