Hibah KfW Jerman di Proyek Geothermal Seulawah Batal Digunakan

Hibah KfW Jerman di Proyek Geothermal Seulawah Batal Digunakan
Direktur Utama PDPA Muhsin | BERITAKINI.CO/A. Putra

BERITAKINI.CO, Banda Aceh | Dana hibah dari KfW Jerman senilai 7,720 juta Euro atau setara Rp 108 miliar pada proyek panas bumi (geothermal) Seulawah batal digunakan. Pembatalan diakibatkan penerapan syarat yang relatif memberatkan.

Gubernur Aceh Irwandi Yusuf baru-baru ini juga sempat mengatakan bahwa dia berharap sebagian sumber pendanaan proyek ini bisa menggunakan dana hibah dari Jerman tersebut.  

“Tapi semestinya hibah itu tanpa syarat. Karena dana hibah memang seharusnya tanpa syarat,” katanya usai penandatanganan kerjasama antara PT Pertamina Geothermal Energy dan Perusahaan Daerah Pembangunan Aceh (PDPA) sebagai pelaksana proyek geothermal ini, Senin, 31 Juli 2017 lalu.

Baca: Irwandi Minta Proyek Geothermal Seulawah Rampung 3,5 Tahun

Dirut PDPA Muhsin mengatakan, untuk menutupi penyertaan pembiayaan operasional proyek tersebut, PDPA meminta kebijakan Pertamina untuk membantu pendanaannya yang akan dihitung dalam bentuk hutang PDPA kepada BUMN itu.

Hal ini penting agar proses eksplorasi panas bumi itu bisa terus berjalan. Seperti diketahui, PT Pertamina Geothermal Energy dan PDPA telah membentuk perusahaan patungan yakni PT Geothermal Energy Seulawah (GES) untuk menjalankan proyek itu. Total biaya eksplorasi diproyeksikan senilai USD 44 juta dimana PDPA mesti menyetorkan modal sebesar 25 persen.

“Sementara hibah dari KfW dinilai tak cocok digunakan. Setelah kami pelajari, kami teliti, ini (hibah KfW) tidak cocok untuk Aceh. Tidak ada dana hibah itu yang bersyarat,” kata Muhsin saat ditanyai BERITAKINI.CO, Rabu (9/8/2017).

Dana hibah ini, kata dia, dikelola oleh konsultan KfW. Jika PDPA memutuskan menggunakan hibah itu, maka syaratnya mereka juga harus mengambil soft loan (pinjaman lunak) dari KfW. "Tapi dari total USD 348 juta, bunganya terlalu tinggi yakni 4 persen," katanya.

"Sedangkan yang kita pahami, soft loan itu biasanya 1 persen, komersil saja 2 persen. Maka itu terlalu tinggi. Sehingga kita tidak mempergunakan dana itu sekarang."

Komentar

Loading...