Kata Polisi Soal Penggunaan UU Perlindungan Anak Terhadap Kasus Pencabulan Pimpinan dan Guru Dayah di Lhokseumawe

Kata Polisi Soal Penggunaan UU Perlindungan Anak Terhadap Kasus Pencabulan Pimpinan dan Guru Dayah di Lhokseumawe

BERITAKINI. CO, Lhokseumawe | Penyidik Sat Reskrim Polres Lhokseumawe masih terus melakukan pemeriksaan terhadap saksi-saksi terkait kasus dugaan pencabulan yang dilakukan AI (45) dan MY (26).

"Sudah tujuh saksi kita periksa dan kami perkirakan masih ada beberapa saksi lagi yang akan kita mintai keterangan,” katanya Kasat Reskrim Polres Lhokseumawe AKP Indra T Herlambang, kemarin.

Sejauh ini, kata Indra, penetapan status tersangka AI dan MY dilakukan atas dasar laporan lima santri dan sejumlah alat bukti yang telah diperoleh.

Polisi juga menghimbau para wali murid untuk melaporkan jika anaknya juga menjadi korban.

Baca: Pelecehan Anak di Bawah Umur, Polisi Tangkap Pimpinan dan Guru Dayah di Lhokseumawe

Penyidik juga merespon desakan publik ihwal penggunaan Undang-Undang Perlindungan Anak dalam proses kasus tersebut.

Ini sejurus dengan beredarkan informasi tentang ancaman hukuman terhadap tersangka yakni pidana cambuk paling banyak 90 kali atau denda paling banyak 900 gram emas murni atau penjara 10 bulan.

"Terkait penambahan UU Perlindungan Anak, hal itu nanti kita jelaskan kembali, mungkin dalam minggu ini kita akan menjelaskan kembali," kata Indra.

Dia juga menanggapi terkait surat permohonan penangguhan penahanan yang diajukan oleh tersangka yang masih belum dipenuhi oleh Polres Lhokseumawe.

Baca: Kuasa Hukum Pertanyakan Penangguhan Penahanan Pimpinan dan Guru Dayah Tersangka Pencabulan Santri di Lhokseumawe

"Iya, untuk surat permohonan itu belum kita penuhi, masih dalam proses, masih dipertimbangkan," katanya. | RISKITA

Rubrik

Komentar

Loading...