Relasi Buruk Eksekutif-Legislatif di Tengah Malapetaka, Humam Hamid: Sudah Banyak Rezim yang Dihajar, Jangan Pancing Kemarahan Rakyat

Relasi Buruk Eksekutif-Legislatif di Tengah Malapetaka, Humam Hamid: Sudah Banyak Rezim yang Dihajar, Jangan Pancing Kemarahan Rakyat
Guru Besar dan Sosiolog Universitas Syiah Kuala Prof. Dr. Ir Ahmad Humam Hamid MA

BERITAKNI.CO, Banda Aceh | Eksekutif-legislatif handaknya sadar dan segera melakukan kompromi. Aceh tengah dihadapkan dengan malapetaka yang tak biasa.

“Ini bukan seperti flu, atau demam berdarah,” kata Guru Besar dan Sosiolog Universitas Syiah Kuala Prof. Dr. Ir Ahmad Humam Hamid MA saat diminta tanggapannya soal relasi eksekutif-legislatif di tengah pandemi, baru-baru ini.

Huham Hamid mengibaratkan hubungan eksekutif dengan legislatif layaknya suami-istri dalam sebuah rumah tangga.

“Terus saja berantem, tapi setiap tahun anaknya bertambah, namun di saat-saat sedang marahan, segala umpatan ditumpahkan,” katanya.

Situasi ini, kata Humam, harus segera diakhiri. Pemerintah Aceh dan DPRA harus segera kompromi, dan menetapkan prioritas untuk fokus menangani pandemi.

“Saat ini kita sedang menghadapi malapetaka yang paling besar yaitu Covid-19 dan ini bukan penyakit biasa,” katanya.

Covid-19, kata Humam, bahkan berpotensi bermutasi dengan memunculkan jenis penyakit lain.

Naudzubillah, kita harap itu tidak terjadi, para ahli mengatakan Covid-19 ini akan berakhir paling cepat dua atau tiga tahun, itupun kalau bisa, dan kehidupan pun akan berubah total, tidak serupa lagi seperti sebelum Covid-19,” katanya.

Itulah sebabnya, kata Humam, elit harus bisa mengesampingkan perselisihannya.

“Hentikan itu semua, karena modal perang melawan pandemi hanya ada satu: persatuan,” katanya.

Sebaliknya, jika elit tetap mempertahankan ego sektoralnya, Humam mengingatkan agar nantinya tidak menyalahkan rakyat jika mengambil jalannya sendiri.

“Bisa saja terjadi kegaduhan, banyak sekali rezim yang dihajar oleh rakyat ketika mereka salah," katanya.

Human menukilkan sejarah di London, Inggris beberapa abad silam.

Di mana karena pemerintahnya salah mengurus pandemi, telah memicu kemarahan rakyat kepada para elit.

"Sehingga penduduk desa, para petani masuk dan membakar Kota London, sehingga memunculkan kegaduhan dan banyak yang mati dalam kerusuhan tersebut, hanya gara-gara salah urus pandemi, dan ini bisa saja terjadi di tempat kita, rakyat bisa saja marah kepada elit,” kata Humam.

Selanjutnya, kata Humam, agar mendapat simpati publik, saat ini para elit harus berani mengakui kesalahan, akui kelemahan, dan akui keliru menangani Covid-19 selama ini.

“Tunjukan kalau mereka mengerti tentang pandemi, ancaman dan dampak sosial ekonomi yang ditimbulkan, seperti ekonomi rakyat yang tidak lancar, sekolah yang terganggu, pelayanan kesehatan non covid yang terganggu dan tidak terurus, semuanya harus diurus oleh pemerintah dengan sangat-sangat terintegrasi, jangan sampai semuanya tidak terurus. Jika tidak terurus maka ini bahaya sekali."

Pemerintah dengan segudang sumber dayanya, kata Humam, bisa memaksimalkan apa saja.

“Mereka misalnya, harus mempunyai kelompok para ilmuwan untuk bekerjasama, sehingga setiap keputusan yang diambil harus berbasis ilmu pengetahuan kata,” kata Humam.

Beberapa kebijakan, seperti proyek multi years, tak ada salahnya untuk dihentikan.

"Bukan tidak penting, lihat dulu untuk kebutuhan lain seperti untuk pendidikan, kesehatan, untuk ekonomi rakyat, dan itu harus dihitung lagi, itu jalan bisa dibuat besok, orang mati tidak bisa dihidupkan lagi, begitu loh," kata Humam.

"Jadi jangan terlalu dipaksa proyek multi years tersebut, dengan segala ancamannya, itu kampungan sekali."

Rubrik

Komentar

Loading...