Jadi Kurir Sabu, IRT Asal Pidie Jaya Diringkus Aparat Kepolisian di Aceh Besar

Jadi Kurir Sabu, IRT Asal Pidie Jaya Diringkus Aparat Kepolisian di Aceh Besar
Tersangka NG (paling kiri) bersama tersangka lainnya.

BERITAKINI.CO, Banda Aceh | NG (49), tak lagi bisa menjalankan tugasnya sebagai ibu rumah tangga (IRT), merawat anak dan melayani suami. Kini, perempuan asal Gampong Meugit Kayee Panyang, Kacamatan Bandar Dua, Kabupaten Pidie Jaya ini harus menghabiskan waktunya di balik jeruji Mapolresta Banda Aceh.

Polisi menangkap NG usai melakukan transaksi narkotika jenis sabu di salah satu warung kopi yang terletak di Jalan Rel Kereta Api Lama, Gampong Bineh Blang, Kecamatan Ingin Jaya, Kabupaten Aceh Besar, sekitar pukul 9.30 WIB, Sabtu, 14 Januari 2017 lalu.

“Petugas mendapat barang bukti sebanyak satu paket narkotika jenis sabu,” kata Kasatres Narkoba Polresta Banda Aceh, Kompol Syafran saat konferensi pers, Sabtu (21/1/2017).

Menurut Syafran, barang haram itu diperoleh tersangka dari bandar sabu yang akrab dipanggil Si Din (DPO) yang tercatat sebagai warga yang berdomisili satu desa dengannya.

Rencananya, kata Syafran, barang itu mau diberikan pada RZ (DPO) untuk dijadikan sample, dengan ketentuan, apabila sabu tersebut bagus, maka RZ akan membelinya dengan jumlah banyak melalui perantara tersangka.

Namun, nahas, atas laporan masyarakat, NG lebih dulu ditangkap oleh Tim Melati Mapolres Banda Aceh.

“Kami sempat pancing melalui tersangka agar barang itu dikirim banyak terus, namun sang bandar tidak mau memberikan. Kemudian saya coba mendatangi DPO, namun keburu bocor, sehingga DPO melarikan diri,” katanya.

Amatan media ini, perempuan yang diketahui bekerja sebagai pedagang ini menutup wajahnya dengan jilbabnya sambil tersedu-sedu, saat dihadirkan dalam konferensi pers bersama sepuluh tersangka lainnya..

11 tersangka lainnya terdiri dari seorang perempuan yang berasal dari Simeulue dan 10 lainnya laki-lak. “Para tersangka ada yang berstatus pekerja serabutan, dan ada juga berstatus mahasiswa. Namun ke semua ini bukan residivis, dan tidak ada yang berusia di bawah umur,” katanya.

Para tersangka dikenakan Pasal 114 Ayat (1) dan Pasal 112 ayat (1) Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 dengan ancaman hukuman maksimal 20 tahun dan paling singkat lima tahun.(*)

Rubrik

Komentar

Loading...