Sosok di Balik Gayo Montain Cigar

Sosok di Balik Gayo Montain Cigar

SALMI adalah sosok pria pekerja keras, khususnya di sektor pertanian. Dia tidak hanya dikenal sebagai petani kopi, tapi bisa disebut sebagai master kopi.

Karena bukan hanya sekedar berbudidaya, tapi juga meneliti dan mengamati mulai dari jenis dan sifat tanah, juga jenis tanaman yang cocok ditanam di ketinggian sampai ke aroma dan rasanya.

Karena keahliannya itu, pemilik Kafe Galeri Kopi di Kampung Kayukul, Kecamatan Pegasing, Kabupaten Aceh Tengah, ini pun kerap dipanggil menjadi narasumber di bidang budidaya dan pasca panen.

Belakangan, Salmi mulai penasaran dengan tanaman tembakau, yang dibudidayakan di Kabupaten Aceh Tengah, Bener Meriah, dan Gayo Lues.

Seperti diketahui, menanam tembaku memang sudah menjadi kebiasaan petani di tiga kabupaten itu.

Di Kabupaten Aceh Tengah, bahkan, tanaman tembakau adalah komoditi unggulan yang selalu ditanam oleh petani sepanjang musim secara bergantian dengan tananam lain.

Tembakau dapat dipanen pada umur 70 hari dan masa panen bisa sampai umur 7 bulan bahkan setahun.

Hasil tanaman tembakau pada saat ini sangat membantu perekonomian petani tembakau pada umumnya.

Petani tembakau pada umumnya menjual tembakau rajangan jenis tembakau hijau, coklat, kuning gelap, kuning keemasan (lose) dan putih yang dijual ke Medan, Banda Aceh, dan Pidie Jaya dengan jumlah permintaan yang terbatas.

Oleh sebab itulah petani tembakau menanam tanaman tembakau dengan jumlah lahan yang sedikit karena khawatir hasil panen tidak tertampung.

Oleh sebab itulah Salmi mencoba menampung sebagian hasil panen mereka di samping di sendiri ikut membudidayakan tembakau, sebagai bahan penelitiannya  dan sebagian di jual dengan bentuk tembakau rajangan.

Untuk mendapatkan nilai tambah dari hasil tanaman tembakau, pada 2018, Salmi mencoba untuk membuat cerutu.

Cerutu yang dibuat Salmi bahannya  diambil dari berbagai jenis tembakau yang ada di Aceh Tengah.

Cerutu yang dibuatnya diberikan kepada kenalan dan pengujung kafe secara cuma-cuma. Ternyata cerutu buatan Salmi mendapat peminat yang bagus di masyarakat, dengan ramuan/racikan khasnya.

Pada 2019 cerutu buatan Salmi mulai di pesan dari berbagai daerah sampai ke Pulau Jawa, namun Salmi belum memberikan merk ke cerutunya.

Karena peminatnya terus bertambah dan mendengar saran dari Dinas Pertanian dan Perkebunan Aceh  juga  Dinas Pertanian Kabupaten Aceh Tengah yang selalu memberikan dorongan serta motivasi terhadap pengembangan Cerutu Gayo agar dibuat merek dan dilegalkan dengan cara mendaftarkan ke Bea Cukai  untuk mendapatkan pita cukai, Salmi punh mengurusnya.

Untuk mendapatkan pita cukai perlu proses mengurus izin-izin yang dibutuhkan, akhirnya pada Juli 2020 Gayo Mountain Cigar mendaftar ke Kantor Pengawasan Bea dan Cukai Lhokseumawe.

Gayo Mountain Cigar harus memenuhi beberapa persyaratan lagi untuk mendapatkan NPPBKC mulai dari permohonan kemudian izin-izin yang diperlukan dan bangunan untuk produksi/pabrik dengan ukuran 200 M2 dan setelah para pihak cukai mengecek lokasi dan persyaran lainnya.

Hingga pada Agustus 2020 Nppbkc  Gayo Mountain Cigar diserahkan kepada Salmi oleh Kakanwil dan Kantor Pengawasan Bea dan Cukai Lhokseumawe Mengundang  Tiga Dinas yaitu dinas Pertanian, Perindustrian dan perdagangan, Dinas Perijian dan permodalan Kabupaten Aceh Tengah pada acara penyerahan NPPBKC tersebut.

“Setelah mendapatkan pita cukai masih menjalani beberapa tahap lagi dalam hal ini kami mohon dukungan sepenuhnya dari berbagai pihak Terutama Dinas Pertanian Dan Perkebunan Aceh yang untuk tahun 2021 bersedia membantu pembangunan laboratorium dan pembangunan demplot tanaman tembakau,” harap Salmi.

Salmi juga mengucapkan terimakasih kepada Kepala Bidang Perbenihan, Produksi dan Perlindungan Perkebunan Dinas Pertanian dan Perkebunan Aceh Ir. Cut Huzaimah, MP, dan Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Aceh Tengah yang telah membantu dan membina  usaha cerutu gayo mountain cigar.[]

Komentar

Loading...