Penelitian Baru: Pasien Sembuh dari Covid-19 Masih Alami Gejala Setelah Enam Bulan

Penelitian Baru: Pasien Sembuh dari Covid-19 Masih Alami Gejala Setelah Enam Bulan
Pasien saat menjalani perawatan dan isolasi di rumah sakit darurat. ©2020 AFP/STR

BERITAKINI.CO, | Lebih dari tiga seperempat orang yang dirawat di rumah sakit karena Covid-19 masih mengalami sedikitnya satu gejala setelah enam bulan, menurut sebuah penelitian baru.

Penelitian tersebut, yang diterbitkan pada Sabtu di jurnal kedokteran Lancet, melibatkan ratusan pasien di kota Wuhan, China, di mana virus corona baru pertama kali terdeteksi.

Penelitian menemukan kelelahan atau otot lemah adalah gejala paling umum, sementara orang-orang juga dilaporkan mengalami kesulitan tidur.

Para ilmuwan mengatakan, penelitian tersebut - di antara sedikit yang melacak gejala jangka panjang Covid-19 - menunjukkan perlunya penyelidikan lebih lanjut terhadap efek virus corona yang masih ada.

“Karena Covid-19 adalah penyakit baru, kami baru mulai memahami beberapa efek jangka panjangnya pada kesehatan pasien,” kata penulis utama Bin Cao, dari Pusat Nasional Pengobatan Pernapasan, dikutip dari Al Jazeera, Minggu (10/1).

Cao mengatakan penelitian itu menyoroti perlunya perawatan berkelanjutan bagi pasien setelah mereka keluar dari rumah sakit, terutama mereka yang menderita infeksi parah.

Penelitian baru ini melibatkan 1.733 pasien Covid-19 yang ditelah dipulangkan dari Rumah Sakit Jinyintan di Wuhan antara Januari dan Mei tahun lalu.

Khawatir Infeksi Ulang

Pasien, yang rata-rata berusia 57 tahun, dikunjungi antara Juni dan September dan menjawab sejumlah pertanyaan terkait gejala yang mereka alami dan kesehatan berkaitan dengan kualitas hidup mereka.

Para peneliti juga melaksanakan pemeriksaan fisik dan tes laboratorium.

Penelitian menemukan 76 persen pasien yang berpartisipasi dalam tindak lanjut (1.265 dari 1.655) mengatakan mereka masih memiliki gejala.

Kelelahan atau kelemahan otot dilaporkan sebesar 63 persen, sedangkan 26 persen mengalami masalah tidur.

Penelitian ini juga mengamati 94 pasien yang tingkat antibodi darahnya tercatat pada puncak infeksi sebagai bagian dari percobaan lain.

Ketika pasien ini diuji ulang setelah enam bulan, tingkat antibodi penetralnya adalah 52,5 persen lebih rendah.

Para penulis mengatakan hal ini menimbulkan kekhawatiran tentang kemungkinan infeksi ulang Covid-19, meskipun mereka mengatakan sampel yang lebih besar akan diperlukan untuk mengklarifikasi bagaimana kekebalan terhadap virus berubah dari waktu ke waktu.

Konsekuensi Besar

WHO mengatakan virus itu menimbulkan risiko efek serius bagi beberapa orang - bahkan di antara orang muda, orang sehat yang tidak dirawat di rumah sakit.

Hingga saat ini, ada lebih dari 89 juta kasus virus corona yang dikonfirmasi, termasuk sekitar 1,9 juta kematian dan 49,5 juta yang sembuh.

"Pasien harus diperiksa selama enam bulan atau lebih karena komplikasi tertular virus. Itu berarti kami akan memiliki kapasitas yang lebih sedikit, tenaga perawatan kesehatan lebih sedikit yang tersedia untuk merawat orang-orang ini," jelas penasihat kesehatan global dan dosen di UCL, Oksana Pyzik, kepada Al Jazeera.

"Itu akan memiliki konsekuensi besar untuk merawat semua jenis kondisi kronis, seperti kanker," kata Pyzik.

Kesehatan Jangka Panjang

Dalam sebuah artikel tanggapan, yang juga diterbitkan di Lancet, Monica Cortinovis, Norberto Perico, dan Giuseppe Remuzzi, dari Istituto di Ricerche Farmacologiche Mario Negri IRCCS Italia, mengatakan ada ketidakpastian mengenai konsekuensi kesehatan jangka panjang dari pandemi.

"Sayangnya, hanya ada sedikit laporan tentang gambaran klinis setelah Covid-19," kata mereka, seraya menambahkan penelitian terbaru tersebut, “relevan dan tepat waktu”.

Mereka mengatakan penelitian multidisiplin jangka panjang yang dilakukan di Amerika Serikat dan Inggris akan membantu meningkatkan pemahaman dan membantu mengembangkan terapi untuk "mengurangi konsekuensi jangka panjang Covid-19 pada banyak organ dan jaringan". 

Rubrik

Komentar

Loading...