Hampir Setengah Wilayah Desa Lae Balno Diklaim Sumut, Wali Nanggroe Turun ke Aceh Singkil

Hampir Setengah Wilayah Desa Lae Balno Diklaim Sumut, Wali Nanggroe Turun ke Aceh Singkil
Wali Nanggroe Aceh Malik Mahmud

BERITAKINI.CO, Singkil | Sengketa perbatasan Aceh-Sumatera Utara (Sumut), khususnya di Desa Lae Balno Kecamatan Danau Paris, Aceh Singkil tak juga selesai kendati sudah berlangsung puluhan tahun.

Sengketa itu bahkan sempat meningkat ke level konflik antar masyakarat di perbatasan tersebut, hingga memakan korban jiwa akibat saling bacok.

Konflik ini dipicu karena hampir setengah wilayah Desa Lae Balno, Kecamatan Danau Paris, dilaporkan telah dicaplok Sumut.

Wilayah itu antara lain, kawasan hutan, pintu gerbang perbatasan, kemudian kantor desa setempat. Kawasan itu diklaim masuk wilayah Desa Pagaran, Kecamatan Manduamas, Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumut.

Peliknya persoalan sengketa perbatasan yang telah menahun ini, mendorong Pemerintah Aceh Singkil mengundang Wali Nanggroe Malik Mahmud untuk turun ke Aceh Singkil.

Terutama untuk menengahi soal perbedaan pandangan ihwal batas wilayah tersebut.

Amantan BERITAKINI.CO, Malik Mahmud telah turun ke Aceh Singkil, Minggu (1/11/2020), untuk berdialog dengan masyakarat di Desa Lae Balno.

"Saya datang ke sini atas undangan pak bupati untuk penyelesaian tapal batas Aceh-Sumut yang belum selesai hingga menimbulkan banyak persolan," kata Malik Mahmud dalam pidatonya yang dihadiri Bupati Aceh Singkil Dulmusrid, anggota DPRA Asmidar, Ketua DPRK Aceh Singkil Hasanuddin Aritonang, pejabat kecamatan, perangkat desa, tokoh agama dan tokoh masyakarat.

“Perlu diketahui, peta kita sejak zaman penjajah Belanda yang dipegang oleh nenek moyang kita, masih ada,” katanya.

“Adapun saya datang ke sini untuk mendengar dari bapak ibu permasalahan yang selama ini, saya akan mengumpul data data, fakta dan akan saya pelajari dan dikaji oleh tim saya, kemudian nantinya akan saya bawa ke Pemerintah Aceh, bila perlu dilakukan audiensi dengan Pemerintah Sumut dan pusat.”

Sebelumnya Bupati Aceh Singkil Dulmusrid mengatakan, Desa Lae Balno yang sedang diklaim oleh Pemerintah Sumatera Utara, sejak zaman dahulu adalah wilayah Aceh, Kabupaten Aceh Singkil.

“Dalam perbatasan Aceh dan Sumut ada air kalau bahasa kita di sini sebut ‘Lae' atau sungai. Sementara saat ini sudah berganti nama ‘Aek’, bahasa dari Tapanuli Utara,” katanya.

Dulmusrid pun berharap Wali Nanggroe dan Pemerintah Aceh turun tangan untuk menyelesaikannya. Terutama situasi tersebut telah memiliki catatan buruk di mana konflik yang terjadi sudah pernah memakan korban.

“Untuk itu pak Paduka mohon uluran tangan agar persoalan ini dapat diselesaikan tentunya membicarakan dengan Pemerintah Aceh dan Pemerintah Sumut,” katanya.

Rubrik

Komentar

Loading...