Refocusing APBA, Darwati A Gani: Jangankan Masyarakat, Dewan Pun Tak Tahu untuk Apa Dibelanjakan

Refocusing APBA, Darwati A Gani: Jangankan Masyarakat, Dewan Pun Tak Tahu untuk Apa Dibelanjakan
Darwati A gani

BERITAKINI.CO, Banda Aceh | Penularan Covid-19 di Aceh belum juga bisa dikendalikan. Kendati Pemerintah Aceh memiliki dukungan anggaran berlimpah.

"Covid-19 semakin hari kian memprihatinkan. Pertumbuhan kasus harian sangat tinggi, dan secara kumulatif kini Aceh telah mencatat 1.599 kasus infeksi," kata anggota DPRA Darwati A Gani saat menyampaikan interupsinya atas ketidakhadiran Plt gubernur Aceh dalam sidang paripurna dengan agenda Penyampaian Rancangan Qanun Tentang Pertanggungjawaban Pelaksanaan APBA 2019, Senin (31/8/2020).

Darwati pun menilai belum ada langkah signifikan yang dilakukan Pemerintah Aceh menangani penularan virus tersebut.

"Pengalaman beberapa hari yang lalu keluarga kami ada yang positif Covid-19. Tapi lambat sekali mendapatkan hasil pemeriksaan. Hasil keluar tanggal 31 Juli, tapi baru disampaikan pada tanggal 3 Agustus 2020," katanya.

Bisa dibayangkan, lanjut Darwati, aktivitas mereka yang terinfeksi tersebut.

"Meski merasa sudah sembuh, dia bisa kemana-mana dan bisa menularkan kepada orang lain. Dan fenomena ini banyak terjadi di Aceh," katanya.

Sangat disayangkan, lanjut Darwati, dana hasil penyesuaian APBA 2020 (kerap disebut dana refocusing) yang difokuskan untuk penanganan Covid-19  tak diketahui ke mana saja dibelanjakan.

"Katanya Rp 1,7 triliun, bahkan telah menjadi Rp 2,3 triliun, tapi tak diketahui ke mana saja dibelanjakan," kata Darwati.

"Jangankan masyarakat awam, kami anggota DPRA saja tidak tahu."

Namun belakangan, lanjut Darwati, sempat mencuat ke publik bahwa sebagian dana penyesuaian APBA justru digunakan untuk pawai motor gede, namun batal karena telah heboh di media sosial.

"Saya berharap, dana tersebut benar-benar difokuskan untuk penanganan Covid-19, seperti membeli alat swab test karena memang alat tersebut akan terus digunakan," katanya.

Sebab, kata Darwati, saat ini fenomena yang terjadi sangat lah miris.

"Sekarang kita sangat miris mendengar hasil pemeriksaan itu baru bisa diketahui setelah dua minggu. Lalu terdapat pasien suspek yang meninggal dan dikuburkan tanpa protokol Covid-19 lantaran hasil pemeriksaan spesimennya belum keluar. Tapi setelah dimakamnya, hasil keluar dengan konfirmasi positif terinfeksi. Ini harus menjadi perhatian Pemerintah Aceh," katanya.

Darwati juga menyoroti program Gebrak Masker Aceh yang menurutnya akan menggerakkan seluruh SKPA ke 23 kabupaten/kota.

"Ini tentu akan menghadirkan massa yang banyak di daerah-daerah. Sehingga memperbesar potensi penularan di tengah masyarakat. Sebagian kita memang bisa menerapkan protokol kesehatan, tapi bisa kita bayangkan masyarakat di daerah, belum tentu bisa berlaku sesuai seperti yang kita harapkan," katanya.

Rubrik

Komentar

Loading...