Kasus Positif Covid-19 Terus Meningkat, Pak Nova Ini Saran IDI Aceh

Kasus Positif Covid-19 Terus Meningkat, Pak Nova Ini Saran IDI Aceh
Ketua IDI Aceh Safrizal Rahman

BERITAKINI.CO, Banda Aceh | Ketua IDI Aceh Safrizal Rahman menilai Pemerintah Aceh perlu segera menerbitkan kebijakan sebagai landasan hukum untuk menekan tingkat penularan Covid-19 yang belum juga bisa dikendalikan.

“Kalau saya melihat ya, Pemerintah Aceh mau tidak mau harus mengambil kebijakan untuk melindungi rakyat dari paparan Covid-19,” kata Safrizal saat diminta tanggapannya atas fenomena kasus Covid-19 di Aceh, Rabu, 2 September 2020.

Safrizal mengatakan dapat memahami langkah pemerintah yang sedang menjalankan langkah-langkah seperti menyiapkan mesin PCR agar pemeriksaan bisa lebih aktif, menyiapkan rumah sakit supaya mampu menampung pasien-pasien Covid-19.

“Tapi perlu kebijakan-kebijakan bagaimana supaya tidak bertambah kasus. Untuk ini kita hampir tidak ada kebijakan, sehingga barang kali para penegak hukum tidak tau mau menegakkan hukum apa terhadap mereka yang berpotensi melakukan penularan, terhadap warung-warung yang buka hingga malam tanpa penerapan protokol Covid-19,” jelasnya.

“Jadi tidak ada tindakkan yang bisa dilakukan kalau tanpa aturan.”

Safrizal mengaprersiasi beberapa pemerintah kabupaten/kota, seperti Kota Banda Aceh yang sudah mengeluarkan perwalkot penegakkan hukum protokol kesehatan.

Lihat juga: 

Langsa juga sudah mengajukan pengaktifan jam malam.

"Ini kebijakan-kebijakan yang dilihat oleh rakyat sebagai langkah atau usaha untuk melindungi, walau pun pasti ada pro dan kontra," katanya.

“Kalau saya ditanya, kebijakan apa yang paling penting? Kebijakan apapun yang tujuannya untuk mengurangi pergerakan orang. Jangan terlalu banyak berkumpul, untuk menghidari penularan dari orang ke orang.”

Safrizal menilai, total 1.696 kasus infeksi positif yang tercatat sejauh ini,  bukanlah angka yang sepenuhnya ril.

Ia meyakini, jumlah itu hanya lah 20 sampai 30 persennya dari situasi saat ini.

“Kalau kita lihat hari ini dengan 1.696 kasus, saya yakin itu hanyalah 20 sampai 30 persennya. Karena mereka bergejala dan kontak erat dengan pasien, maka mereka diperiksa,” katanya.

Safrizal meyakini terdapat angka yang lebih besar terutama kontribusi dari orang-orang yang tidak bergejala.

“Itu ada di tempat kita, dan dari hari ke hari menginfeksi orang lain,” katanya.

Safrizal mengatakan, secara medis, penghentian penyebaran ini dapat dilakukan dengan mengeluarkan kebijakan pembatasan.

“Kapan kita mau akhiri kalau tidak dengan menghentikan pergerakan untuk menekan penyebaran,” katanya.

IDI Aceh merasa, jika pembatasan-pembatasan itu tidak dilakukan, ke depan ia yakin Aceh akan semakin berat.

“Saat ini, kita rangking bawah penanganan Covid-19, dengan penambahan kasus positif termasuk yang paling tinggi di Indonesia,” katanya.

Bahkan ada rilis dari Laboratorium Unsyiah mengatakan sebanyak 25 persen dari total spesimen yang diperiksa, terkonfirmasi positif.

“Ini besar,” kata Safrizal.

“Barang kali jika ditambah dengan laboratorium Siron, Aceh Besar, positivity rate kita itu ada di 15 persen.”

Penularan yang terus terjadi dinilai tak lepas dari belum optimalnya upaya penanganan yang selama ini berjalan.

“Saat ini, kita rangking bawah penanganan Covid-19, sementara penambahan kasus positif termasuk yang paling tinggi di Indonesia,” kata Safrizal Rahman.

Safrizal menjelaskan, angka positivity rate di atas 15 persen menandakan adanya penanganan Covid-19 yang tak terkontrol atau tidak terkendali.

“Di bawah 10 persen, masih dalam kendali. Di bawah 5 persen, itu yang disarankan, kita bisa new normal, kita bisa aktivitas,” katanya.

Karena itu, saat-saat seperti ini, katanya, penting menunggu kebijakan pemerintah terkait Covid-19 ini.

“Yang paling ingin dilihat masyarakat saat ini adalah langkah pemerintah dalam rangka menyelamatkan banyak nyawa yang barang kali ke depannya akan menjadi korban jika penularan terus terjadi,” katanya.

Lihat juga video terkait penegakkan protokol Covid-19 di Banda Aceh:

Rubrik

Komentar

Loading...