Jika Tidak Nurut, Russia akan Blokir Twitter dan Facebook

Jika Tidak Nurut, Russia akan Blokir Twitter dan Facebook

BERITAKINI.CO, Moskow | Pemerintah Rusia disebut akan memblokir sejumlah media sosial populer seperti Twitter dan Facebook.

Dilansir dari Guardian, Jumat (20/11/2020). Blokir tersebut akan diberlakukan jika perusahaan media sosial gagal memenuhi permintaan dari pemerintah untuk memindahkan data pengguna Rusia ke server yang terletak di dalam negara itu.

Kepala Lembaga Pengawas Komunikasi Rusia, Alexander Zharov mengatakan perusahaan-perusahaan barat tersebut diberi tenggat waktu sembilan bulan untuk memindahkan operasional mereka agar sejalan dengan undang-undang keamanan internet Rusia.

“Mereka sudah diberi waktu untuk menurut,” katanya.

Undang-undang yang disetujui pada tahun 2014 oleh presiden Rusia, Vladimir Putin, mewajibkan perusahaan domestik dan asing untuk menyimpan data pribadi warga Rusia di server di Rusia.

Mereka yang menolak akan didenda atau dilarang beroperasi di negara tersebut.

Pada 2016, Rusia telah memblokir LinkedIn, situs jaringan profesional.

Pekan lalu, Rusia memerintahkan Facebook dan Twitter untuk membayar denda 3.000 rubel (£ 36) atas penolakan mereka untuk mematuhi hukum.

“Namun, denda tersebut adalah jumlah minimum yang diizinkan berdasarkan hukum, dan skala hukuman akan terus meningkat,” katanya.

Sebenarnya, Rusia telah beberapa kali mengancam untuk memblokir kedua situs tersebut karena disebut melanggar hukum.

Baik Twitter dan Facebook banyak digunakan oleh oposisi anti-Putin untuk mengkoordinasikan demonstrasi dan mempublikasikan penyelidikan atas dugaan korupsi tingkat tinggi.

Sehingga, Kritikus mengatakan jika menyimpan data pribadi pengguna di Rusia akan memungkinkan pemerintah untuk mengakses informasi dan aktivitas para aktivis oposisi.

Wacara Zharov kepada Twitter dan Facebook muncul tak lama setelah parlemen Rusia menyetujui undang-undang yang memungkinkan Rusia memutus lalu lintas internet negara itu dari server asing.

Kritikus mengatakan langkah itu akan mengarah pada penyensoran yang lebih besar.

Sementara penulis RUU mengatakan itu bertujuan untuk membuat internet Rusia tidak rentan terhadap perang dunia maya.

Rubrik
Sumber
theguardian.com

Komentar

Loading...