Merasa Penyelesaian Tesisnya Dihalang-halangi, Mahasiswa Laporkan Rektorat UIN Ar Raniry ke Ombudsman

Merasa Penyelesaian Tesisnya Dihalang-halangi, Mahasiswa Laporkan Rektorat UIN Ar Raniry ke Ombudsman

BERITAKINI.CO, Banda Aceh | Mahasiswa Pascasarjana UIN Ar-Raniry Mustafa Husen melaporkan dugaan maladministrasi di kampus pascasarjana UIN Ar-Raniry kepada Ombudsman RI Perwakilan Aceh.

Mustafa turut melaporkan pihak rektorat kampus biru tersebut terkait dugaan pencekalan penyelesaian tugas akhirnya (tesis).

Ia mengaku merasa dirugikan baik secara materil maupun immateril terhadap sikap kesewenangan di dunia akademik tersebut.

Menurutnya, rektor, wakil rektor I, wakil direktur pasca, dan kepala tata usaha bekerjasama menghambat penyelesaian tesisnya.

"Semestinya sudah siap, karena semua kewajiban sudah saya selesaikan, baik berupa dana dan penulisan tesis," kata Mustafa, Sabtu (28/11/2020).

Lanjutnya, berdasarkan acc (disetujui) para dosen pembimbing di antaranya direktur pasca UIN Ar-Raniry, ia diminta melengkapi ragam persyaratan untuk mengikuti seminar hasil.

Mulai dari menyelesaikan pembayaran biaya sidang hasil, sidang munaqasyah, dan biaya mengikuti yudisium, ketiganya itu telah diselesaikannya.

"Sekalian saya bayar untuk menghindari penumpukan orang dan supaya tidak berulang kali ke bank, yang tidak baik di masa pandemi Covid-19 ini," ujarnya.

Musatafa menyebut, permasalahan baru muncul saat dia menanyakan persyaratan lainnya ke pihak akademik.

Katanya, pihak akademik menyatakan ada empat mata kuliah yang diambil tidak ada nilai.

Namun setelah dihubungi dosen yang bersangkutan, tiga mata kuliah sudah keluar nilai. Sedangkan satu mata kuliah lagi kata pihak akademik, dia tidak mengikutinya dengan dalih tidak ada namanya di absensi yang ada di pihak akademik.

Oleh sebab itu, pihak akademik tidak memberikan form nilai kepadanya sebagaimana tiga mata kuliah sebelumnya yang telah selesai.

"Padahal dosen pengampu mata kuliah tersebut sudah mengkonfirmasi untuk memberikan nilai, tapi karena pihak akademik tidak memberikan form nilai itu, maka nilai mata kuliah tersebut tidak bisa saya proses," katanya.

Sebelumnya, Mustafa juga telah menemui wadir pasca dan kepala TU, mereka menawarkan solusi, Mustafa boleh menyelesaikan kuliah dengan konsekuensi ijazahnya tidak terdaftar di dikti.

Ia mengaku setuju dengan solusi tersebut, namun setelah membuat surat pengajuan ke direktur pasca, secara tiba-tiba wadir pasca tidak bersedia lagi untuk membantu.

Tak hanya itu, sebelumnya wadir pasca juga memberikan solusi dengan kuliah short course (kuliah semester pendek) untuk membantu nilai asalkan ada izin dari warek I.

"Ini juga terkendala dengan warek I. Hanya karena satu mata kuliah tersebut tidak ada nilai, saya tidak diizinkan mengikuti sidang seminar hasil, dengan dalih nama saya tidak terinput di absensi mata kuliah tersebut," katanya.

Padahal tugas-tugas yang diberikan sudah semua dikerjakan dan ikut dilampirkan dalam pelaporan ke Ombudsman.

"Ketika saya minta lihat absensi manual, yang ada nama saya dipalang oleh dosen pengampu; bukti saya tidak masuk mata kuliah tersebut," ujarnya.

Akibat masalah yang kian berlarut-larut dan terkesan dibola-bola, Mustafa meminta agar dirinya di DO saja. Namun wadir menolak, dan dia diarahkan untuk pindah kampus saja.

"Artinya saya dikeluarkan dengan kata halus, itu solusi dari warek I dan wadir," kata Mustafa.

Menurut Mustafa, Warek I Dr Gunawan dinilai tidak sepenuhnya menjalankan tugas akademik sebagai pimpinan direktorat. Ia terkesan menghambat dan mempersulit mahasiswa yang seharusnya diayomi.

Menanggapi hal itu, Warek I Dr Gunawan mengatakan, Mustafa tidak bisa diluluskan karena yang bersangkutan belum menyelesaikan mata kuliah.

"Perguruan tinggi itu memang ada hal yang hitam-putih, kalau tidak ikut kuliah ya tidak boleh lulus, karena ada aturan-aturan yang harus kita pedomani," kata Gunawan saat dihubungi BERITAKINI.CO.

Ia mengaku, persoalan Mustafa murni masalah akademik, tidak ada kaitannya dengan urusan personal.

"Sama saya dia tidak urusan, dia malah mantan murid saya dulu sewaktu S1. Sama saya gak ada masalah dia. Ini murni masalah akademik," katanya.

Sebelumnya, dalam laporan Mustafa ke Ombudsman Perwakilan Aceh pada 25 November 2020, ia turut didampingi aktifis dayah Haekal Afifa.

Mustafa mengatakan, dirinya sudah melakukan pendekatan baik secara kekeluargaan dan profesional, namun tidak ada titik temu.

Oleh sebab itu, Mustafa yang juga merupakan aktifis dayah Aceh ini melaporkan rektorat UIN Ar-Raniry ke Ombudsman guna mencari penyelesaian masalah yang dihadapinya.

Mustafa juga sudah mengirimkan surat terbuka ke Kementerian Agama (Kemenag) dan juga tembusan ke beberapa instansi lainnya.

Rubrik

Komentar

Loading...