Jumlah Pengangguran di Aceh Masih Tertinggi di Sumatera

Jumlah Pengangguran di Aceh Masih Tertinggi di Sumatera

BERITAKINI.CO, Banda Aceh | Hasil kajian Institute for Development of Acehnese Society (IDeAS) berdasarkan publikasi BPS RI tentang kondisi ketenagakerjaan di Indonesia pada Jumat 5 Mei 2017 menunjukkan tingkat pengangguran Aceh masih yang tertinggi dari seluruh Provinsi di Sumatera.

Periode Februari 2017 jumlah pengangguran Aceh mencapai 172 ribu orang, mengalami peningkatan sebesar 1000 orang dibandingkan dengan kondisi Agustus 2016 lalu yaitu 171 ribu (7,73 persen).

Namun, secara persentase Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Aceh Februari 2017 sebesar 7,39 persen, turun 0,18 persen dibanding kondisi Agustus 2017 sebesar 7,57 persen. Secara nasional, jumlah pengangguran mencapai 7,01 juta orang atau 5,33 persen.

Direktur IDeAS, Munzami Hs mengatakan, tingginya angka pengangguran ini harus menjadi pekerjaan rumah serius pemerintahan Aceh yang baru saja terpilih.

Jika dibandingkan dengan seluruh provinsi di Sumatera, Aceh adalah provinsi yang memiliki APBD tertinggi di Sumatera, namun kondisi kesejahteraan masyarakat Aceh justru paling rendah di Sumatera

“Dan tingkat pengangguran Aceh saat ini masih juara satu se Sumatera, begitu juga dengan tingkat kemiskinan, Aceh masih meraih predikat sebagai daerah termiskin kedua di Sumatera,” katanya.

Perlu juga diketahui, kata Munzami, transfer dana Otsus Aceh hanya untuk 10 tahun lagi, dalam 5 tahun kedepan Aceh masih menerima sebanyak 2 persen dari DAU nasional.

Sementara mulai 2023 hingga 2027 hanya mendapat 1 persen dari DAU.

“Hal ini tentu menjadi peringatan  bagi pemerintahan Aceh selanjutnya. Bisa diprediksi 10 tahun mendatang Aceh akan ‘banjir’ pengangguran dan terjadi ledakan angka kemiskinan jika sisa dana otsus tidak mampu menyelesaikan dua persoalan tersebut,” katanya.

Beberapa hal yang menjadi catatan IdeAS yang perlu segera diselesaikan, pertama adalah polemik regulasi KEK Arun Lhokseumawe.

Karena Pemerintah Aceh harus segera mempercepat pembangunan kawasan tersebut agar dapat menyerap tenaga kerja serta mendongkrak roda ekonomi masyarakat.

Kedua, pengelolaan sisa dana otsus harus lebih berorientasi pada peningkatan SDM dan membangkitkan roda ekonomi masyarakat Aceh, jangan setiap tahunnya dana otsus hanya tersedot untuk pembangunan fisik/infrastruktur.

“Apalagi kalau kita lihat saat ini, banyak bangunan fisik yang dibangun dengan dana otsus terbengkalai akibat tidak adanya perencanaan yang baik,” katanya.

Ketiga, perluasan lapangan kerja, selain segera mengaktifkan KEK Arun, Pemerintah Aceh perlu melakukan pembangunan sektor industri yang berbasis keunggulan lokal agar dapat menghasilkan nilai tambah bagi perekonomian Aceh, khususnya revitalisasi sektor pertanian, perkebunan, dan perikanan, karena sebagian besar tenaga kerja di Aceh bekerja sebagai petani, pekebun, nelayan.

“Intinya, berdayakan petani dan nelayan di Aceh,” katanya.(*)

Rubrik
Pidie Jaya-Ramadan

Komentar

Loading...