Protes Meletus di Seluruh Spanyol Gara-gara Penangkapan Seorang Rapper

Protes Meletus di Seluruh Spanyol Gara-gara Penangkapan Seorang Rapper
Seorang demonstran melarikan diri dari petugas polisi selama bentrokan setelah protes mengutuk penangkapan penyanyi rap Pablo Hasél di Barcelona, Spanyol, Rabu (17/2/2021). (AP PHOTO/EMILIO MORENATTI)

BERITAKINI.CO | Ribuan pengunjuk rasa turun ke jalan di kota-kota Spanyol pada Selasa malam (16/2/2021) hingga Rabu (17/2/2021).

Melansir DW, para demonstran menuntut pembebasan seorang rapper yang ditangkap oleh polisi atas serangkaian unggahan di Twitter dalam kasus kebebasan berbicara yang kontroversial.
Sebelumnya, polisi dengan perlengkapan anti huru hara menyerbu sebuah universitas 150 kilometer (90 mil) di barat Barcelona pada Selasa pagi.

Operasi itu dilakukan untuk menangkap rapper Pablo Hasel, yang telah membarikade dirinya di dalam kampus untuk menghindari penjara.

Kemudian pada hari itu, sekitar 2.000 orang berunjuk rasa di pusat Barcelona melambaikan spanduk dan plakat bertuliskan: "Kebebasan untuk Pablo Hasel."

Kekacauan di Barcelona

Sejumlah pengunjuk rasa membakar tong sampah, membentuk barikade jalanan, dan melemparkan batu, botol, dan petasan ke arah polisi. Mereka meneriakkan slogan-slogan seperti "Matilah rezim Spanyol."

Rekaman video di Twitter juga menunjukkan polisi menyerang pengunjuk rasa yang melemparkan sejumlah obyek ke arah mereka. Polisi mencoba membubarkan kerumunan, dalam beberapa kasus menggunakan tongkat dan proyektil asap.
Beberapa toko dan bank dirusak. Termasuk kantor polisi di Ibu Kota Catalan juga dirusak, dengan sejumlah jendela pecah dan cat semprot di dinding.

Kepolisian daerah Catalan Mossos d'Escuadra mengatakan di Twitter pengunjuk rasa membakar sepeda motor dan tempat sampah, membuat barikade dan memblokir jalan-jalan di Barcelona. Sebanyak 14 orang demonstran telah ditangkap pihak keamanan.

Bentrokan di kota lain

Insiden serupa terjadi di Lleida di mana rapper itu ditangkap. Ratusan demonstran terlihat bentrok dengan polisi. Aksi bakar tempat sampah hingga sepeda motor polisi juga dilakukan menurut laporan penyiar Spanyol RTVE.

Demonstrasi yang lebih kecil diadakan di kota timur Valencia dan Palma de Mallorca. Rekaman online menunjukkan perselisihan antara polisi dan pengunjuk rasa di Valencia.

Polisi mengatakan pengunjuk rasa juga terlibat dalam bentrokan di kota utara Girona. Sementara rekaman di Twitter menunjukkan bentrok antara segelintir polisi dan pengunjuk rasa di kota timur Valencia.

Penangkapan Pablo Hasel

Sebelumnya konfrontasi terjadi selama 24 jam antara polisi dan rapper Pablo Hasel dan berakhir Selasa pagi. Tepatnya setelah petugas anti huru-hara menyerbu gedung rektorat Universitas Lleida dan menangkap artis tersebut.

Dia dan lebih dari 50 pendukungnya mengunci diri di dalam universitas di wilayah timur laut Catalonia Spanyol pada tengah hari sejak Senin (16/2/2021).

Rapper berusia 32 tahun, yang bernama lahir Pablo Rivadulla Duro, dikirim ke penjara, di mana ia akan menjalani hukuman selama 9 bulan.

Hasel sudah pernah dihukum pada 2018, karena menghina monarki dan mengagungkan terorisme.

Inti dari masalah ini adalah serangkaian kicauannya di Twitter yang menyebut mantan raja Juan Carlos I sebagai bos mafia. Dia juga menuduh polisi menyiksa dan membunuh para demonstran dan migran.

Hasel diberi waktu hingga Jumat malam lalu (12/2/2021) untuk menyerahkan diri dan mulai menjalani hukumannya. Kepada kantor berita AFP pada Jumat dia mengatakan tidak berniat untuk menyerah.

"Saya menolak untuk pergi atas kemauan saya sendiri ... jadi mereka harus datang dan menculik saya, yang akan menunjukkan keadaan apa adanya: demokrasi palsu."

Dia dikawal keluar dari gedung setelah sekelompok pendukungnya bentrok sebentar dengan polisi dalam aksi anti huru hara.

"Mereka tidak akan pernah membuat kami menyerah, meski ada penindasan," teriak Pablo Hasel saat penangkapan. Tinjunya terangkat saat dia dibawa keluar dari gedung.

"Ini adalah negara fasis yang menangkap saya. Kematian bagi negara fasis!" serunya.

Rapper ini dikenal karena pandangan sayap kiri dan kasusnya yang telah menarik perhatian di Spanyol. Sejumlah kritikus menyebut penuntutannya sebagai serangan berbahaya terhadap kebebasan berbicara.

Dia sebelumnya menghadapi dakwaan setidaknya empat kali karena penyerangan, memuji kelompok ekstremis bersenjata, membobol tempat pribadi, atau menghina keluarga kerajaan.
Pada 2014, Hasel dijatuhi hukuman penjara 2 tahun yang kemudian ditangguhkan. Tetapi dalam kasus baru yang diadili pada 2018, dia dijatuhkan hukuman sembilan bulan. Dengan tuntutan terkait lagu-lagu tentang mantan raja Spanyol dan sekitar 64 kicauannya di Twitter antara 2014 dan 2016.
Kritikus mengecam "serangan terhadap kebebasan berbicara"

Ratusan artis, selebriti, dan politisi telah menyatakan dukungan mereka untuk Hasel. Mereka menuntut perubahan negara itu yang disebut "Hukum Gag".

Penangkapannya juga dikecam oleh Amnesti Internasional. Organisasi hak asasi manusia itu menyebut pemenjaraan karena lirik lagu dan kicauan Twitter dari sang rapper "tidak adil dan tidak proporsional."

"Penahanan Pablo Hasel adalah pembatasan yang berlebihan dan tidak proporsional pada kebebasan berekspresi. Tetapi dia tidak sendirian menderita akibat dari hukum yang tidak adil," tulis LSM itu di Twitter.

Partai kiri Podemos, mitra junior dalam pemerintahan koalisi minoritas Perdana Menteri Spanyol Pedro Sanchez, juga mengkritik penangkapan Hasel.

"Semua orang yang menganggap diri mereka progresif dan membanggakan 'normalitas demokrasi penuh' (Spanyol) harus malu. Tidak ada kemajuan jika kami menolak untuk mengakui kekurangan demokrasi kami yang ada," tulisnya di Twitter.

Rubrik
Sumber
Kompas.com

Komentar

Loading...