Mirip Kisah Nabi Nuh, Arkeolog Ungkap Israel Kuno Pernah Dihantam Tsunami Ganas

Mirip Kisah Nabi Nuh, Arkeolog Ungkap Israel Kuno Pernah Dihantam Tsunami Ganas

BERITAKINI.CO, | Para arkeolog telah merumuskan banyak kisah banjir masa lalu yang mungkin menjadi inspirasi kisah Nabi Nuh. Terbaru, para arkeolog menemukan peradaban Israel kuno sempat dihantam tsunami raksasa yang menghapus peradaban di pesisir pantai terdampak.

Menurut penelitian terbaru yang dikerjakan tim arkeolog internasional, tsunami raksasa pernah menyapu garis pantai Tel Dor di Israel, antara 9.910 dan 9.290 tahun yang lalu. Mengingat waktu kejadian tersebut, peneliti menduga kalau tsunami ini merupakan tsunami tertua yang pernah diketahui di Mediterania Timur.

Penelitian yang baru dipublikasi jurnal PLOS ONE pada 23 Desember 2020 ini memang tidak mencoba berspekulasi soal cerita Nabi Nuh. Namun, peristiwa bencana yang mereka teliti memiliki dampak yang sangat besar bagi lanskap peradaban Israel kuno yang mungkin bisa memunculkan legenda juga.

"Proyek kami berfokus pada rekonstruksi iklim kuno dan perubahan lingkungan selama 12.000 tahun terakhir di sepanjang pantai Israel," kata penulis utama studi dari University of California San Diego, Gilad Shtienberg, dalam pernyataan resminya.

Para peneliti menemukan bukti tsunami dengan memotong inti sedimen terbuka dari daerah studi pesisir mereka di Teluk Selatan Tel Dor.

Dalam sampel ini, mereka menemukan lapisan kerang dan pasir yang diperkirakan berusia antara 9.910 dan 9.290 tahun yang lalu. Adapun lapisan kerang dan pasir tersebut ditemukan di dalam lapisan lahan basah tengah yang tersimpan 15.000 hingga 7.800 tahun yang lalu.

Peneliti bilang, satu-satunya cara agar materi laut ini bisa sampai jauh ke pedalaman daratan adalah melalui gelombang air.

Mereka memperkirakan bahwa gelombang yang mampu melakukan ini akan melakukan perjalanan ke daratan antara 1,5 hingga 3,5 kilometer dan akan berada di antara ketinggian 16 dan 40 meter di pantai.

"Kami tidak pernah bermimpi menemukan bukti tsunami prasejarah di Israel,” kata Shtienberg.

“Saat kami membelah inti (sedimen) di San Diego dan mulai melihat lapisan kerang laut yang tertanam di lanskap Neolitik kering, kami tahu kami mendapatkan jackpot."

Tsunami sendiri tak jarang terjadi di wilayah Mediterania bagian timur. Catatan sejarah dan data geografis menunjukkan bahwa tsunami telah terjadi sekitar sekali per abad selama 6.000 tahun terakhir.

Meski demikian, peristiwa tsunami yang didokumentasikan sebelumnya hanya berjalan ke daratan sekitar 300 meter. Dengan kata lain, peristiwa tsunami ini penting. Peneliti menduga bahwa gempa bumi yang kuat di Sistem Sesar Laut Mati yang menyebabkan tsunami raksasa ini.

Dengan ketinggian dan perjalanan ke darat yang cukup jauh, tsunami kuno di Israel ini bisa menghancurkan desa-desa di sekitar pantai. Tak cuma rumah, ia bisa menghancurkan lahan pertanian, padang rumput dan ternak, serta perikanan laut dan sumber daya di dekat pantai.

Peristiwa ini, yang terjadi selama periode budaya Neolitik Awal hingga Pertengahan di wilayah tersebut, mungkin menjelaskan mengapa survei arkeologi sebelumnya tidak menemukan bukti untuk desa-desa pesisir dataran rendah di daerah tertentu hingga akhir Neolitik, kata para peneliti.

“Kami tidak dapat mengetahui dengan pasti mengapa orang tidak tinggal di sana, di tempat yang berlimpah dengan bukti tempat tinggal manusia purba dan permulaan kehidupan desa di Tanah Suci,” kata Thomas Levy, profesor arkeologi di University of California San Diego yang menjadi tim peneliti laporan ini, dalam keterangan resminya.

"Apakah lingkungan terlalu diubah untuk mendukung kehidupan? Apakah tsunami bagian dari pengetahuan budaya mereka--apakah mereka menceritakan kisah peristiwa yang merusak ini dan menjauh? Kami hanya bisa membayangkan."

Meski demikian, Levy menambahkan, pada periode Neolitik Akhir atau Tembikar, situs arkeologi di sepanjang pantai mulai muncul kembali. Kemunculan mereka bertepatan dengan dimulainya kembali pengendapan lahan basah dalam sampel inti dari Dor, yang menunjukkan pemukiman kembali dan menyorot ketahanan masyarakat dalam menghadapi kerusakan besar-besaran.

Di masa depan, para peneliti berharap dapat melakukan lebih banyak penelitian geofisika di perairan yang lebih dalam dan mengirim penyelam untuk menguji hasil mereka dan mungkin menemukan bukti permukiman sebelumnya.

Rubrik
Sumber
kumparan

Komentar

Loading...