Kisah Tembakau Gayo yang Sempat Terlupakan Kini Jadi Industri

Kisah Tembakau Gayo yang Sempat Terlupakan Kini Jadi Industri

DATARAN tinggi Gayo tak hanya dikenal sebagai daerah penghasil kopi. Wilayah ini juga memiliki komoditi unggulan lainnya yakni tembakau. Bahkan, petani tembakau telah ada sejak jaman dahulu.

“Namun sempat hampir punah atau hilang karena masyarakat merasa enggan membudidaya,” kata Ibnu, pemilik PR Bako Gayo.

Padahal, kata Ibnu, tembakau Gayo memiliki cita rasa dan kualitas yang tak kalah dari daerah penghasil tembakau lainnya.

Itulah sebabnya, Ibnu mengajak sejumlah petani memulai untuk membudidaya tanaman tembakau, yang awalnya di Kecamatan Bintang.

“Karena masyarakat Gayo merupakan petani penghasil tembakau juga, maka kami berfikir, mereka pasti akan kembali bersemangat,” kata Ibnu.

Pada panen perdana, tembakau diolah menjadi bahan baku (tembakau gayo).

“Lantas saya berfikir, mengapa rokok yang dikonsumsi khususnya masyarakat dataran tinggi Gayo dan umumnya Aceh merupakan produk dari luar sedangkan kita adalah penghasil tembakau yang tidak kalah aroma dan mutunya dengan tembakau dari daerah lain,” kata Ibnu, pemilik PR Bako Gayo.

Muncullah inisiatif untuk mengemas tembakau tersebut bentuk rokok untuk dipasarkan, mulai dari kios-kios kelontong, kafe, dan juga untuk pengiriman ke daerah lain.

“Dengan kita kembangkan tembakau Gayo maka petani tembakau di dataran kembali bersemangat untuk menanam kembali tembakau,” katanya.

PR. BAKO GAYO membina beberapa petani dimulai dari masalah penanaman, perawatan, pemanenan hingga pengolahan menjadi bahan baku (tembakau Gayo).

Pembinaan tersebut berjalan di beberapa daerah, pertama kali di Kecamatan Bintang, lalu ke Kecamatan Lut Tawar, dan berlanjut ke beberapa kecamatan lainnya di kabupaten Aceh Tengah.

Seiring mengembangkan tembakau Gayo dan membina petani tembakau, kata dia, didirikan pula koperasi yang dinamakan Koperasi Produsen Bintang Bako Gayo. Dan telah membentuk beberapa kelompok tani dan berpropesi sebagai petani tembakau yang melakukan budidaya tembakau yang berada di Kecamatan Bintang dan Kecamatan Lut Tawar.

Pada tahun 2018 dengan bimbingan dan bantuan serta berkonsultasi dengan Dinas Pertanian Aceh Tengah, Dinas Pertanian dan Perkebunan Aceh, serta Kanwil Bea Cukai Lhokseumawe,  PR Bako Gayo berupaya untuk melegalkan usaha rokok tersebut.

“Juga tidak terlepas untuk usaha pembangunan perusahaan rokok dibina oleh Dinas Perindustrian, Dinas Perijinan dan Penanaman Modal Kabupaten Aceh Tengah. Tepatnya pada Agustus 2019, Kanwil Bea Cukai Kota Lhokseumawe dan mengajak kami melakukan Studi Banding ke Cirebon, Jawa Barat untuk lebih mendalami tentang rokok, disana kami diperkenalkan cara melinting, mengepak, dan meramu berbagai tips tentang rokok,” katanya.

“Alhamdulillah pada 9 April 2020  kami akhirnya kami berhasil membuat dua produk rokok yaitu Ekspansi Gayo dan Hill Gayo, dan mendapatkan Piagam Penghargaan dari Bea Cukai Lhokseumawe sebagai Pabrik Rokok Pertama di Aceh yang berhasil mendapatkan NPPBKC, serta berhasil menyumbang pemasukan negara dari sektor cukai sebesar Rp 53,8 juta,” katanya.

Komentar

Loading...