Pelaku Pemerkosa Gadis 16 Tahun di Bener Meriah Ternyata Anggota ‘Geng Rape’

Pelaku Pemerkosa Gadis 16 Tahun di Bener Meriah Ternyata Anggota ‘Geng Rape’

BERITAKINI.CO, Redelong | Kasus pemerkosaan gadis 16 tahun di Bener Meriah yang dilakukan dua pelaku, yang juga masih di bawah umur, kini menjadi perbincangan heboh di dataran tinggi gayo.

Kasus ini juga menjadi perhatian banyak kalangan, di antaranya Umah Sunting Pirak (USP) Bener Meriah. USP merupakan pemerhati perempuan dan anak, yang berkantor di Jalan Pari, Lamprit, Banda Aceh.

USP mengaku telah berkunjung ke rumah korban di wilayah Kecamatan Wih Pesam, Bener Meriah, Jumat sore (11/9/2020).

“Setelah melihat pemberitaan di media, kami langsung bertemu dengan korban. Kami baru saja bertemu dengannya, psikologi korban masih dalam keadaan terguncang,” kata Ketua USP Railawati.

Menurutnya kondisi korban saat ini sangat memperhatinkan, di mana memiliki rasa takut yang sangat besar untuk keluar rumah.

Korban juga belum bisa mengikuti proses kegiatan belajar di sekolah.

Situasi semakin memprihatinkan di mana ibu korban juga sedang mengalami sakit stroke. Kondisi tubuhnya lumpuh total. “Jika ada tamu, ibunya langsung panik dan meminta tidak membukakan pintu,” kata aktivis perempuan ini.

Tak hanya itu, ia mengaku kaget, karena keluarga korban mengungkapkan perasaan ketidaknyamanan mereka.

Pasalnya, salah satu pelaku berinisial Z (16) ternyata telah ditangguhkan penahanannya.

Menurut Railawati, Z sebelumnya pernah melakukan kasus yang sama pada Agustus 2020 lalu.

“Pelaku merupakan ‘Geng Rape’. Dari pengakuan korban hal ini menambah teror bagi keluarga korban. Pihak korban merasa sangat kecewa dengan penegakkan hukum,” kata Rai.

Berdasarkan pengakuan tersebut, kata Rai, pihak USP mengeluarkan rekomendasi kepada pihak pemkab setempat untuk komit melakukan pendampingan korban khususnya perempuan dan anak.

Selain itu, pihaknya juga mengingatkan kepada aparat penegak hukum untuk berhati hati dalam mengambil kesimpulan tentang upaya hukum dalam penangguhan penahanan.

“Dalam hal ini sangat merugikan korban dan juga berpotensi menimbulkan korban-korban baru. Kami sangat prihatin karena pengawasan yang lemah. Secara statistik Bener Meriah merupakan wilayah dengan angka kekerasan seksual yang memperhatinkan,” ujarnya.

Menurutnya, penanganan psikologi bagi korban semestinya sudah diberikan sejak awal kasus ditangani sehingga korban dan keluarganya bisa merasa nyaman.

“Peran Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) dalam hal ini sangat diharapkan untuk dapat meningkatkan koordinasi dalam penanganan kasus dan memastikan pendampingan efektif dan hak hak korban dapat terpenuhi,” katanya.

“Memang dari pengakuan korban sejak diperiksa pihak kepolisian sudah didampingi pihak P2TP2A Bener Meriah, tidak sampai pada agenda saksi. Itu kita tidak tau kenapa,” sebutnya.

Railawati menambahkan, pemerintah dan institusi hukum harus mensosialisasikan kepada masyarakat sanksi atau penerapan hukum, termasuk qanun jinayah, bagi pelaku pemerkosaan.

“Kita akan terus berupaya untuk kesembuhan korban dari rasa takut dan rasa malunya. Untuk pendidikan korban, kita juga akan selalu mengadvokasi untuk tetap mendapatkan pelajaran,” ujar Railawati. | Eri Tanara

Rubrik

Komentar

Loading...