Sedot APBK Miliaran Rupiah, Proyek Irigasi di Aceh Barat Belum Berfungsi

Sedot APBK Miliaran Rupiah, Proyek Irigasi di Aceh Barat Belum Berfungsi

BERITAKINI.CO, Meulaboh | Dibangun menggunakan APBK dan menelan anggaran miliaran rupiah, proyek peningkatan saluran irigasi di Desa Cot Punti, Kecamatan Woya Timur, Kabupaten Aceh Barat, hingga saat ini belum bisa dimanfaakan oleh masyarakat.

“Jaringan irigasi itu dibangun tahun 2016 dan terbengkalai,” kata Koordinator Gerakan Anti Korupsi (GeRAK) Aceh Barat, Edy Syahputra, Jumat (28/9/2018).

Dari data dokumen pelelangan, kata Edy, pembangunan jaringan irigasi Alue Diam menghabiskan anggaran sebesar Rp 2,2 miliar melalui satuan kerja Dinas Cipta Karya dan Pengairan.

Berdasarkan laporan masyarakat dan penelusuran GeRAK, kata Edy, terdapat beberapa item yang tidak tuntas dibangun. Sehingga saluran air tidak berfungsi untuk mengairi sawah warga.

Akibatnya, kata Edy, seratusan hektar lahan persawahan produktif di Kecamatan Woyla Timur, kesulitan air saat musim tanam.

“Sangat sedikit petani yang turun ke sawah di musim tanam gadu 2018 ini, padahal 85 persen warga di sana bermata pencaharian sebagai petani,” ujar Edy.

Lebih lanjut dikatakan, GeRAK Aceh Barat menemukan pengalokasian anggaran untuk proyek irigasi Alue Diam di tahun 2018. Pemkab kembali menganggarkan Rp 300 juta untuk proyek yang sempat terhenti tersebut.

“Kita menyambut baik atas kelanjutan pembangunan irigasi yang mangkrak tersebut agar dapat dipergunakan kembali oleh warga. Namun, kita ingin kejelasan soal proyek mangkrak yang diawal pembangunannya sudah menghabiskan dana dengan pagu anggaran sebesar Rp 2,2 miliar,” kata Edy.

Selain saluran irigasi, GeRAK Aceh juga menyorot pembangunan jembatan gantung penghubung Gampong Cot Punti dan Gampong Panton, yang dibangun pada tahun 2017 dengan anggaran Rp 2,7 miliar melalui satuan kerja Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPPD) Kabupaten Aceh Barat.

Selesai dibangun, kata Edy, jembatan ini malah mengancam keselamatan warga. Kondisi ini dipicu pembangunan abutment di kedua ujung jembatan dengan panjang 140 meter dan lebar 120 meter tersebut tidak sempurna.

“Proyek ini juga tidak selesai dibangun. Warga menumpuk karung berisi pasir di bagian abutment agar dapat dilintasi,” kata Edi.

GeRAK Aceh Barat, sambung Edy, mendorong penegak hukum untuk melakukan pengusutan terhadap kedua proyek mangkrak tersebut.

“Kita juga meminta legislatif dan eksekutif Aceh Barat untuk lebih serius melakukan perencanaan pembangunan, mengingat miliaran uang negara telah dianggarkan dan diperuntukan untuk kemaslahatan umat,” kata Edy. | AIDIL

Rubrik

Komentar

Loading...