PN Lhoksukon Nyatakan Tak Berwenang, Terdakwa Pencabulan Anak Terpaksa Dituntut 'Ulang' Pakai Qanun Jinayat

PN Lhoksukon Nyatakan Tak Berwenang, Terdakwa Pencabulan Anak Terpaksa Dituntut 'Ulang' Pakai Qanun Jinayat
Terdakwa Juanda

BERITAKINI.CO, Lhoksukon | Polisi kembali menangkap Juanda (25), warga Kecamatan Baktya, Aceh Utara, terdakwa kasus pemerkosaan anak di bawah umur.

Dia ditangkap persis saat baru dibebaskan dari Lapas Kelas IIB Lhoksukon, Jumat (4/10/2019).

Selama ini Juanda mendekam di sel tahanan karena sedang menjalani proses hukum di Pengadilan Negeri (PN) Lhoksukon.

Dia dijerat dengan UU Perlindungan Anak sehingga proses hukumnya berlangsung di peradilan umum.

Tapi kuasa hukum Juanda, Herliana dalam esepsinya menyatakan keberatan jika kliennya dijerat dengan UU Perlindungan Anak, terutama karena Aceh memberlakukan Qanun Aceh Tentang Hukum Jinayat. Seperti diketahui, dengan qanun ini, para pelanggar syariah lazimnya dihukum cambuk.

Majelis Hakim PN Lhoksukon ternyata menerima keberatan kuasa hukum terdakwa tersebut.

Berdasarkan petikan putusan sela yang diperoleh BERITAKINI.CO, PN Lhoksukon menyatakan tidak berwenang mengadili perkara itu sehingga memerintahkan Penuntut Umum melimpahkannya ke Mahkamah Syariah Lhoksukon.

Hakim juga memerintahkan terdakwa dibebaskan dari tahanan.

Perintah itu dijalankan Lapas Kelas IIB Lhoksukon dengan membebaskan Juanda dari sana.

Penuntut umum yang telah berkoordinasi dengan kepolisian, langsung melakukan penangkapan.

Juanda pun akan dijerat dengan Qanun Aceh tentang Hukum Jinayat, yang peradilannya akan digelar di Mahkamah Syariah.

Sementara Herliana yang dikonfirmasi membenarkan jika kliennya kembali ditangkap polisi.

“Iya, baru satu menit dia keluar dari tahanan, langsung dikepung oleh personil kepolisian,” katanya, Kamis malam (4/10/2019).

Adapun kasus pemerkosaan ini terjadi pada Juni 2019 lalu.

Baca: Dalih Ingin Kembalikan HP, Pria Aceh Utara ini Setubuhi Gadis 15 Tahun di Belakang Rumahnya

Juanda dilaporkan menyetubuhi gadis berinisial IR yang tak lain adalah tetangganya.

“Pelaku melakukan perbuatannya di belakang rumah korban sekitar pukul 01.00 WIB,” kata Kasat Reskrim Polres Aceh Utara saat itu dijabat Iptu Rezki Kholidiansyah, Sabtu, 22 Juni 2019.

Kata Rezki, kasus ini berawal saat pelaku menghubungi korban dengan dalih ingin mengembalikan handphone (HP) yang disitanya.

“Seminggu sebelum kejadian tersebut, korban dipergoki oleh pelaku sedang bersama teman prianya, saat itu Juanda menyita HP korban untuk tanda damai,” kata Rezki.

Usai menghubungi korban, Juanda kemudian mendatangi rumah korban dan menuggunya di belakang rumah.

“Awalnya korban tidak mau keluar dan mengatakan jika ada yang mau dibicarakan sebaiknya lewat telepon saja. Pelaku terus memaksa korban dan akhirnya korban keluar menjumpainya,” kata Rezki.

Ketika IR sudah berada di luar rumah, pelaku kemudian melakukan aksi bejatnya sambil mengeluarkan nada ancaman.

“Pelaku mengatakan jika korban mau memenuhi permintaanya, maka HP-nya akan dikembalikan dan masalah korban yang kepergok bersama laki-laki akan selesai,” kata Rezki.

Kasus ini terungkap setelah korban mengadukan hal yang dia alaminya kepada abangnya yang berada di Banda Aceh. Mengetahui hal yang menimpa adiknya, keluarga korban pun melaporkan pelaku ke Polre Aceh Utara.

Atas perbuatannya, pelaku dijerat Pasal 81 Ayat 2 Jo Pasal 82 ayat 1 dari UU RI No 35 Tahun 2014 Tantang Perubahan atas UU No 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak.

Rubrik

Komentar

Loading...