Plang Sita di Lahan yang Diduga Diserobot PT Delima Makmur Dicopot

Plang Sita di Lahan yang Diduga Diserobot PT Delima Makmur Dicopot

BERITAKINI.CO, Singkil | Plang sita yang sempat dipasang penyidik Polda Aceh di lahan seluas 2.576 hektar di Desa Biskang, Situbuh-tubuh, Situban Makmur, Kecamatan Danau Paris, kini telah dicabut.

Proses pelepasan plang sita itu berlangsung Selasa, 15 September 2020 lalu. Hadir antara lain Kajari Aceh Singkil M Husaini, perwakilan Polda Aceh, perwakilan Kejati Aceh, dan manajemen PT Delima Makmur.

Humas PT Delima Makmur Rahmatullah membenarkan bahwa plang sita tersebut telah dicopot dari lokasinya.

Dia mengatakan, proses hukum yang selama ini berjalan telah selesai.

Lihat: Sita 2.576 Hektar Lahan dan Tetapkan Direksi PT Delima Makmur Sebagai Tersangka, Mahasiswa Apresiasi Polda Aceh

“Namun surat keputusan hasil proses hukum tersebut belum sampai ke saya," katanya, Jumat (18/9/2020).

Rahmatullah mengatakan, sepengetahuannya proses hukum tersebut tak sampai ke pengadilan.

"Sepengetahuan saya sih proses lidik dan sidik, artinya kalau ditemukan bukti-bukti, kan di proses ke persidangan , ini kan tidak ada, makanya mungkin diberhentikan," katanya.

Sementara Kajari Aceh Singkil M Husaini juga membenarkan pencabutan plang tersebut. "Benar sudah dicabut semua plang sitaan, kehadiran kita kemarin hanya menyaksikan," katanya.

Menurut dia, proses hukum tersebut sudah selesai di tingkat Kejati Aceh.

"Seperti apa kongkritnya, Kejati Aceh yang bisa menjawab karena penanganan perkaranya di sana, tentu kewenangannya di sana," kata Husaini.

Bergulir di Polda Aceh

Seperti diketahui, dugaan penyerobotan lahan negara yang dilakukan PT Delima Makmur ini sempat bergulir di Polda Aceh.

Penyidik Polda Aceh bahkan sempat menetapkan direktur PT Delima Makmur sebagai tersangka penyerobotan hak atas tanah di Desa Biskang, Situbuh-tubuh, Situban Makmur, Kecamatan Danau Paris itu.

Kasus ini sebelumnya dilaporkan Safaruddin Tanjung Bin Khairuddin Tanjung, warga Gosong Telaga Selatan, Kecamatan Singkil Utara, ke Polda Aceh pada 12 April 2018.

Setelah penetapan tersangka, kasus itu pun bergulir ke Kejati Aceh.

Lihat juga: Penyerobotan Lahan di Singkil, Polisi Tetapkan Direktur PT Delima Makmur Sebagai Tersangka

Sementara Syafaruddin Tanjung yang dikonfirmasi mengaku hingga saat ini belum mengetahui dasar pencabutan plang sitaan itu.

"Kami juga belum mengetahui, jangankan putusan, perkembangan perkaranya juga kami tidak tahu," katanya kepada BERITAKINI.CO, Jumat (18/9/2020).

"Tiba-tiba sudah putus dan dihentikan. Kami juga sebetulnya bertanya-tanya ini atas keputusan itu.”

Rubrik

Komentar

Loading...