Menengok Keluarga Nurbaiti yang Menahun Hidup di Gubuk Reyot di Pidie

Menengok Keluarga Nurbaiti yang Menahun Hidup di Gubuk Reyot di Pidie

BERITAKINI.CO, Sigli | Nurbaiti (34) bergeming saat melihat sejumlah kendaraan pribadi menyambangi kediamannya di Gampong Pulo Pande, Kecamatan Batee, Kabupaten Pidie, Selasa, 8 Oktober 2019.

Ia dengan beberapa warga tampak duduk di atas rangkang bambu di depan gubuk kecil nan lusuh itu, sampil menatap beberapa tamu dari kabupaten datang.

Mereka antara lain Kajari Pidie Efendi serja jajarannya dan relawan sahabat duafa.

Di gubuk itu, Nurbaiti selama ini menetap bersama suami dan dua anaknya yang masih kecil-kecil. Dia menyebut gubuk itu “rumah”.

“Kami bangun rumah ini pada 2010 lalu,” ungkapnya.

Dinding papannya tidak lagi utuh. Ada begitu banyak lubang pada kayu yang mulai keropos. Sebagian dinding malah sudah digantikan dengan anyaman kulit bambu.

Tak hanya berfungsi sebagai tempat berteduh, bangunan berukuran 3 X 5 meter itu sekaligus berfungsi sebagai dapur. Hanya triplek yang digunakan sebagai pembatas.

Di dalam gubuk, terlihat sebuah rice cooker, satu kasur tipis, tikar dan sejumlah kardus yang digunakan sebagai tempat menyimpan baju.

Sejak menempati rumah yang masih beralaskan tanah dan beratapkan daun rumbia itu, Nurbaiti mengandalkan lampu teplok untuk menerangi gelapnya  malam.

"Alhamdulillah pada 2018 ada bantuan pemasangan listrik gratis dari BUMN, jadi baru lima kali saya isi pulsa dan sekali isi paling Rp 20 ribu," ujarnya.

Di rumah jauh dari kata layak itu, juga tidak ditemukan MCK.

Menurut pengakuan Nurbaiti, untuk mandi dan kebutuhan sehari-hari anggota keluarga mengandalkan sumur tetangga.

"Air sumur tidak bisa dikonsumsi, biasanya untuk keperluan air masak dan minum kami ambil di Keudee (lokasi sumur bor umum)," sebut Nurbaiti.

Nurbaiti bahkan tidak terpikir untuk membangun rumah layak di atas tanah yang diberikan orang tuanya itu, sebab gaji dari suami yang berkerja sebagai buruh kupas kelapa muda di Banda Aceh bahkan belum mampu mencukupi semua kebutuhan sehari-hari.

"Saya juga bantu suami, dengan membuat anyaman kerajinan dari kulit bambu, itung-itung meringankan bebeban keluarga," cetusnya sambil sumringah.

Rubrik

Komentar

Loading...