Persaingan AS dan China Tembus Hingga ke Luar Angkasa

Persaingan AS dan China Tembus Hingga ke Luar Angkasa

BERITAKINI.CO, | Lima belas tahun lalu Beijing sudah memulai perburuan senjata antisatelit. Sekarang, senjata ini bisa mengancam armada orbit militer Amerika Serikat. Senjata canggih di pangkalan militer China dapat menembakkan hulu ledak yang menghancurkan satelit dan dapat menembakkan sinar laser yang berpotensi merusak rangkaian sensor halus.

Dan serangan siber China dapat memutuskan Pentagon dari kontak dengan armada satelit yang melacak pergerakan musuh, menyampaikan komunikasi di antara pasukan, dan memberikan informasi untuk penargetan yang tepat dari senjata pintar.

Di antara masalah keamanan nasional terpenting yang sekarang dihadapi Presiden Joe Biden adalah bagaimana menghadapi ancaman yang ditimbulkan China terhadap militer Amerika di luar angkasa.

Pemerintahan Biden belum menunjukkan apa yang akan dilakukan terhadap warisan kebijakan Donald Trump di bidang ini: Space Force (Pasukan Luar Angkasa), cabang baru militer yang dikritik karena memakan anggaran besar dan dapat memicu perlombaan senjata baru yang berbahaya.
“Ada kesadaran baru bahwa sistem luar angkasa kita cukup rentan,” jelas pejabat Pentagon era Obama, Greg Grant, dikutip dari The New York Times, Senin (25/1).

Tujuan perlindungan tersebut untuk menghadirkan Amerika di orbit yang begitu tangguh sehingga, seberapa besar serangan itu, sistem akan tetap berfungsi dengan baik membantu militer memproyeksikan kekuatan musuh dan serangan balik luar angkasa. Sistem itu juga bisa mencegah serangan Beijing sejak awal.

Menteri Pertahanan AS yang baru terpilih, Lloyd J. Austin III, pekan lalu mengatakan kepada Senat, dia akan tetap fokus mempertajam "keunggulan kompetitif" AS melawan militer China yang semakin kuat.

Dia menyerukan langkah baru Amerika dalam membangun "platform berbasis ruang angkasa" dan berulang kali menyebut ruang angkasa sebagai domain perang.

“Luar angkasa sudah menjadi arena persaingan kekuatan besar,” jelasnya, menyebut China sebagai ancaman paling signifikan di masa depan.

Kebangkitan Beijing

Pemerintahan baru menunjukkan keinginannya untuk memanfaatkan inovasi para pengusaha bidang teknologi luar angkasa untuk memperkuat militer – yang disebut Austin sebagai “kemitraan dengan entitas ruang angkasa komersial”. Pemerintahan Obama dan Trump sama-sama mengadopsi strategi itu sebagai cara unik Amerika untuk meningkatkan keunggulan militer.

Para pengawas persenjataan menilai Space Force meningkatkan ketegangan global dan memberi Beijing alasan untuk mempercepat ancamannya. Pengawas lainnya berpendapat hal itu dapat meningkatkan kemungkinan perang.

Selama bertahun-tahun, China mempelajari militer Amerika, terutama terkait invasi ke Afghanistan pada 2001 dan Irak pada 2003. Keberhasilan di medan perang dinilai berakar pada dominasi ruang angkasa. Para perencana mencatat ribuan bom yang diarahkan satelit dan rudal jelajah telah menghujani pasukan Taliban dan pertahanan Irak dengan sangat tepat.

Sementara keunggulan Pentagon dalam aset orbital merupakan ancaman bagi China.
"Mereka melihat bagaimana AS memproyeksikan kekuatan," jelas Todd Harrison, seorang analis luar angkasa Center for Strategic and International Studies.

China, lanjutnya, memandang sebagian besar kekuatan AS itu tidak dipertahankan.

China memulai uji antisatelitnya pada 2005. Saat itu China menembakkan dua rudal dalam dua tahun dan pada 2007 berhasil menghancurkan satelit cuaca yang mangkrak. Beijing kembali melakukan puluhan tes, termasuk yang hulu ledaknya ditembakkan jauh lebih tinggi, yang secara teori membahayakan sebagian besar kelas pesawat ruang angkasa Amerika.

Pada 2005, China mulai memasukkan serangan dunia maya ke dalam latihan militernya, terutama dalam serangan pertama terhadap jaringan musuh. Doktrin militernya meningkatkan seruan untuk melumpuhkan serangan awal.

