Soal Pilkada 2024, Komisi I DPRA: Jangan Anggap Sepele Kekhususan Aceh, Rakyat Bisa Marah

Soal Pilkada 2024, Komisi I DPRA: Jangan Anggap Sepele Kekhususan Aceh, Rakyat Bisa Marah

BERITAKINI.CO, Banda Aceh | Ketua Komisi I DPRA Tgk M Yunus mengingatkan pemerintah dan para elit di pusat tak menganggap sepele kekhususan Aceh.

Pemerintah diminta lebih menghargai kekhususan yang merupakan hasil perjuangan orang Aceh tersebut.

"Jangan anggap sepele kekhususan ini, nanti orang Aceh marah," kata M Yunus merespon sikap dan keinginan pemerintah dan para elit di pusat yang ingin pilkada digelar sesuai UU Nomor 10 Tahun 2016 Tentang Pilkada yakni secara serentak pada 2024.

Yunus menegaskan bahwa Undang-Undang Pemerintah Aceh (UUPA) adalah undang-undang Republik Indonesia yang dibuat DPR dan pemerintah.

“Jadi UUPA bukanlah regulasi setara permendagri, itu yang harus dipahami,” katanya.

UUPA, kata Yunus, sudah menjelaskan bahwa pemilihan gubernur/wakil gubernur, bupati/wakil bupati, dan wali kota/wakil wali kota dilaksanakan selama lima tahun sekali.

Ini artinya, terdapat sebanyak 20 kabupaten/kota, ditambah provinsi, yang terakhir menggelar pilkada pada 2017, harusnya melaksanakan pemilihan pada 2022 nanti.

Yunus juga menegaskan bahwa pelaksanaan pilkada pada 2022 tak bertentangan dengan Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2016 Tentang Pilkada.

Justru sebaliknya, pelaksanaan pilkada sejalan dengan aturan dalam regulasi itu.

Pasal 199 UU Pilkada, kata Yunus, menyatakan bahwa pemilu serentak 2024 berlaku untuk semua daerah, tidak terkecuali Aceh, Papua, Papua Barat, DKI, Yogyakarta, kecuali diatur dengan undang-undang khusus.

"Aceh mempunyai undang-undang khusus. Karena itu, jika Aceh menggelar Pilkada 2022, maka itu tidak bertentangan dengan Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2016 tersebut," katanya.

Yunus juga menyarankan kepada elit-elit di pusat untuk berhenti mengeluarkan statement-statement yang menyakiti hati orang aceh.

"Aceh perang sudah dua kali dan kita dapatkan UUPA ini dengan perjuangan, bukanlah sebuah hadiah, jadi jangan ada lagi statemen yang menyakitkan itu," katanya.

Editor
Rubrik

Komentar

Loading...