Sudah 15 Tahun Warga Pidie ini Tinggal di Gubuk Bekas Tempat Penyimpanan Jerami

Sudah 15 Tahun Warga Pidie ini Tinggal di Gubuk Bekas Tempat Penyimpanan Jerami

BERITAKINI.CO, Sigli | Satu keluarga di Gampong Dayah Kampong Pisang, Kecamatan Glumpang Tiga, Pidie, harus rela tinggal di gubuk bekas tempat penyimpanan jerami.

Mereka adalah keluarga pasangan suami istri, Syakya (45) dan Ainsyah (42) serta tujuh orang anaknya.

Penghasilan yang tak menentu sebagai petani dan tukang panjat kelapa membuat pasangan suami istri ini harus puas tinggal di bangunan bekas tempat penyimpanan pakan ternak selama bertahun-tahun.

“Anak saya ada tujuh, di sinilah kami tinggal,” kata Syakya kepada BERITAKINI.CO sembari memperlihatkan kondisi kediamannya, Minggu (11/11/2018).

Bangunan berukuran 5X4 meter persegi tersebut kini mulai lapuk. Banyak lubang di sana-sini pada atap yang menggunakan daun rumbia. Begitu juga dengan kondisi dinding yang mulai rontok dimakan rayap.

Tidak ada kamar tidur dan ruang tamu layaknya rumah layak huni pada umumnya. Dua ranjang bambu yang berada dalam rumah tersebut, menjadi tempat tidur dan sekaligus tempat berkumpul keluarga mereka.

“Anak-anak juga belajar di sini,” sambung Syakya.

Tidak ada perabotan rumah tangga di dalam rumah berkontruksi kayu dan berlantaikan tanah itu. Yang ada hanya susunan kotak-kotak mie instan sebagai tempat menyimpan baju dan buku sekolah.

Saat musim penghujan, hampir seluruh barang basah karena terpapar air yang jatuh dari lubang atap yang bocor.

“Semantara kami tinggal di rumah adik, karena kebetulan mereka sedang tinggal di Meulaboh,” katanya.

Sulitnya ekonomi keluarga juga membuat anak pertama dan anak keduanya tidak melanjutkan pendidikan ke sekolah lanjutan tingkat pertama (SLTP). Padahal, dirinya terus mendorong anak-anaknya untuk bersekolah, agar kelak kehidupan mereka tidak seperti saat ini.

Diakuinya, Anggaran Pendapatan Belanja Kabupaten (APBK) Pidie dan uang di Baitul Mall setempat belum pernah dicicipi oleh keluarganya.

Syakya hanya bisa berharap mendapat perhatian dari pemerintah daerah agar dibangun rumah layak huni, agar tidak lagi kehujanan saat musim penghujan tiba.

“Ya berharap bisa dibangun rumah, karena untuk bantuan yang kami terima yakni dana PKH, bantuan beras sejahtera (Rastra) dan bantuan di sekolah Rp 250 ribu,” kata Syakya.

Rubrik

Komentar

Loading...