Mitologi dan Sejarah Garuda Pancasila Sebagai Lambang Negara

Mitologi dan Sejarah Garuda Pancasila Sebagai Lambang Negara
Ilustrasi (Foto: CNN Indonesia/Andry Novelino)

BERITAKINI.CO | Garuda Pancasila merupakan lambang negara Indonesia. Perdebatan kerap muncul mengenai burung Garuda hingga kini yakni keberadaan burung tersebut yang sesungguhnya.

Garuda sejatinya makhluk mitos yang telah dikenal warga Indonesia sejak dahulu kala melalui cerita pewayangan. Kisah Garuda juga tertulis dalam kitab Mahabharata dan Purana dari India.

Tak hanya itu, kisah Garuda sudah dikenal melalui cerita-cerita rakyat hingga relief atau pahatan-pahatan di banyak candi di Indonesia. Hal tersebut yang kemudian dijadikan dasar Panitia Lencana Negara menentukan Garuda sebagai lambang negara.

Berdasarkan mitologi yang diyakini hingga kini, Garuda merupakan burung yang berani hingga mau berkorban melawan kedzaliman hingga titik darah penghabisan. Kisah itu terdapat dalam cerita Ramayana di mana burung itu berhadapan dengan Rahwana hingga kehilangan nyawanya.

Ramayana mengisahkan penculikan Sita atau Shinta oleh Rahwana, Raja Kerajaan Alengka, yang ingin mengawininya. Suara tangisan Sita terdengar oleh burung Garuda yang bersahabat dengan Rama, suami Sita.

"Dalam cerita Ramayana, Garuda itu kan melawan Rahwana. Itu bentuk perjuangan. Waktu Sita dibawa Rahwana, dia coba dibebaskan burung Garuda, kemudian Garudanya mati dibunuh Rahwana," kata Sejarawan Restu Gunawan kepada CNNINdonesia.com, Senin (31/5).

"Semangat dan nilai itu lah yang diambil bahwa Indonesia harus mempunya nilai melawan penzaliman," tuturnya.

Lahirnya burung Garuda sebagai lambang negara bermula setelah Belanda mengakui kedaulatan Indonesia pada 1949. Kala itu, Indonesia dirasa perlu memiliki lambang negara, sehingga disiapkanpanitia khusus untuk hal tersebut.

Panitia teknis yang lebih dikenal dengan Panitia Lencana Negara dibuat secara khusus di bawah koordinator Menteri Negara Zonder Porto Folio Sultan Hamid II, Mohammad Yamin sebagai ketua, dan anggotanya adalah Ki Hajar Dewantara, M A Pellaupessy, Mohammad Natsir serta RM Ng Poerbatjaraka.

Mereka ditugaskan untuk menyeleksi usulan rancangan lambang negara melalui sayembara.

"Dibuat sayembara untuk menggambar seperti apa. Berdasarkan kesepakatan, terdapat dua rancangan dari Sultan Hamid II dan Mohammad Yamin," kata Restu.

Setelah itu, gambar tersebut dibawa dan diperlihatkan pada Sukarno. Persetujuan tidak langsung begitu saja, beberapa kritik dilontarkan atas gambar tersebut, seperti pada bagian kepala dan kaki burung Garuda.

Sukarno kemudian memerintahkan pelukis istana, Dullah, melukis kembali rancangan tersebut dengan menambahkan jambul di kepala burung serta membuat kakinya mencengkeram dan berada di depan pita bertuliskan Bhinneka Tunggal Ika, bukan di belakang pita.

"Jadi bentukan terakhir yang bagus seperti saat ini itu atas arahan Sukarno," ucap Restu.

Burung dan Simbol Status

Guru Besar Antropologi Budaya Universitas Gadjah Mada Heddy Shri Ahimsa-Putra menilai, selain dari mitologi, pemilihan burung Garuda sebagai lambang negara juga tak bisa dilepaskan dari kebudayaan Jawa, khususnya priyai, kelas sosial dalam golongan bangsawan.

Hal tersebut terlihat dari lima hal yang diyakini menyempurnakan pria Jawa, yakni wismo (rumah), wanito (istri), turonggo (kuda), kukilo (burung), dan curigo (senjata).

Terpisah, pusat pemerintahan Hindia Belanda dan tokoh pergerakan nasional kala itu juga berkecimpung di Jawa.

"Dalam orang Jawa, salah satu harta yang ideal itu kan kukilo. Kan ada wismo, wanito, turonggo, kukilo, dan curigo. Salah satunya itu burung. Karena dalam dunia orang Jawa itu penting. Saya kira kita tidak bisa lepas dari konteks itu," kata Heddy pada CNNIndonesia.com.

"Jadi kenapa burung Garuda? Karena itu jelas sekali dalam konteks Ramayana dan masyarakat secara tradisional menyukai burung, kelas priyai salah satu simbol statusnya kan burung."

Berdasarkan kedua hal itu lah ia meyakini para Panitia Lencana Negara sepakat mengadopsi nilai-nilai Garuda menjadi lambang negara.

"Kalau melihat konteks Indonesia saat itu ya sangat pas. Indonesia sedang berjuang melawan penjajah. Saat itu penjajah kan orang dari luar, dalam konteks tertentu Belanda disebut seperti raksasa, itu seperti Rahwana. Makanya itu dinilai cocok," kata Heddy.

Pemakaian Garuda Pancasila sebagai lambang negara pertama kali secara resmi dalam Sidang Kabinet Republik Indonesia Serikat pada 11 Februari 1950.

Bentuknya pun seperti yang dikenal saat ini yakni kepala menoleh ke kanan, simbol-simbol Pancasila di badannya, serta semboyan Bhinneka Tunggal Ika tertulis di atas pita yang dicengkeram kaki Garuda.
 
Burung Garuda memiliki 17 helai di sayap, 8 helai bulu ekor, 19 helai bulu pangkal ekor, dan 45 helai bulu leher yang melambangkan kemerdekaan Indonesia yakni 17-08-1945.

Rubrik
Sumber
CNNIndonesia.com

Komentar

Loading...