Pria Ternyata Lebih Gampang Terpengaruh Berita Buruk

Pria Ternyata Lebih Gampang Terpengaruh Berita Buruk
Ilustrasi

BERITAKINI.CO, Jakarta | Berita sadis, hoax, dan hasutan kebencian terhadap suatu suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA) kini sering muncul di mana-mana, terutama di media sosial.

Banyak orang yang menanggapinya secara emosional, bahkan tak sedikit yang kemudian menghapus penyebarnya dari daftar pertemanan. Reaksi itu wajar saja terjadi. Sebab, jika berita buruk itu dipaparkan berulang kali, ternyata bisa mengakibatkan gangguan kejiwaan.

“Jika tontonan, bacaan, dan gambar itu muncul secara detail dan berulang, akan melibatkan pusat emosi di otak, akan diingat, dan satu waktu, jika sudah kecanduan, dapat menjadi perilaku,” ujar spesialis kesehatan jiwa, Lina RM.

Dampaknya jelas bisa berbagai macam, bergantung pada bagaimana seseorang menyikapinya dan seberapa besar ketahanan mentalnya. “Semua itu bisa dikorelasikan dengan korban. Dan suatu saat juga bisa menjadi pelaku. Tergantung seberapa berat pengalaman tersebut dialami,” kata lulusan spesialis kesehatan jiwa Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia tahun 2005 ini.

Salah satu hal yang bisa dilakukan adalah menghindari. Misalnya menghindari berita dan materi bacaan yang bisa membuat tertekan atau merasa tidak nyaman, atau mencekam. Orang bisa menjadi cemas dan takut seolah mengalami peristiwanya, jantung berdebar, hingga berkeringat.

Anak-anak rentan mengalami dampak bacaan atau tontonan buruk itu. Menurut Lina, ini karena pola pikir mereka masih dalam tahap perkembangan. “Ketahanan mental dan kepribadiannya belum terbentuk,” ucap Lina. Selain itu, karena memiliki hormon androgen dan testosteron, pria lebih ekspersif dan agresif terhadap dampak buruknya dibanding wanita. “Perubahan emosi dan perilakunya lebih kelihatan pada pria,” katanya.

Menghindari berita yang mengandung unsur negatif itu tak sulit. Paling tidak ada empat cara menghindarinya, seperti yang disarankan Lina.

Pertama, pengawasan dan pemantauan terhadap berita dan bacaan yang mengandung unsur negatif dengan cara memblokir atau menyensornya. Kedua, melaporkan berita negatif mengikuti peraturan perundangan. Ketiga, tidak menguraikan detail dan mencari bagian-bagian yang menarik untuk diberitakan. Keempat, meningkatkan komunikasi, informasi, dan edukasi di keluarga agar tidak terpengaruh ketika terpapar dengan peristiwa negatif.

Rubrik
Sumber
Tempo.co

Komentar

Loading...