Peredaran Minyak Mentah Marak di Aceh Timur, Penegakkan Hukum Dipertanyakan

Peredaran Minyak Mentah Marak di Aceh Timur, Penegakkan Hukum Dipertanyakan
Daihatsu Grand Max BL 9305 CH diduga mengangkut drum minyak mentah, terguling ke parit di kawasan Birem Bayeun, Jumat (29/11/2019).

BERITAKINI.CO, Langsa | Tindakan penegakan hukum terhadap peredaran minyak mentah diduga ilegal di Aceh Timur, dipertanyakan.

"Minyak mentah mulai marak beredar kembali. Di mana penegakkan hukum? Apakah sudah legal minyak ini," kata Manager Program Komunitas Rumoh Aceh, Sukma M Thaher, Minggu (1/12/2019).

Menurutnya, sejak ledakan sumur minyak milik warga di Kecamatan Rantau Peureulak beberapa waktu lalu, polisi telah menetapkan sejumlah tersangka atas aksi menambang minyak ilegal itu.

Lantas, kini peredaran minyak mentah tersebut marak kembali dan belum terlihat upaya untuk menertibkannya.

Pantauan pihaknya, kata dia, selama ini banyak sekali mobil pick up jenis L-300 dan mobil bak terbuka lain, yang mengangkut drum minyak mentah melintas di Kota Langsa dari Aceh Timur ke arah Sumatera Utara.

Seolah mobil-mobil itu bebas melintas tanpa adanya pemeriksaan petugas di sepanjang perjalanan.

"Jumat kemarin, satu mobil pick up bermuatan diduga drum minyak mentah terguling ke parit di Birem Bayeun. Tapi, tidak diketahui ada langkah hukum sejauh ini," sebut aktivis muda itu.

Seperti diketahui, Jumat, 29 November 2019 sekira pukul 04.00 WIB, mobil pick up Daihatsu Grand Max BL 9305 CH, mengangkut 14 drum minyak mentah dari Rantau Peureulak, terguling ke parit di kawasan Birem Bayeun.

Berdasarkan keterangan yang dihimpun, supir pick up, Rais (21), mengaku mengantuk hingga mobil hilang kendali dan nyungsep ke parit.

"Habis muat jam 02.00 WIB di Rantau Peureulak, tujuan ke Tangkalagan, Kabupaten Langkat," aku Rais ketika itu.

Atas insiden itu, menunjukan masih berlangsungnya pengiriman minyak mentah dari Aceh Timur.

Namun, tidak ada konfirmasi resmi dari kepolisian sektor Birem Bayeun atas kecelakan lalu lintas tunggal itu.

Ponsel Kapolsek Birem Bayeun, Iptu Aiyub yang dihubungi tidak menjawab. Pesan singkat yang dilayangkan juga tak digubris.

Melihat kondisi itu, Sukma M Thaher mengaku heran dengan aksi bungkamnya polisi.

"Seperti ada sesuatu yang tak ingin diketahui publik. Kami minta Kapolri dan Kapolda Aceh menegur bawahannya yang diduga bermain mata di lapangan," desaknya.

Dikatakan, bila sudah dilegalkan penambangan minyak di sumur-sumur rakyat dalam kawasan Rantau Peureulak, maka hendaknya peredaran minyak mentah tersebut dijual ke Pertamina.

Tidak diangkut ke Sumatera Utara, seperti yang terjadi selama ini. "Kalau sudah legal jual ke Pertamina. Jangan bawa ke penadah di luar," tambah Sukma.

Diakuinya, selama ini masyarakat penambang tradisional di Rantau Peureulak mengantungkan sumber ekonomi dari hasil penyulingan minyak tersebut.

Hanya saja, kondisi penambangan tidak aman, seperti penambangan profesional.

Kemudian, lanjut Sukma, regulasi terkait tambang rakyat ini perlu diperhatikan. Agar ada suatu jaminan hukum atas aktivitas mengambil hasil bumi dimaksud. | PUTRA ZULFIRMAN

Rubrik

Komentar

Loading...