Kerap Disebut Konspirasi, Ternyata Begini Proses Pembuatan Vaksin Corona Sebelum Disuntik ke Manusia

Kerap Disebut Konspirasi, Ternyata Begini Proses Pembuatan Vaksin Corona Sebelum Disuntik ke Manusia

BERITAKINI.CO, | Hingga saat ini, upaya pencarian vaksin corona masih terus dilakukan di seluruh dunia. Beberapa perusahaan farmasi global telah memasuki tahap akhir pengujian vaksin pada manusia, sebut saja Pfizer, Moderna, atau Sinovac, yang sudah memasuki tahap ketiga uji klinis vaksin Covid-19.

Perlu diketahui, membuat vaksin tidak semudah meracik jamu antiradang. Proses dan tahapan yang panjang menjadi bagian dari pengembangan vaksin tersebut. Setiap vaksin diciptakan karena ada alasan-alasan tertentu, salah satunya adalah terjadi wabah penyakit yang menyebar secara global dengan tingkat penularan sangat tinggi.

Wabah ini disebabkan oleh patogen atau mikroorganisme berbahaya yang masuk ke dalam tubuh manusia dan menimbulkan sejumlah risiko berbahaya atau bahkan kematian, salah satunya adalah virus corona SARS-CoV-2 penyebab penyakit Covid-19. Covid-19 ini merupakan penyakit zoonosis atau penyakit dan infeksi yang dapat ditularkan dari hewan ke manusia.

Di sinilah vaksin berperan. Vaksin dibuat sebagai upaya mencegah penyakit menular tersebut menginfeksi tubuh manusia. Hal ini karena vaksin dapat memberikan antibodi atau kekebalan tubuh terhadap penyakit yang disebabkan virus.

Tahapan pembuatan vaksin

Menurut Centers for Disease Control and Prevention (CDC) setidaknya ada enam tahap pembuatan vaksin, yakni:

  • Tahap eksplorasi
  • Tahap praklinis
  • Perkembangan klinis
  • Tinjauan peraturan dan persetujuan
  • Manufaktur
  • Kontrol Kualitas

Secara garis besar, tahap pembuatan vaksin di seluruh dunia itu sama. Dalam kasus pandemi corona, Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan Covid-19 Wiku Adisasmito, membagi alur pengembangan vaksin Covid-19 dari awal sampai akhir menjadi setidaknya empat tahap paling umum.

Tahap I (Eksplorasi)

Wiku mengatakan, dalam alur pengembangan vaksin, proses awal yang harus dilakukan adalah penelitian dasar. Pada saat penelitian dasar, peneliti akan menelusuri mekanisme potensial berdasarkan ilmu yang dipakai, science dan biomedical. Ilmuwan bakal meneliti virus yang menginfeksi manusia, termasuk menganalisis sel virus dan mencari tahu di mana virus itu mereplikasi diri.

 “Kita ingin melihat bagaimana reaksi sel-sel yang diperbanyak ini, kemudian diekstraksi virusnya dalam jumlah yang lebih banyak. Proses ini biasanya mulai dilakukan pembuatan vaksin dalam jumlah yang terbatas,” jelas Wiku dalam konferensi pers virtual beberapa waktu lalu.

Tahap II (Praklinis)

Sebelum memasuki uji klinis, vaksin harus melalui uji praklinis terlebih dahulu. Uji praklinis dilakukan untuk memastikan vaksin yang baru dibuat diuji terlebih dahulu pada sel dan memberikannya pada hewan percobaan. Proses ini sering disebut sebagai studi in vitro dan in Vivo.

Uji praklinis ini dilakukan untuk mengetahui keamanan vaksin bila nanti diuji coba ke manusia. “Proses ini kita ingin memastikan bahwa sel-sel atau badan sel yang dimatikan dari virus diambil dan dimodifikasi supaya bisa menjadi bahan vaksin yang tepat, sebelum diberikan pada manusia,” kata Wiku.

Tahap III (Uji klinis)

Uji klinis memiliki tiga fase. Fase pertama, vaksin diberikan kepada manusia dengan jumlah sampel minimal 100. Fase pertama uji klinis bertujuan untuk menilai keamanan dosis aman vaksin serta menilai farmaco kinetik dan dinamik. Termasuk memastikan bahwa vaksin dapat merangsang sistem kekebalan tubuh.

Setelah uji klinis fase I berjalan dengan baik, selanjutnya vaksin akan memasuki uji klinis fase II. Pada uji klinis fase II ini biasanya melibatkan jumlah sampel 100 hingga 500 orang. Studi dilakukan untuk memastikan dan menilai keamanan pada manusia dapat tercapai, termasuk menilai efektivitas serta menentukan rentan dosis optimal dan frekuensi pemberian dosis paling optimal dan efek samping jangka pendek.

Uji klinis fase III atau akhir dilakukan dengan melibatkan lebih banyak sampel, ratusan hingga ribuan orang. Ini dilakukan untuk memastikan keamanan, efektivitas, keuntungan yang melebihi risiko penggunaan pada populasi lebih besar.

Tahap IV (Persetujuan)

Jika uji klinis fase III berjalan dengan lancar di mana vaksin dapat memicu kekebalan tubuh dan aman digunakan, tahap selanjutnya adalah persetujuan yang bakal dilakukan oleh otoritas kesehatan setempat, dalam hal ini Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).

Regulator di setiap negara akan meninjau hasil uji coba dan memutuskan apakah vaksin akan disetujui penggunaannya atau tidak. Persetujuan diperlukan untuk pendistribusian vaksin ke seluruh rumah sakit.

“Kita pastikan mendapatkan persetujuan dari Badan Pengawasan Obat dan Makanan (Badan POM) semua proses uji ini sudah berjalan dengan baik maka bisa masuk ke dalam proses persetujuan yang dilanjutkan dengan pembuatan vaksin dalam jumlah besar,” jelas Wiku.

Komentar

Loading...