Humam Hamid: Jika Tak Segera Dibendung, Aceh akan Masuk ke Belantara yang Kejam Sekali

Humam Hamid: Jika Tak Segera Dibendung, Aceh akan Masuk ke Belantara yang Kejam Sekali
Guru Besar Universitas Syiah Kuala Prof. Dr. Ir Ahmad Humam Hamid MA

BERITAKINI.CO, Banda Aceh | Angka penularan Covid-19 di Aceh terus melonjak tajam. Sepanjang lima hari terakhir, rata-rata penambahan kasus harian di atas 100 kasus.

Kondisi yang benar-benar mengkhawatirkan. Di mana jika penularan tak cepat dibendung, maka Aceh bisa saja masuk ke belantara yang sangat kejam.

Hal itu disampaikan Guru Besar Universitas Syiah Kuala Prof. Dr. Ir Ahmad Humam Hamid MA saat dimintai tanggapannya atas fenomena pandemi Covid-19 di Aceh, Sabtu, 19 September 2020.

Humam mengatakan, Aceh sebetulnya memiliki keuntungan situasional diawal-awal pandemi. Namun tak sepenuhnya dimanfaatkan, sehingga akhirnya kini Tanah Rencong menjadi salah satu daerah dengan tingkat penularan yang cukup memprihatinkan.

“Kalau kita lihat komunikasi publik pemerintah daerah, terutama sejak awal-awal Covid-19, termasuk angka-angka yang ditampilkan, itu memberi sebuah ilusi kepada publik, yang kemudian dipercaya, bahwa kita ini aman, terkendali,” katanya.

Menurut Humam, hal itu persis seperti perilaku orang-orang besar di luar sana. “Seakan-akan pandemi ini persoalan kecil. Menyatakan enteng," katanya.

Bahkan, Aceh dua kali dapat penghargaan karena dianggap berhasil mencegah dan menangani Covid-19.

Padahal penanganan semuanya dinilai berjalan auto pilot.

“Keuntungan Aceh kerena tidak terintegrasi dengan ekonomi global. Jadi saya sebut keistimewaan Aceh, karena memang daerah ini bukan daerah maju," katanya.

Namun pemerintah terkesan lupa. Rute covid Wuhan, kata Humam Hamid, terlihat jelas (penyebarannya) mengikuti arus integrasi ekonomi global.

"Ke mana daerah maju, di mana daerah yang banyak peredaran uang, ke mana daerah yang banyak turis, di situ dia (Covid-19) datang," katanya.

Covid-19 keluar dari Wuhan, langsung ke Eropa dan Amerika. Dua kawasan yang merupakan pusat ekonomi global.

Sempat singgah di Singapura, Taiwan, dan Korea Selatan, tapi cepat tertangani lantaran negara-negara tersebut telah cukup canggih melakukan penanganan.

“Covid-19 juga menyerang kawasan padat ekonomi atau daerah yang memiliki integrasi dengan ekonomi global di Amerika latin, seperti Brazil, Mexico, dan Chili. Setelah itu balik ke Asia, seperti India dan Indonesia,” katanya.

"Nah di Indonesia itu kan awalnya menyasar daerah-daerah yang padat, ekonominya lumayan, integrasi ekonominya dengan global juga lumayan kuat. Untuk ukuran Indonesia, itu Jawa Timur, Jawa Barat, dan DKI. Selebihnya Sumatera Utara, Sulawesi Selatan, dan Palembang," katanya.

Sementara (ekonomi) Aceh, kata Humam, sesungguhnya hanya lah sekelas dengan NTT.

“Sebenarnya, uang tak beredar di sini, pabrik tak ada di sini, turis tak ada di sini. Karena itu, di awal-awal pandemi ini, Aceh termasuk yang beruntung karena kondisi itu. Saya mengatakannya ‘hikmah’ karena kita bukan daerah maju," katanya.

Cuma sayangnya, hikmah yang ada tak dapat tak dimanfaatkan dan cenderung membuat stakeholder lupa belajar.

“Padahal rute penyebaran virus itu dari dulu sebelum masehi pun, memang tetap mengikuti pergerakan orang, barang dan jasa. Dulu penyebaran relatif lebih lambat, karena jarak tempuh antara satu negara dengan negara lainnya itu memakan waktu yang cukup lama. Tapi hari ini hanya butuh waktu tujuh jam. Ada pandemi di Wuhan, naik Boing 747 atau Airbus 320A, tujuh jam kemudian, virus sudah berkembang di Itali atau di New York," katanya.

Seharusnya, setelah melihat kondisi di tempat lain, Aceh semestinya bisa merasakan. "Kira-kira kita harus bisa menyimpulkan, ‘kalau begitu cara penularannya, maka Aceh akan kena juga’. Sehingga bisa langsung mengambil langkah-langkah pencegahan optimal," katanya.

“Namun kondisi saat ini, kita tidak benar-benar paham: apakah Aceh tahu, atau pura-pura tidak tahu.”

Jika memang tahu, lanjut Humam, langkah paling gampang yang bisa dilakukan yakni dengan mengcopy paste, atau membaca buku manual WHO.

“Selidiki apa yang dilakukan pihak lain menekan pandemi, periksa apa perintah atau ucapan direktur WHO itu. Yang dia bilang, kunci dari penangan pandemi itu hanya tiga: test, test, dan test. Kenapa test, karena jika kita lakukan test, maka kita akan mendapatkan test yang lain, atau yang disebut dengan tracing. Dari hasil tracing ini, kita sebetulnya sudah mendapat gambaran rantai penularan. Setelah dapat gambaran itu, kita bisa membendung,” katanya.

Menurut Humam, saat ini Aceh memiliki dua dua pekerjaan besar, yakni pekerjaan publik dan pekerjaan pemerintah.

Lihat juga: [VIDEO] Proyek Multi Years: Nova Galang Dukungan Lewat Road Show, DPRA Ambil Jalur Lapor KPK

“Pekerjaan publik ya itu, memakai masker, menjaga jarak, hindari kerumuan, mencuci tangan. Pekerjaan pemerintah adalah membendung dengan membuat tes dan melacak, isolasi, dan kalau perlu karantina wilayah,” katanya.

“Dengan seperti itu, kita akan luar biasa. Jadi kombinasi defens masyarakat, dan langkah membendung oleh pemerintah. Kalau ini tidak dibuat, bukan pemerintah namanya. Dia akan membiarkan manusia Aceh ini masuk ke belantara yang kejam sekali. Jadi penguatan untuk test dan tracing, itu yang paling utama untuk membendung. Jangan menunggu orang datang ke rumah sakit untuk test.”

Rubrik

Komentar

Loading...