Melupakan Ilmu Waris, Faktor Pemicu Sengketa Keluarga

Melupakan Ilmu Waris, Faktor Pemicu Sengketa Keluarga

MESKIPUN menjadi ilmu yang paling utama di sisi Allah SWT, namun ilmu faraidh (waris) saat ini telah banyak dilupakan, bahkan ditinggalkan pelaksanaannya oleh umat Islam dalam pembagian harta warisan dari orang yang telah meninggal dunia.

Karena tidak lagi menjadi perhatian umat, maka banyak terjadi sengketa yang menjurus pada keributan dalam keluarga lantaran pembagian harta tidak lagi mengacu pada aturan ilmu faraidh yang langsung bersumber dan diatur oleh Allah untuk kemaslahatan umat.

Untuk itu, sangat dianjurkan untuk mempelajari ilmu waris dan mengamalkannya dengan benar, sebagaimana sabda Rasulullah SAW dalam Haditsnya yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah RA, "Pelajarilah ilmu waris dan ajarkan, karena ilmu waris merupakan sebagian dari ilmu. Ilmu waris adalah ilmu yang mudah dilupakan dan yang pertama kali dicabut dari umatku."

Demikian antara lain disampaikan ‎Ustaz H Gamal Achyar Lc MA ‎(Staf Pengajar Fakultas Syariah dan Hukum ‎UIN Ar-Raniry‎) saat mengisi pengajian rutin Kaukus Wartawan Peduli Syariat Islam (KWPSI) di Rumoh‎ Aceh Kupi Luwak, Jeulingke Rabu (18/1/2017) malam.

"Meskipun kita beragama Islam, namun bukan berarti hukum waris sudah dijalankan dengan benar di tengah masyarakat kita umat Islam. Dalam kenyataannya, justru banyak ditinggalkan oleh pemeluk agama Islam sendiri," ujar Ustaz Gamal Achyar‎.

Disebutkannya, Nabi Muhammad SAW, sekitar 14 abad yang lalu telah memprediksi bahwa pembagian masalah harta warisan bisa menimbulkan pertengkaran. Untuk itu, Islam sebagai agama yang sempurna telah mengatur dan mengajarkan tata cara pembagian harta waris secara rinci.

Islam mengatur hubungan manusia dengan sesamanya, baik dalam skala kecil maupun besar, termasuk diantaranya tentang pembagian warisan. Ajaran Islam juga berupaya mengganti pola kewarisan yang berlaku di zaman jahiliyah dengan pola kewarisan yang lebih adil.

Dalam hukum waris Islam, setiap pribadi, baik itu laki-laki maupun perempuan, berhak memiliki harta benda. Kaum wanita, selain berhak memiliki harta benda, juga berhak mewariskan dan mewarisi sebagaimana laki-laki. Sistem pembagian waris yang diajarkan Islam itu lebih adil jika dibandingkan dengan yang diterapkan masyarakat Arab di zaman jahiliyah.

Pada masa itu, bukan hanya tak bisa mewarisi dan mewariskan, kaum wanita tak diperbolehkan memiliki harta benda, kecuali wanita-wanita dari kalangan elit. Bahkan, pada masa itu, wanita menjadi sesuatu yang diwariskan. Allah SWT dalam Al-Quran Surat An-Nisa ayat 19 menegur kebiasaan orang-orang Arab yang suka mewarisi perempuan dengan paksa.

Rukun-rukun waris, kata Gamal Achyar, terdiri atas tiga, yakni orang yang meninggal, ahli waris, dan harta yang diwariskan. Ketiga perkara ini merupakan perkara penting yang harus ada dalam sebuah proses pewarisan.

Gamal Achyar juga mengungkapkan beberapa kekeliruan dalam memandang hukum waris di dalam syariat Islam antara lain, seperti menyamakan bagian anak laki-laki dan perempuan. Ini merupakan masalah yang klasik dan paling sering terjadi di tengah masyarakat yang mengaku agamis dan islamis.

Padahal ketentuan bahwa bagian anak perempuan itu separuh dari bagian anak laki-laki bukan sekedar karangan atau ciptaan manusia, melainkan sebuah ketetapan yang langsung Allah SWT turunkan kepada kita.

"Kalau mau protes dan keberatan, silahkan langsung ajukan kepada Allah SWT. Kalau di masa pensyariatan dulu, bisa saja keberatan itu direspon langsung oleh Allah, sehingga hukumnya diubah atau minimal diringankan. Tetapi kita sekarang ini hidup di luar era pensyariatan, maka semua yang sudah ditetapkan itu adalah ketetapan yang tidak bisa diprotes lagi. Protes berarti kafir dan menentang hukum-Nya," terang Gamal.

Untuk itu Allah SWT sudah menegaskan ketentuan-Nya yang sudah baku tidak boleh diubah-ubah dalam Surat An-Nisa ayat 11 yang artinya, "Allah mensyariatkan bagimu tentang (pembagian pusaka untuk) anak-anakmu: bagian seorang anak lelaki sama dengan bagian dua orang anak perempuan, dan jika anak itu semuanya perempuan lebih dari dua, maka bagi mereka dua pertiga dari harta yang ditinggalkan, jika anak perempuan itu seorang saja, maka ia memperoleh separuh harta".

Sayangnya meski ayat ini sering dibaca berulang-ulang, namun dalam pelaksanannya cenderung hampir semua keluarga menjalankan cara-cara yang bertentangan dengan aturan syariah Islam ini.

‎Alasannya bermacam-macam. Bisa karena memang tidak tahu adanya aturan tersebut, lantaran selama ini lebih terdidik dengan sistem waris versinya.

Namun alasannya kadang bisa juga bukan karena tidak tahu, tetapi menganggap enteng urusan seperti ini. Dikiranya melanggar ketentuan syariah dalam masalah ini tidak mengapa, karena memang selama ini agama yang dijalankannya hanya sebatas masalah ritual dan syiar-syiar belaka.

"Padahal, ini merupakan bentuk ketaatan kita kepada Allah untuk menjalankan semua perintahnya, tanpa kecuali jika kita ingin mengharapkan keridhaan-Nya dalam hidup ini," sebutnya.(*)

Rubrik

Komentar

Loading...