Mahkamah Syar’iyah Aceh Vonis Bebas Terdakwa Pemerkosa Keponakan, Dek Gam: Preseden Buruk Penegakan Hukum

Mahkamah Syar’iyah Aceh Vonis Bebas Terdakwa Pemerkosa Keponakan, Dek Gam: Preseden Buruk Penegakan Hukum
Anggota Komisi III DPR RI, Nazaruddin Dek Gam

BERITAKINI.CO, Banda Aceh | Anggota Komisi III DPR RI Nazaruddin Dek Gam mengaku kaget mengetahui Mahkamah Syar’iyah Aceh memvonis bebas terdakwa pemerkosa anak di bawah umur.

Dia adalah Diki Pratama (35), pria asal Lhoknga, Kabupaten Aceh Besar.

Dek Gam pun mengaku kecewa atas vonis bebas Diki yang merupakan paman korban tersebut. 

Lihat: Mahkamah Syar’iyah Aceh Vonis Bebas Terdakwa Pemerkosa Keponakan 

Menurutnya, putusan bebas tersebut menjadi preseden buruk terhadap penegakan hukum di Aceh, khususnya pada kasus-kasus kejahatan seksual terhadap perempuan dan anak.

"Saya minta jaksa segera ajukan kasasi, dan saya akan kawal kasus ini di Mahkamah Agung. Karena penilaian saya ada yang aneh dalam kasus ini," katanya dalam keterangan tertulis yang diterima BERITAKINI.CO, Senin (24/5/2021).

Lihat: Terdakwa Pemerkosa Keponakan Divonis Bebas, Kejari Aceh Besar Ajukan Kasasi

Dek Gam mengungkapkan kalau penyidik kepolisian pasti bekerja sesuai dengan hasil pemeriksaan terhadap korban, serta psikolog. Sehingga kalau bukan ayah dan pamannya sebagai pelaku, tidak mungkin korban yang masih di bawah umur berani menuduh keduanya sebagai pelaku.

"Karena ayah dan paman sebagai pelaku, makanya korban berani bicara jujur kepada penyidik, dan berdasarkan perkataan korban polisi menangkap pelaku," jelas Politisi PAN itu.

Selain itu, Dek Gam meminta Lembaga Pelindungan Saksi dan Korban (LPSK) untuk melakukan pendampingan terhadap korban, agar jangan sampai korban diintervensi oleh terdakwa.

"Korban harus benar-benar dilindungi, jangan ada pihak-pihak yang kemudian menekan anak itu, apalagi anak kecil, sedikit diancam sudah ketakutan," ujarnya.

Terakhir, Dek Gam meminta Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Aceh, untuk benar-benar mendampingi korban hingga psikologi korban bisa kembali pulih atas kasus tersebut.

"Semua pihak harus mengawal kasus ini, ini sangat mencoreng Aceh yang berlebel Syariat Islam, terdakwa pemerkosaan bisa bebas," kata Dek Gam.

Diketahui sebelumnya, Majelis Hakim Mahkamah Syar’iyah Aceh membatalkan putusan Mahkamah Syar’iyah Jantho yang memvonis Diki Pratama 16,6 tahun penjara.

Majelis Hakim Mahkamah Syar’iyah Aceh diketuai Misharuddin, dan M Yusar serta Khairil Jamal, masing-masing sebagai hakim anggota, lantas mengambil alih dan mengadili sendiri perkara itu. 

Hasilnya, pada Kamis, 20 Mei 2021, hakim pun memutuskan bahwa Diki tak terbukti bersalah. 

"Menyatakan terdakwa Diki Pratama tidak terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan jarimah pemerkosaan terhadap orang yang memiliki hubungan mahram dengannya sebagaimana dakwaan alternatif kedua yang diatur dalam Pasal 49 Qanun Aceh Nomor 6 Tahun 2014 Tentang Hukum Jinayah," begitu antara lain bunyi putusan tersebut.

Hakim juga memutuskan membebaskan Diki dari segala tuntutan hukum serta memerintahkan agar dia dikeluarkan dari tahanan.

Sementara sebelumnya, Majelis Hakim Mahkamah Syar’iyah Jantho menjatuhkan hukuman selama 200 bulan atau 16,6 tahun penjara kepada Diki Pratama.

Lihat: Ayahnya Dibebaskan, MS Jantho Vonis Paman Pemerkosa Keponakan 16,6 Tahun Penjara

Diki dinyatakan terbukti secara sah dan meyakinkan telah melakukan jarimah pemerkosaan terhadap orang yang memiliki hubungan mahram dengannya sebagaimana ketentuan Pasal 49 Qanun Nomor 6 Tahun 2014 tentang Hukum Jinayat.

Sementara ayah kandung korban, Muhammad Akbar (33), yang juga dituntut melakukan hal serupa, dibebaskan karena dinilai tak terbukti bersalah.

Rubrik

Komentar

Loading...