Lima Manuskrip Al Quran Tertua di Dunia, di mana Saja Tersimpan?

Lima Manuskrip Al Quran Tertua di Dunia, di mana Saja Tersimpan?

BULAN Ramadan adalah bulan spesial bagi umat muslim. Setiap perbuatan baik mendapat ganjaran yang jauh lebih besar. 

Bukan hanya salat, membaca Al-Quran juga dijanjikan ganjaran pahala yang berlipat-lipat. 

Ya, Al Quran adalah kitab suci keempat yang menjadi penyempurna kitab-kitab sebelumnya. Al Quran dijadikan sebagai pedoman bagi pemeluk agama Islam. 

Kitab suci ini memang diturunkan oleh Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW sebagai mukjizat terbesar.

Pada zaman Nabi Muhammad SAW, Al Quran masih belum berbentuk mushaf seperti sekarang ini.

Namun disimpan melalui hafalan para sahabat atau ditulis di daun lontar, kulit hewan, daun layu, pelana, lempengan batu, hingga potongan tulang binatang.

Menurut ahli sejarah, para sahabat Rasulullah SAW yang menuliskan kembali wahyu Allah berdasarkan hafalan mereka. Penyusunan kembali Al Quran ini dicetuskan oleh Khalifah Abu Bakar Ash Shiddiq atas usulan dari Umar Bin Khatab dan sejumlah sahabat lainnya.

Ribuan tahun berlalu,  dengan media yang digunakan tentu membuat naskah Al Quran tak benar-benar bisa bertahan melewati perubahan zaman. Kini kita sudah dengan mudah membaca Al Quran dengan mushaf yang tersusun rapi, bahkan ada terjemahannya pula supaya lebih mudah memahami maknanya.

Meskipun demikian, manuskrip Al Quran masih disimpan di tempat-tempat yang paling aman sebagai saksi sejarah berupa benda mati. Berikut lima manuskrip Al Quran tertua di dunia termasuk mushaf pada masa Rasulullah SAW, seperti dilansir dari liputan6.com:

Naskah Al Quran di Universitas Birmingham, Inggris

Naskah Al Quran tertua di dunia ternyata disimpan di Universitas Birmingham, Inggris. Penemuan naskah ini sebenarnya tidak disengaja. Manuskrip Al Quran itu tergabung dalam Mingana Collection.

Mingana Collection merupakan kumpulan naskah yang terdiri dari 3 ribu dokumen Timur Tengah yang dikumpulkan oleh Alphonse Mingana, seorang Imam Kasdim yang lahir dekat Mosul, Irak pada 1920-an.

Lalu oleh seorang ahli dilakukan uji penanggalan radiocarbon yang akhirnya mengungkap fakta bahwa naskah tertua tersebut setidaknya berusia 1.370 tahun. Tentu saja ini menjadikannya sebagai salah satu naskah Al Quran versi paling awal. Manuskrip AL Quran itu ditulis dengan huruf Hijazi, yaitu versi awal huruf arab.

Dosen pengetahuan tentang Kristen dan Islam di Universitas Birmingham, Profesor David Thomas mengatakan berdasarkan data penanggalan radiocarbon, dimungkinkan orang yang menulis naskah tersebut hidup di masa yang sama dengan Rasulullah Saw.

“Sosok yang menulis naskah tersebut mungkin mengenal sosok Nabi Muhammad. Ia mungkin bertemu dengan sang Rasul, mungkin juga mendengar langsung syiarnya. Penulis itu bisa jadi mengenal sosok Nabi secara pribadi,” jelasnya.

Naskah yang Disimpan di Universitas Tubingen, Jerman

Naskah Al Quran tertua di dunia yang kedua adalah Tubingen fragment yang disimpan di Universitas Tubingen, Jerman. Naskah ini diperkirakan ditulis pada tahun 649 M – 675 M, yaitu 2- sampai 40 tahun setelah meninggalnya Nabi Muhammad Saw.

Manuskrip Tubingen Fragment ini telah berada di Jerman sejak abad ke-19 ketika Konsulat Prusia pertama untuk Damaskus, Johann Gottfried Wetzstein menerima sejumlah manuskrip Arab Kuno.

Bertahun-tahun kemudian dilakukan uji penanggalan radiocarbon yang menunjukkan manuskrip ini merupakan salah satu Al Quran tertua di dunia.

Manuskrip Sana’a di Masjid Agung Sana, Yaman

Manuskrip Sana’a diyakini sebagai salah satu Al Quran tertua di dunia yang masih bisa terselamatkan. Naskah ini pertama kali ditemukan pada tahun 1972 saat renovasi Masjid Agung Sana’a di Yaman. Pekerja konstruksi menemukan banyak sekali naskah dan perkamen Al Quran dan non Al Quran yang kurang terpelihara dan rusak parah.

Manuskrip Sana tersebut diidentifikasi sebagai bagian dari Al Quran pada tahun 1981. Sejak itu pula Departemen Kepurbakalaan Yaman dengan bantuan dari universitas asing, telah bekerja untuk memulihkan pecahan-pecahan itu. Usai diuji penanggalan dengan radiocarbon, manuskrip ini diperkirakan ada sejak tahun 632 M – 671 M.

Codex Parisino-Petropolitanus yang bagiannya tersebar di Rusia, Prancis, Vatikan, dan London

Manuskrip Al Quran ini adalah sebuah naskah Al Quran yang terdiri dari 98 folio. Naskah ini diperkirakan berasal dari akhir abad ke-7 atau awal abad ke-8. Naskah ini ditemukan bersama dengan beberapa fragmen Al Quran di Masjid Amr di Fustat, Mesir.

Selama ekspedisi Napoleon pada akhir abad ke-18, sarjana Prancis Jean-Joseph Marcel membeli beberapa folio dan Jean Louis Asselin de Cherville membeli beberapa halaman lagi beberapa tahun kemudian.

Penelitian yang dilakukan oleh Yassin Dutton menunjukkan bahwa naskah itu kemungkinan besar ditulis di Suriah sebagaimana ditulis dalam qiraat (bacaan-bacaan) dari Ibnu Amir dari Damaskus, Suriah.

Saat ini bagian dari manuskrip ini disimpan di 4 institusi yang berbeda. Yakni 70 folio di Bibliotheque nationale de France, Paris, kemudian 26 folio di perpustakaan nasional Rusia di Saint Petersburg, Rusia, lalu 1 folio di Perpustakaan Vatikan, dan 1 folio di Khalili Collection di London.

Naskah Topkapi di Museum Istana Topkapi, Istanbul, Turki

Berbeda dengan sejumlah Al-Quran di atas yang hanya berupa fragmen-fragmen atau bagian, naskah Topkapi merupakan embrio dari Al-quran yang kita baca saat ini.

Naskah ini berisi lebih dari 99% teks Al-Quran. Dengan hanya dua halaman (23 ayat) yang kurang. Hal ini membuat naskah Topkapi ini adalah yang naskah Quran tertua yang paling lengkap.

Naskah Topkapi kini disimpan di Museum Istana Topkapi, Istanbul, Turki. Diperkirakan naskah yang berukuran 41 cm x 46 cm ini ditulis pada pertengahan abad ke-8 dan dikaitkan dengan masa pemerintahan Khalifah Utsman Bin Affan.

Rubrik

Komentar

Loading...