Pada 2008, peretas menguasai satelit pencitraan sipil bernama Terra yang mengorbit rendah, sejenis pesawat pengintai militer selama dua kali.

Pejabat luar angkasa tidak hanya terganggu oleh gerakan dan senjata China. Sejarah modern militer Amerika berpusat pada pembangunan aliansi global. Beijing bergegas maju sebagai penyendiri yang agresif, dan banyak perwira khawatir Washington terlalu tertutup dan dibebani dengan tanggung jawab perjanjian pembangunan koalisi dan pengendalian senjata untuk bereaksi dengan cepat.

“Orang Cina memulai dari awal,” jelas analis veteran perang ruang angkasa, Paul S Szymanski, dalam sebuah jurnal Angkatan Udara.
China, lanjutnya, tidak terhalang oleh tradisi ruang angkasa.

Reaksi Washington

Dalam periode kedua pemerintahannya, Obama mempublikasikan "strategi penyeimbang" untuk menanggapi China dan ancaman lainnya dengan memanfaatkan keunggulan teknologi Amerika.

AS mengembangkan persenjataan nuklir, senjata pintar, dan mempercepat perakitan robotika, senjata berkecepatan tinggi, dan terobosan lain yang dapat memberdayakan angkatan bersenjata.

Kemajuan di luar angkasa harus bersifat defensive. Bagi Obama, lompatan inovatif harus dilakukan untuk kekuatan luar angkasa Amerika.

Pemerintahan Obama menerapkan filosofi komersial ke NASA, mengubah badan antariksa itu menjadi penyandang dana utama melalui cabang usahanya. Cabang usaha NASA akan mengumpulkan miliaran dolar untuk pengembangan roket dan kapsul pribadi untuk membawa astronot ke orbit.

Militer bergabung. Penerima manfaat termasuk Elon Musk, pendiri Tesla, dan Jeff Bezos, pendiri Amazon. Perusahaan luar angkasa mereka - SpaceX milik Musk dan Blue Origin milik Bezos - berusaha mengubah peluncur roket dari barang bekas menjadi barang daur ulang, sehingga menghemat biaya.

Pejabat militer percaya sistem baru ini akan memungkinkan penggantian satelit dengan cepat pada saat perang.

Tahun lalu, pemerintahan Trump meminta Kongres untuk memulai program senjata antariksa, dengan anggaran diperkirakan mencapai ratusan juta dolar.

Pejabat Trump menggambarkan langkah mereka sebagai tanggapan tidak hanya terhadap kemajuan Beijing tetapi juga rencana China. Pada 2019, Badan Intelijen Pertahanan Pentagon memperingatkan China tampaknya mengerahkan generasi baru laser yang sangat kuat yang dapat menyala pada pertengahan dekade ini, menempatkan kelas baru satelit Amerika dalam risiko.

Para pengamat mengatakan pemerintahan Biden mungkin mempertahankan Space Force, yang mendapat dukungan bipartisan di Kongres.

Gerakan China

Selama tiga tahun berturut-turut, China menembakkan lebih banyak roket ke luar angkasa dibandingkan negara lain. Para analis menilai China saat ini kekuatan yang mendominasi.

Pada Juni, ilmuwan China melaporkan kemajuan baru dalam menggunakan fisika kuantum untuk membangun apa yang tampaknya menjadi hubungan informasi pertama yang tidak dapat dipecahkan di dunia antara pesawat yang mengorbit dan pengontrolnya. Sinar laser membawa pesan tersebut. Pengujian tersebut meningkatkan prospek suatu hari Beijing bisa jadi memiliki jaringan super aman untuk komunikasi global.
Pada bulan yang sama, China selesai mengerahkan 35 satelit navigasi terakhir, penyelesaian jaringan generasi ketiga bertujuan untuk memberikan ketepatan baru bagi militernya dalam melakukan serangan luar angkasa.

Daerah pegunungan dan gurun yang terjal di barat laut memiliki kompleks bangunan berjajar rapi dengan atap besar yang bisa terbuka ke langit. Baru-baru ini, analis mengidentifikasi situs itu berada di wilayah Xinjiang sebagai salah satu dari lima pangkalan militer yang lasernya dapat menembakkan sinar cahaya terkonsentrasi ke satelit pengintai Amerika, dapat menonaktifkan sensor optik mereka.

Rubrik
Sumber
merdeka.com

Komentar

Loading...