Mawardi Klaim 50 Persen Lebih Mantan Kombatan GAM Dukung Pasangan Putih

Mawardi Klaim 50 Persen Lebih Mantan Kombatan GAM Dukung Pasangan Putih
Mawardi saat menyampaikan orasi politik (BERIRAKINI.CO/Irwan Saputra)

BERITAKINI.CO, Banda Aceh | Calon Bupati Aceh Besar Mawardi Ali mengatakan, tak kurang dari 50 persen lebih mantan kombatan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) wilayah Aceh Besar mendukung penuh dirinya yang berpasangan dengan Husaini A Wahab (Waled Husaini) atau yang akrab dikenal pasangan putih.

Peryataan itu disampaikan Mawardi dalam orasi politiknya pada acara "Deklarasi Rabithah (persatuan) Alumni Ulama Dayah se-Aceh Besar Dukung Pasangan Putih" yang digelar di Lapangan Bola Kaki,  Desa Gampong Juroeng  Peujeura,  Kecamatan Ingin Jaya,  Kabupaten Aceh Besar,  Minggu (25/1272016).

Baca :Ribuan Alumni Dayah se-Aceh Besar Deklarasi Mendukung Pasangan Putih

“50 persen lebih mantan kombatan GAM Aceh Besar yang siap memenangkan pasangan putih adalah mereka yang berpikir objektif dan realistis," katanya.

Meski mendapat banyak dukungan, Mawardi tetap menekankan pada para pendukungnya agar tidak terpancing dengan berbagai intimidasi dan teror dari oknum tertentu. Apalagi sampai membalasnya dengan hal serupa.

Sementara untuk Rabithah Alumni Dayah Mawardi berjanji, jika dirinya bersama Waled Husaini nantinya terpilih, maka organisasi alumni dayah itu akan dijadikan mitra kerja pemerintah untuk membangun Aceh Besar.

“Maka itu saya meminta dukungan dan kerjasama dalam memenangkan pasangan putih,” ujarnya.

Karena dalam kondisi politik saat ini, para ulama dan santri menurut Mawardi harus ambil bagian untuk memperbaiki keadaan. Sebab, jika orang baik diam maka kekuasaan akan dikendalikan oleh orang-orang jahat.

Maka lahirlah kebijakan-kebijakan yang mementingkan kelompok, sementara kesejahteraan masyarakat diabaikan, dan kondisi inilah menurutnya yang tengah dirasakan oleh masyarakat Aceh Besar.

“Sekarang kita bisa melihat, bagaimana masyarakat menderita dalam kemiskinan, dayah-dayah ditelantarkan, moral dan akidah jauh dari faham Ahlussunnah Wal Jamaah. Sementara pemerintah tidak mau memperdulikannya,” ujarnya.

Padahal, katanya, seorang pemimpin itu harus bisa mengayomi rakyatnya baik dunia maupun di akhirat.

Oleh karena itu dia berjanji, jika nantinya masyarakat Aceh Besar memberi kepercayaan kepada dirinya bersama Waled Husaini maka langkah pertama yang akan diambil adalah menata kembali sistem pemerintahan baik, kesejahteraan dan moral.

Karena menurutnya, begitu terasa ketimpangan yang terjadi antar daerah di Aceh Besar,  padahal Aceh Besar adalah daerah yang memiliki potensi yang melimpah baik di gunung,  di darat,  di laut,  tapi yang terjadi dimana-mana adalah kerusakan.

Begitupun moral masyarakat Aceh Besar saat ini,  seolah-olah ini bukanlah Aceh Besar,  daerah yang telah melahirkan ulama-ulama besar,  para syuhada dan pemimpin-pemimpin baik tingkat lokal maupun nasional.

"Oleh karena itu dengan sedikit  pengalaman dan ilmu kepemerintahan yang pernah saya miliki di DPRA, bersama Waled Husaini sebagai tokoh agama kami ingin memperbaiki Aceh Besar agar lebih sejahtera baik ekonomi pendidikan maupun agama," katanya.

Dia mengatakan nantinya tidak akan ada lagi dalam kepemerintahnnya kepala sekolah dasar diangkat sebagai kepala dinas, melainkan haruslah orang-orang yang profesional dan faham dalam bidang yang dibidangninya.

Dalam urusan pendidikan, dia mengatakan akan memperlakukan sistem belajar sehari penuh, setengah hari untuk belajar umum sementara setengah harinya lagi untuk belajar agama. (*) 

Rubrik

Komentar

Loading...