Menebak Siapa Calon Wakil Nova

Menebak Siapa Calon Wakil Nova
Direktur Eksekutif The Aceh Institute, Fajran Zain

BERITAKINI.CO, Banda Aceh | Partai-partai pengusung pasangan Irwandi Yusuf-Nova Iriansyah pada Pilkada 2017 lalu belum juga mengusulkan sosok yang akan dipilih untuk mengisi kekosongan kursi wakil gubernur Aceh.

Meski beberapa di antaranya telah mewacanakan sejumlah nama, di antaranya Tgk Muhibbusabri dari PDA dan Ruslan M Daud dari PKB.

Begitu juga dengan PDI-P yang memunculkan tiga nama baik dari internal dan eksternal partai yakni Muslahuddin Daud, Sulaiman, dan Muharuddin.

Dari PNA, misalnya, juga mencuat nama Darwati A Gani yang merupakan istri Irwandi Yusuf.

Namun nama-nama itu tak juga mengerucut hingga ke dua nama yang harusnya diajukan ke DPRA melalui Gubernur Aceh Nova Iriansyah.

Sedangkan waktu yang tersisa untuk mengisi  kekosongan kursi wakil guberbur Aceh kurang dari dua bulan lagi atau paling telat pada Januari 2021 mendatang, kursi wakil gubernur harus sudah terisi.

Kendati begitu, sejumlah kalangan meyakini, kursi wakil gubernur yang lowong tersebut pasti akan terisi.

“Jadi akan ada wakil,” analisa Direktur Eksekutif The Aceh Institute, Fajran Zain, Kamis (19/11/2020).

Fajran menilai bahwa proses penentuan sosok yang akan menjadi wakil gubernur Aceh tersebut tak semata berkutat di dimensi partai pengusung.

“Tapi harus dilihat juga dari sisi Nova Iriansyah, gubernur Aceh saat ini,” katanya.

Dengan nama-nama yang telah mencuat ke permukaan, kata Fajran, Nova kini dihadapi dengan banyak pilihan.

“Apakah dari PNA, atau PKB, atau PDA dan PDI-P yang punya tiga calon, yang lebih beratnya ke Tgk Muharuddin,” katanya.

Nova, kata Fajran, tentunya harus kalkulatif, dan hati-hati melihat siapa yang akan dipilih.

Terutama jika dia nantinya akan mengikuti kontestasi pilkada yang akan datang.

Karena itu, dia harus melakukan pemetaan, siapa yang lebih marketable untuk kepentingan mempertahankan elaktibilitas ke depan.

“Apakah ada sosok di antara nama-nama yang muncul dan cukup menjual dijadikan tandem ke depan.”

“Jadi dalam hal ini, ada konteks untuk mengamankan peluang di depan. Jadi pertimbangannya juga ada di Nova, terutama aspek sustainability politiknya itu yang jadi pertimbangan.”

Pada sisi lain, lanjut Fajran, Nova juga harus melihat sisi stabilitas. Di mana kekuatan politik di Aceh itu saat ini masih didominasi partai lokal, terutama Partai Aceh.

“Makanya Nova juga berkepentingan untuk mengamankan Partai Aceh. Memasukkan Partai Aceh dalam sistem pemerintahaan, bukan di luar sistem yang terus berpotensi ‘mengganggu’ stabilitas jalannya pemerintahan,” katanya.

Sementara Partai Aceh, lanjut Fajran, tentunya juga akan hati-hati atas potensi ajakan atau tawaran tersebut.

“Misal, agar tak tersubordanisasi di bawah kepemimpinan Demokrat, karena Partai Aceh ke depan juga telah mendeklarkan akan maju dengan baju sendiri pada pilkada ke depan,” katanya.

Partai Aceh, kata Fajran, perlu mempertegas posisi oposisi, lalu ke depan mencoba mengambilalih kepemimpinan di Aceh.

“Kalau kita baca peta itu, besar kemungkinan, siapa pun kader PA, itu akan diambil oleh Nova. Misal, Tgk Muharuddin, politisi Partai Aceh yang katanya telah berselancar di Nasdem. Walau pun dia dari Nasdem, yang bukan partai pengusung, tapi kalau PDI-P memandatkan haknya kepada Tgk Muharuddin, misalnya, Nova tentu akan mengkalkulasikan ini. Dengan mengambil Tgk Muharuddin, sedikit menggembosi suara Partai Aceh,” katanya.

Melihat peta tersebut, kata Fajran, Nova diyakini tidak akan sendiri hingga akhir masa jabatannya.

“Harus ada wakil. Mendagri juga bisa saja menegur, lalu legislatif juga pasti tak akan diam. Jika dulu saat Plt, semua sifatnya emergency, semua keputusan bisa diambil lewat proses konsultasi Plt dengan Mendagdri. Tapi setelah definitif, semua kembali pada sistem yang normal. Dia harus memutuskan siapa wakilnya. Lalu kemudian proses pengambilaan keputusan dilakukan secara balancing antara eksekkutif-legislatif.” | Rio Syahrany

Rubrik

Komentar

Loading...