Pembangunan Masjid Muhammadiyah Samalanga Memang Sedang Dalam Sengketa

Pembangunan Masjid Muhammadiyah Samalanga Memang Sedang Dalam Sengketa

BERITAKINI.CO, Banda Aceh | Kasat Reskrim Polres Bireuen Iptu Riski Andrian mengatakan, polisi telah mengumpulkan bukti-bukti terkait pembakaran yang terjadi di Masjid At Taqwa Muhammadiyah, di Gampong Sangso, Kecamatan Samalanga, Kabupaten Bireuen.

Namun di sisi lain, saat ini, Pemerintah Bireuen juga sedang melakukan langkah-langkah koordinasi dengan semua stakeholder untuk menyikapi hal tersebut. “Saat ini juga sedang rapat di kantor bupati,” kata Rizki saat dihubungi BERITAKINI.CO, Rabu siang.

Baca: Masjid di Samalanga Dibakar, Pemuda Muhammadiyah Aceh: Kami Minta Kapolda Mengusut Tuntas

Menurut Riski, kasus ini memiliki dua dimensi yakni tentang sengketa pembangunannya dan unsur tindak pidana pembakaran. Untuk sengketa, kata Riski, kasus tersebut sedang dalam tahap kedua yakni penyelesaian sengketa di tingkat Pemerintah Daerah dengan Forum Kerukunan Umat Beragama dan masing-masing pihak.

“Ada tiga tahap jika merujuk pada Pasal 26 Qanun Nomor 4 Tahun 2016 tentang Rumah Ibadah. Pertama, jika musyawarah tidak tercapai, maka dilanjutkan ke ranah pemerintah daerah, jika tidak tercapai juga, maka ke pengadilan,” kata Riski.

Polisi, kata Riski, menghormati proses penyelesaian yang sedang berjalan, meski antara sengketa pembangunan dan unsur tindak pidana adalah dua hal yang berbeda. Namun di sisi lain, polisi juga belum mendapat laporan dari pihak yang dirugikan, karena dalam hal ini Muhammadiyah juga ikut dalam rapat penyelesaian kasus tersebut di kantor bupati.

Baca: Muslim Ayub: Usut Segera Pembakar Rumah Ibadah Muhammadiyah di Bireuen

Meski begitu, kata Riski, polisi telah memiliki bukti-bukti bahkan rekaman terkait aksi tersebut. “Rekaman kita sudah ada, foto-foto kita sudah punya,” katanya.

Riski mengakui bahwa persoalan ini perlu disikapi secara bijak. “Namun jika memang ada laporan harus kita proses, tapi dalam hal ini Muhammadiyah juga diundang dalam rapat penyelesaian tersebut,” katanya.

Sebelumnya, Ketua Pemuda Muhammadiyah Aceh Munawar Syah mengatakan tak ada masalah apapun terkait rencana pembangunan masjid tersebut.

Berdasarkan informasi Ketua PD Muhammadiyah Bireun Dr. Athailah Lathief, kata Munawar, rencana dan proses pembangunan masjid ini dimulai sejak 3 tahun yang lalu. Setelah adanya pembebasan lahan seluas 2700m secara wakaf tunai jamaah pengajian dan warga Muhammadiyah Samalanga dan Bireuen.

“Pengurusan sertifikat tanah atas nama Persyarikatan Muhammadiyah, pengurusan IMB sudah. Pembuatan talut dan jalan menuju lokasi lahan mesjid, pembersihan lahan, sampai pembuatan arah kiblat oleh Kemenag Bireuen sudah dilakukan, selama proses itu tidak terjadi masalah apa-apa,” katanya.

Penghalangan dan penentangan mulai tampak ketika akan dilaksanakan peletakan batu pertama pembangunan oleh Prof. Din Syamsuddin pada saat Idul Adha lalu.

“Ada kelompok yang menentang dan menghalangi pembangunan masjid dengan menyebut dirinya sebagai Aswaja,” kata Munawar.

“Tetapi menurut pandangan kami, berkeyakinan mereka ini sesungguhnya hanyalah beberapa oknum masyarakat yang krisis akhlaqnya, bersikap intoleran lalu memprovokasi masyarakat lainnya.”

Rubrik

Komentar

Loading...