Lolos dari Tuntutan Mati, PN Bireuen Vonis Enam Penyeludup 343 Kg Sabu Hukuman Seumur Hidup

Lolos dari Tuntutan Mati, PN Bireuen Vonis Enam Penyeludup 343 Kg Sabu Hukuman Seumur Hidup
Polisi mengamankan ratusan kg sabu

BERITAKINI.CO, Bireuen | Hakim Pengadilan Negeri Bireuen menjatuhkan hukuman seumur hidup kepada enam dari tujuh terdakwa penyeludup 343 kg sabu.

Vonis dibacakan pada sidang pamungkas pada Kamis, 25 November 2021.

Keenam terdakwa tersebut yakni Nurman, Edy Saputra, Agus Salim, Faisal, Muhammad Anwar dan Murtala Jalil. Sedangkan satu terdakwa lainnya yakni Kamaruddin dinyatakan tidak bersalah.

Lihat juga: Polisi Sita Ratusan Kilogram Sabu di Kapal Tak Bertuan di Bireuen

Majelis Hakim yang diketuai Rosainah bersama Mukhtaruddin dan Lutfan, masing-masing sebagai anggota, menyatakan keenam terdakwa terbuksi secara sah bersalah melakukan perbuatan menyimpan, menawarkan, membeli narkoba jenis sabu sebanyak 343 kg sebagai mana yang diatur dalam Pasal 114 ayat 2 UU Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika Jo Pasal 55 ayat 1 kesatu KUHP. 

Vonis seumur hidup tersebut telah membuat keenam terdakwa lolos dari jerat hukuman mati, di mana JPU sebelumnya menuntut mereka dengan hukuman mati. 

Meski begitu, lima dari enam terpidana langsung mengajukan banding atas vonis seumur hidup tersebut.

Mereka adalah Edy Saputra, Agus Salim, Faisal, Muhammad Anwar dan Murtala. Sedangkan Nurman menyatakan pikir-pikir.

Kronologi Penyeludupan

Dilihat dari berkas tuntutan JPU, penyeludupan narkoba tersebut berlangsung pada Agustus 2020 lalu. 

Di mana terdakwa Agus Salim, yang saat itu berada di Lapas Lhokseumawe, mendapat order dari seorang yang bernama Johnson (saat ini buronan), untuk mencarikan pengemudi kapal boat untuk menjemput narkoba tersebut di tengah laut. 

Menyanggupi hal tersebut, Agus menghubungi rekannya Muhammad Anwar untuk mencarikan 

nahkoda tersebut dan Anwar menelpon Edy Saputra. Tertarik dengan imbalan sebesar Rp 10 juta per kilogram, lantas Edy mengajak rekannya Murdani dan Murtala untuk menjemput sabu itu di tengah laut.

Dalam proses penjemputan sabu, Agus Salim memberikan nomor Wandi (buron) kepada Anwar untuk diteruskan kepada Edy Saputra agar proses transaksi pemindahan barang yang direncanakan sebanyak 115 kg dapat dilaksanakan. Namun transaksi itu gagal karena Murdani dan Murtala yang ditugaskan Edy untuk menjemput sabu dari arahan Wandi dan Hendra (buron) terhambat karena tidak memiliki alat komunikasi satelite.

Setelah permasalahan komunikasi satelit dan mesin diurus oleh biaya Rasyidin (buron) untuk telepon satelit dan Irwan Saputra (buron) untuk masalah kerusakan mesin yang sempat rusak akhirnya kendala tersebut selesai.

Pada tanggal 25 Januari 2021 sekitar pukul 23.00 WIB, Murdani, Kamaruddin, Sulaiman, Nurman, berangkat ke tengah laut Pulau Simeulue dengan kapal ikan KM Tuah Sempurna. 

Pada pukul 02.00 WIB, satu kapal kayu besar yang ditumpangi 20 warga negara Asing merapat. 

Sekitar 800 Kg sabu dipindahkan dari kapal asing tersebut ke atas kapal KM Tuah Sampurna. Selanjutnya, KM Tuah Sampurna membawa sabu tersebut ke perairan di Kecamatan Jeunieb, Kabupaten Bireuen.

Pada 26 januari 2021 pukul 16.00 WIB, Murdani menghubungi Irwan dan diperintahkan oleh Irwan untuk membawa sabu tersebut ke Desa Matang Bangka, Kecamatan Jeunieb, Kabupaten Bireuen.

Dalam perjalan, dua kapal boat jenis Oskadon mendekat dan mengambil 222 Kg dalam 8 karung goni dan pada pukul 02.00 WIB mereka kembali lagi mengambil sebanyak 15 karung atau seberat 235 kg sabu.

Namun dua kapal boat oskadon tersebut dilaporkan tertangkap polisi.

Mengetahui itu, Irwan menghubungi Murdani sehingga dia panik dan melompat dari KM Tuah Sampurna.

Praktis, di KM Tuah Sampurna hanya tinggal Kamaruddin, Sulaiman, dan Nurman.

Mereka pun merapatkan KM Tuah Sampurna ke perairan terdekat di Pantai Pandrah, Kabupaten Bireuen. Lalu segera meninggalkan kapal tersebut.

Pada 27 Januari 2021, aparat kepolisian pun menggeladah kapal tersebut dan menemukan 24 empat karung berisi 343 kg sabu. | Tompul

Rubrik

Komentar

Loading...