PNS Terduga Teroris yang Ditangkap Densus 88 di Langsa Dikenal Tertutup

PNS Terduga Teroris yang Ditangkap Densus 88 di Langsa Dikenal Tertutup
Rumah salah satu terduga teroris di Langsa

BERITAKINI.CO, Banda Aceh | SB, terduga teroris yang ditangkap di Gampong Sidolali, Kecamatan Langsa Lama, Kota langsa merupakan sosok yang tertutup dalam kesehariannya.

Kendati sudah selama sepuluh tahun menetap di Gampong Sidolali, dia diketahui jarang bersosialisasi.

Lihat: Satu PNS Terduga Teroris yang Ditangkap Densus 88 di Langsa Ternyata Bendahara MAA Aceh Timur

"Dia orang tertutup, rapat desa tidak pernah ikut," kata Geuchik Sidolali Salahudin kepada BERITAKINI.CO, Sabtu, (23/1/2021).

Begitu juga dengan semua angota keluarganya yang juga hidup tak bermasyarakat.

"Tidak pernah berinteraksi dengannya, istrinya juga sama, tidak mau gabung dengan masyarakat di sini," katanya.

Seharusnya, kata Salahudin, usai SB ditangkap, keluarganya bisa melapor kepada perangkat desa, minimal untuk klarifikasi.

“Namun ini tidak ada sama sekali. Harusnya mereka ke sini, agar nanti pemberitaan di masyarakat ada keseimbangan, harus ada klarifikasi, kita menunggu, tapi tidak ada satu pun yang datang," ujarnya.

Bahkan, kata Salahudin, sangking tertutupnya, pihaknya tidak menyimpan satupun nomor ponsel yang bisa dihubungi.

"Bahkan nomor saja kita tidak punya, masyarakat di sini juga sama, jarang ada yang mempunyai nomor beliau dan keluarganya,"katanya.

Menurut Salahuddin, keluarga dari SB tinggal berdampingan dalam satu pekarangan.

"Mereka tinggal berkedakatan, sebelah-sebelahan rumahlah, satu pekarangan," ujarnya.

Ia mengakui sejak kejadian tersebut, banyak warga desa yang merasa ketakutan terlebih warga yang mempunyai jenggot.

"Semalam banyak yang datang, warga yang berjenggot, mereka ketakutan, karena mereka hampir sama penampilannya dengan pelaku itu," katanya.

Ditanyai mengenai komunitas ngaji dari SB, Salahuddin membenarkan adanya komunitas tersebut, namun komunitas tersebut biasa saja dan bergaul dengan masyarakat.

"Saya lihat komunitasnya biasa saja, bergaul juga, namun SB ini memang tertutup," katanya.

Menurutnya, pengajian yang diikuti SB bukanlah pengajian yang berkedudukan di desa, namun pengajian yang sering berpindah tempat.

"Pengajiannya itu bukan di desa saya, tempatnya sering berpindah-pindah," katanya. | Rio Syahrany

Rubrik

Komentar

Loading...