Setelah 13 Menit ‘Singa’ Lepas Landas

Setelah 13 Menit ‘Singa’ Lepas Landas
Pesawat Lio Air beregister PK-LQP yang jatuh di Karawang. (Foto : Dok Lion Air)

BERITAKINI.CO | Pesawat Lion Air rute Jakarta-Pangkalpinang jatuh di Karawang. Sebanyak 189 orang berada di perut pesawat dan belum ada tanda-tanda korban ditemukan selamat.

Sabudi sedang memegang kemudi perahu tempelnya ketika melihat pesawat berkelir merah itu terbang tidak stabil di atas laut Karawang, Jawa Barat. Sekitar lima detik matanya menatap pesawat di kejauhan itu. Nelayan Desa Tanjung Pakis, Kecamatan Tanjung Jaya, Karawang, itu pun memberi tahu Gaok Samin mengenai pesawat yang terbang oleng tersebut.

“Itu kenapa pesawat kayak miring-miring?” ujar Sabudi kepada teman melautnya, Gaok Samin, “Ah biasa itu mah, paling juga mau biluk (berbelok),” ujarnya menirukan Samin kepada detikX di Tanjung Pakis kemarin. Sabudi adalah saksi mata jatuhnya pesawat Lion Air JT 610 di perairan Karawang pada Senin, 29 Oktober 2018, pagi.

Bagi nelayan di kawasan pantai utara Karawang seperti Sabudi, melihat pesawat terbang di atas laut memang sudah biasa. Pesawat-pesawat itu biasanya berjalan memutar di atas kepala mereka. Karena itu, Sabudi dan Samin tidak heran dan kembali mencari udang pada pagi sekitar pukul 06.30 WIB itu.

Tidak berapa lama, telinga keduanya mendengar bunyi dentuman keras. Kepulan asap lantas terlihat di permukaan air laut sebelah timur. Warnanya putih dan kehitaman. Namun tak terlintas sedikit pun di benak Sabudi maupun Samin bahwa bunyi mirip bom dan kepulan asap itu berasal dari pesawat yang sebelumnya mereka lihat.

Menurut Sabudi, kepulan asap itu berjarak ratusan meter dari perahunya. Ia mengira asap itu berasal dari kapal barang yang memang sering melintas di antara perahu-perahu nelayan. Sedangkan bunyi dentuman itu, ia menduganya sebagai petir karena cuaca pagi itu mendung dan berkabut. Hujan cukup deras pun mengguyur setelah terdengar suara dentuman.

“Saya masih 2 jam berada di lokasi untuk mencari ikan,” kata Sabudi.

Sementara Sabudi dan Samin belum menyadari ada pesawat jatuh di dekat keduanya, di Jakarta, sekitar pukul 06.50 WIB, Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) menerima laporan dari menara Air Traffic Control (ATC) Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten, bahwa pesawat Lion Air JT 610 rute Jakarta-Pangkalpinang hilang kontak pada pukul 06.33 WIB.

Menurut informasi ATC, dua menit setelah lepas landas dari Cengkareng pada pukul 06.20 WIB, pilot Lion Air beregister PK-LQP, Kapten Bhavye Suneja, menginformasikan ada masalah flight control dalam penerbangannya. Sang pilot pun meminta mendarat kembali (return to base) ke Bandara Cengkareng kepada petugas ATC. Namun, setelah itu, pesawat tidak bisa dihubungi. Posisi terakhir berada di koordinat 05.46.15 Lintang Selatan dan 107.07.16 Lintang Timur atau di atas perairan Karawang.

Basarnas pun langsung memeriksa alat Medium Earth Orbit Local User Terminal (MEOLUT). Alat tersebut berfungsi menangkap sinyal darurat dari emergency local transmitter (ELT) yang ditanam pada pesawat udara. ELT Lion Air JT 610 masih teregistrasi dengan benar, masa berlakunya masih sampai Mei 2023, dan sertifikatnya masih valid. Namun Basarnas tak menangkap sinyal ELT Lion Air.

Kemudian, berbekal koordinat terakhir hilangnya pesawat, peta pun digelar. Lokasi itu berjarak 34 nautical miles dari kantor Basarnas. Dari Pelabuhan Tanjung Priok sekitar 25 nautical miles. Sedangkan dari Tanjung Pakis sekitar 11 nautical miles. “Jadi tidak terlalu jauh. Kami mendapat informasi pesawat itu lost contact di ketinggian 2.500 kaki,” kata Kepala Basarnas Marsekal Madya TNI Muhammad Syaugi, Senin, 29 Oktober.

