Proyek Jembatan Handel Rp 10 Miliar 2019 di Aceh Singkil Tak Rampung

Proyek Jembatan Handel Rp 10 Miliar 2019 di Aceh Singkil Tak Rampung
Satu pilar Jembatan Handel, Desa Rimo, Kecamatan Gunung Meriah, tak kunjung rampung, Minggu (1/3/2020).

BERITAKINI.CO, Singkil | Proyek pembangunan Jembatan Handel, di Desa Rimo, Kecamatan Gunung Meriah, Kabupaten Aceh Singkil tahun anggaran 2019, tak juga rampung hingga saat ini.

Proyek dengan item pembangunan yakni dua abutment (kepala jembatan) dan dua pilar (struktur pendukung bangunan atas jembatan) itu dikerjakan PT Pulosarok dengan nilai kontrak Rp 9,99 miliar lebih bersumber dari DOKA 2019.

Kontrak ditandatangani pada Juli 2019 lalu. Namun, hingga berakhir kontrak, proyek itu tak juga rampung.

Baca: Dua Rekanan Gagal Selesaikan Proyek Jembatan Senilai Rp 20 Miliar di Aceh Singkil

Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Aceh Singkil lantas memberikan tambahan waktu atau adendum kepada rekanan selama 50 hari sejak kontrak berakhir atau hingga 20 Februari 2020.

Tapi lagi-lagi, hingga 2 Maret 2020, proyek ini tak kunjung selesai.

Adapun salah satu pekerjaan yang tak selesai adalah pembuatan pilar.

Kepala Dinas PUPR Aceh Singkil, Erwin Syahputra membenarkan jika proyek tersebut tak juga rampung hingga saat ini.

"Kalau tidak salah, setelah 50 hari kesempatan itu, atau sampai 20 Februari lalu, memang pekerjaan itu belum rampung 100 persen,” katanya.

Namun Erwin mengatakan, hal itu bukan lantaran rekanan tidak bekerja. Molornya realisasi proyek itu, kata Erwin, karena faktor alam yakni ketinggian permukaan air.

“Sehingga tidak bisa melakukan pengecoran pilar tersebut,” katanya.

Dalam masa adendum, kata Erwin, cuaca juga tidak bersahabat di mana volume air di sungai itu juga relatif tinggi.

Tapi setelah melihat perkembangan di lapangan saat ini, kata dia, pihaknya sangat yakin pekerjaan tersebut diperkirakan selesai sekitar 5 hari kedepan.

"Sehingga kami sepakat dilanjutkan agar pengerjaan proyek lanjutan tahun anggaran 2020 senilai Rp 6 miliar bisa segera dimulai dan tidak ada masalah di kemudian hari," katanya.

Atas keterlambatan itu, kata Erwin, pihaknya juga akan memberlakukan mekanisme denda terhadap rekanan.

Sejauh ini, kata Erwin, pembayaran pekerjaan tahap ketiga juga belum dilakukan yakni senilai Rp 3,17 miliar.

"Intinya menurut kami, dilanjutkan pengerjaan itu jauh lebih bermanfaat dari pada harus dihentikan," katanya.

Rubrik

Komentar

Loading...