Pasien Meninggal Usai Dikuret di Langsa, Begini Penjelasan Pihak Rumah Sakit

Pasien Meninggal Usai Dikuret di Langsa, Begini Penjelasan Pihak Rumah Sakit
Ilustrasi

BERITAKINI.CO, Langsa | Pihak RSU Cut Nyak Dhien Langsa angkat bicara terkait dengan meninggalnya pasien SH (24), warga Lengkong, Kecamatan Langsa Baro, Kota Langsa, pada Rabu, 25 Maret 2020.

RA sempat menjalani tindakan kuret/kuretase di rumah sakit itu akibat keguguran yang dialaminya. Trio, suaminya mengatakan, kondisi istrinya terus melemah setelah kuret dilakukan.

Belakangan diketahui terdapat benda diduga sisa tindakan medis tertinggal di rahimnya.

Menurut Trio, keberadaan benda itu diketahui setelah petugas medis melakukan rontgen terhadap istrinya.

Trio mengatakan, dokter sempat berjanji akan mengoperasi istrinya untuk mengeluarkan benda itu.

Tapi takdir berkata lain, RA meninggal sebelum sempat dioperasi untuk mengeluarkan benda itu.

Trio mengajukan komplain dan telah melapor ke Polres Langsa.

Sementara Kepala Bidang Penunjang Medik RSU Cut Nyak Dhien Langsa, dr Harris membenarkan jika SH sempat menjalani penanganan medis di rumah sakit itu.

"Pasien awalnya mengalami pendaharan dan dibawa ke praktek dokter kandungan RA, lalu dibawa ke rumah sakit ini," terang dr Harris, Kamis petang (26/3/2020).

Tiba di RSU Cut Nyak Dhien sekira pukul 21.00 WIB, Selasa, 24 Maret 2020, pasien langsung ditangani.

Sebelum tindakan kuretase dilakukan, pasien terlebih dahulu dipasang alat Laminaria, untuk pembuka mulut rahim.

"Panjangnya sekira 4-5 mm, dipasang di mulut serviks. Sedangkan ukuran serviks berkisar 2,5 mm. Jadi terdapat kelebihan dari Laminaria ke arah mulut rahim," katanya.

Durasi pembukaan mulut rahim setelah terpasang Laminaria, kata Harris, lebih kurang delapan jam.

Hingga pada Rabu, 25 Maret 2020, sekira pukul 12.00 WIB, dilakukan tindakan kuretase terhadap pasien dan selesai diperkirakan pukul 13.00 WIB.

"Saat dokter RA melakukan kuretase, posisi Laminaria sudah masuk ke dalam rahim sehingga tidak bisa lagi ditarik keluar," sebutnya.

Pasalnya, cairan lendir atau mukus yang dihasilkan serviks membuat Laminaria rapuh hingga sulit dikeluarkan.

Lantas, dokter RA saat itu juga melakukan tindakan ultrasonography (USG) untuk melihat posisi Laminaria yang telah masuk ke rahim pasien.

Kemudian, dokter RA memanggil keluarga pasien untuk menjelaskan kondisi yang terjadi usai tindakan kuretase tersebut.

"Perlu kami luruskan bahwa dokter RA terlebih dahulu melakukan USG. Bukan kemudian petugas RS berinisitiaf melakukan rontgen terhadap pasien," kata Harris mengklarifikasi pernyataan suami SH.

Menurut dokter RA, tambah Harris, untuk mengeluarkan Laminaria dari rahim pasien, harus dilakukan dengan operasi dan meminta persetujuan pihak keluarga.

"Jika operasi tentu butuh persiapan dan tidak bisa dilakukan secepat kilat. Ada prosedur yang dilalui terlebih dahulu," terangnya.

Namun, pihak keluarga pasien saat itu berkeinginan untuk berembuk terlebih dahulu.

Hingga akhirnya kondisi pasien SH, kian melemah dan hembuskan nafas terakhir.

"Tidak benar jika dokter RA akan melakukan operasi pukul 22.00 WIB, setelah munutup prakteknya," jelas Harris.

Karena, lanjut dia, saat itu adalah hari Rabu 25 Maret 2020 yang merupakan hari libur dan praktek dokter RA memang tutup.

Terkait laporan polisi oleh keluarga pasien, dr Harris menyebut hal itu kewenangan pihak kepolisian dan pihaknya akan memberikan keterangan sesuai fakta yang ada.

Sementara, hasil autopsi jenazah korban sejauh ini belum diketahui.

Saat ini, jenazah almarhumah SH telah dibawa pulang pihak keluarga setelah usai autopsi di RSUD Langsa.

Keluarga telah pula selesai melaksanakan fardhu kifayah dan almarhumah ibu dua anak itu dikebumikan di pemakaman umum Gampong Lengkong, Kecamatan Langsa Baro. | Putra Zulfirman

Rubrik

Komentar

Loading...