Basarnas kemudian mengerahkan tiga kapal dan satu helikopter untuk mencari pesawat Lion Air JT 610. Sedangkan jumlah personel yang diterjunkan 130 orang. Tim Basarnas bergerak menuju titik lokasi terakhir diperkirakan pesawat itu hilang. Basarnas akhirnya menemukan serpihan-serpihan pesawat yang berjarak sekitar 2 nautical miles arah selatan dari koordinat awal.

Namun, sebelum Basarnas tiba, di lokasi ternyata sudah ada kapal patroli Pertamina Hulu Energi (PHE) Offshore North West Java. Kapal itu datang mengecek setelah sejumlah petugas anjungan terperangah melihat pesawat terbang rendah dan hendak jatuh. Saat itu juga, PHE menghubungi Polisi Air Udara. Sekitar pukul 07.30 WIB, mereka menemukan serpihan pesawat dan barang penumpang di atas laut.

Sekitar pukul 08.00 WIB, Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) mendapatkan laporan dari pihak Lion Air mengenai kejadian hilang kontak salah satu pesawatnya. KNKT langsung membentuk command center. Setelah itu, KNKT melakukan koordinasi dengan Lion Air, Basarnas, AirNav Indonesia, Dirjen Perhubungan Laut Kementerian Perhubungan, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Pelindo II, otoritas Pelabuhan Tanjung Priok, dan lainnya.

Ketua KNKT Soerjanto Tjahjono membentuk tim investigator. Tim ini diberangkatkan menuju Pelabuhan Muara Baru, Jakarta Utara. Tim berkoordinasi dengan BPPT untuk menggunakan kapalnya, Baruna Jaya IV, dalam mencari lokasi jatuhnya pesawat Lion Air. Kapal milik BPPT ini diperlukan karena memiliki peralatan Multi Beam Sonar.

Pada pukul 09.35 WIB, Basarnas sudah memastikan pesawat Lion Air itu jatuh di atas perairan Karawang. “Sudah A-1,” kata Kepala Humas Basarnas Yusuf Latif. Sekitar pukul 10.00 WIB, Ketua KNKT dan Kepala Basarnas menggelar konferensi pers mengenai tragedi jatuhnya pesawat Lion Air JT 610 tersebut.

Soerjanto mengatakan pesawat Lion Air JT 610 masuk jajaran armada Lion Air sejak Agustus 2018. Jam terbangnya baru sekitar 800 jam. Jumlah penumpang pesawat nahas itu 178 orang dewasa, 1 anak-anak, dan 2 bayi. Sedangkan kru pesawat berjumlah delapan orang sehingga jumlah total yang berada di dalam perut pesawat itu 189 orang. Hingga saat itu, belum ditemukan tanda-tanda penumpang yang selamat.

“Kami atas nama pemerintah mengucapkan belasungkawa sedalam-dalamnya atas musibah ini. Mudah-mudahan apa penyebabnya bisa kita temukan segera,” ucap Soerjanto.

Jatuhnya pesawat Lion Air yang sarat penumpang membuat keluarga korban dan masyarakat terkesiap. Kementerian Perhubungan lantas membuka crisis center di Terminal 1-B Bandara Soeta dan Pangkalpinang sekitar pukul 10.30 WIB. Pihak Lion Air pun menerbangkan keluarga korban secara bergelombang dari daerah ke Jakarta.

Di Pelabuhan Tanjung Pakis, yang kemudian menjadi salah satu posko Basarnas, suasana tak kalah gemparnya saat kabar pesawat jatuh itu menyebar. Sabudi dan Samin, yang pulang dan mendarat di pelabuhan sekitar pukul 09.00 WIB karena tak mendapat ikan, kaget bukan kepalang. Sabudi baru menyadari bahwa pesawat yang sempat dilihatnya itulah yang ternyata jatuh ke laut.

Ia lantas dimintai bantuan untuk mengantar Kapolres Karawang, Camat Tanjung Jaya, Lurah Tanjung Pakis, dan beberapa personel tentara kembali ke lokasi dan memastikan adanya tragedi itu. Benar saja, setiba di lokasi, Sabudi melihat aneka serpihan pesawat, benda-benda penumpang, serta potongan tubuh manusia sedang dievakuasi tim SAR. “Andai sebelumnya saya tahu itu pesawat jatuh, saya langsung mendekat ke sana,” katanya.

Rubrik
Sumber
Detik.com

Komentar

Loading...