Studi Menyimpulkan, Janji Manis Mobil Listrik Tidak Sepenuhnya Benar

Studi Menyimpulkan, Janji Manis Mobil Listrik Tidak Sepenuhnya Benar
Mobil listrik menjanjikan biaya kepemilikan mobil yang lebih murah dibandingkan mobil konvensional. Foto/IST

BERITAKINI.CO | We Predict, perusahaan analis berbasis di Michigan, Amerika Serikat baru-baru ini merilis hal studi yang mengejutkan mengenai mobil listrik. Dalam analis berjudul Deepview True Cost Report itu disebutkan janji-janji manis mobil listrik ternyata hanya janji-janji belaka.

Salah satu janji-janji manis yang mereka tekankan adalah janji biaya kepemilikan yang lebih rendah dibanding mobil konvensional atau mobil dengan pembakaran internal. Dari hasil penelitian mereka ternyata selama 90 hari kepemilikan pertama mobil listrik dibutuhkan biaya sebesar USD123 atau setara Rp1,7 juta. Biaya itu lebih besar dibandingkan biaya kepemilikan pertama mobil konvensional yakni USD53 (Rp745.809) dan mobil hybrid yakni USD46 (Rp647.306).

Angka itu didapat We Predict dengan cara melakuan analisa pada mobil produksi 2021 di 21 segmen, termasuk 801.000 kendaraan di 306 model. Seluruhnya adalah gabungan mobil listrik, hybrid dan konvensional. Dari seluruh mobil itu, We Predict melakukan pemeriksaan terhadap 1,6 juta permintaan servis baik dari bengkel mobil resmi maupun non bengkel resmi.

Dari catatan servis itulah diketahui jika biaya kepemilikan pertama mobil listrik ternyata jauh lebih mengeluarkan uang dibandingkan jenis mobil lainnya. Salah satu yang membuat biayanya membengkak adalah sparepart impor yang dibutuhkan oleh mobil listrik. Ketersediaan jumlah sparepart bahkan sangat terbatas sehingga membuat harga sparepart jadi lebih mahal.

Hal ini jauh berbeda dengan sparepart mobil konvensional yang saat ini jumlah dan pelaku industrinya sudah sangat matang dan luas. Belum lagi masalah biaya jasa yang jauh lebih kompleks. Komponen mobil listrik memang lebih sedikit dibandingkan dengan mobil konvensional. Masalahnya adalah melakukan perawatan atau pergantian komponen mobil listrik membutuhkan skill khusus dibandingkan mobil konvensional. Hal itulah yang membuat biaya jasa mobil listrik jadi lebih mahal.

"Tidak hanya sparepartnya saja yang cukup mahal. Untuk mengganti komponen yang harganya cuma USD50 (Rp703.593) saja dibutuhkan waktu berjam-jam. Hal ini yang membuat ongkos perawatan jadi mengeluarkan banyak uang," jelas Rene Stephens, We Predict Vice President of North American.

Dalam analisa We Predict itu juga diketahui bahwa biaya jasa dan sparepart mobil listrik memang lebih mahal dari mobil konvensional dan hybrid. Harga sparepart mobil listrik rata-rata ada di harga USD65 (Rp914.671) sementara harga sparepart mobil konvensional di angka USD28 (Rp394.012) dan mobil hybrid di harga USD24 (Rp337.724).

Untuk biaya jasa, uang yang dibutuhkan oleh mobil listrik tetap jadi yang terbesar dibanding lainnya yakni USD58 (Rp816.168) sementara mobil konvensional dan hybrid di harga USD25 (Rp351.796).

"Umumnya mobil yang memiliki biaya servis yang lebih rendah pada tiga bulan kepemilikan akan memiliki biaya kepemilikan yang juga rendah di tiga tahun selanjutnya. Dari analisa kami, menunjukkan bahwa berbagai hal yang terjadi pada tiga bulan pertama kepemilikan mobil akan menggambarkan kondisi biaya kepemilikan pada tahun-tahun selanjutnya. Pasalnya kualitas kendaraan tidak akan membaik seiring usia kendaraan itu sendiri," terang James Davies, pendiri We Predict.

Dia mengatakan masalah ini sebenarnya akan membaik ketika industri mobil listrik benar-benar telah matang dimana seluruh ketersediaan sparepart lebih memadai. Termasuk kemampuan para mekanik dalam melakukan perawatan mobil listrik yang juga sudah mumpuni.

Hanya saja menurut mereka saat ini mobil listrik sudah banyak yang bertebaran. We Predict berharap pelaku mobil listrik juga melakuan akselerasi pada ketersediaan sparepart dan kualitas mekanik sehingga konsumen benar-benar merasakan janji-janji manis yang mereka tawarkan tentang mobil listrik.

Rubrik
Sumber
sindonews.com

Komentar

Loading...