Hak Angket DPRA untuk Nova, Mukhlis Mukhtar: Itu Hutang Politik!

Hak Angket DPRA untuk Nova, Mukhlis Mukhtar: Itu Hutang Politik!

BERITAKINI.CO, Banda Aceh | Pengamat politik Mukhlis Mukhtar menilai DPRA masih memiliki hutang politik, terutama menyangkut dengan kelanjutan usulan penggunaan hak angket terhadap Gubernur Aceh.

"Di mana hak angket ini adalah kelanjutan dari hak interpelasi DPRA yang saat itu legislatif Aceh dengan tegas menolak seluruh jawaban gubernur Aceh atas poin-poin yang diinterpelasikan," kata Mukhlis Mukhtar saat ditanya BERITAKINI.CO ihwal kelanjutan usul penggunaan hak angket yang melekat pada DPRA tersebut, Senin (23/11/2020).

Mukhlis menilai, publik dapat menagih atau bahkan menekan DPRA untuk segera memberikan kepastian kelanjutan penggunaan hak angket yang memang sempat hingar bingar tersebut.

"Mungkin masyarakat bisa mempressure-nya. Bagi saya, secara politis itu adalah hutang yang harus dituntaskan," ujar Mukhlis Mukhtar.

Sebelumnya, DPRA menunda paripurna usul penggunaan hak angket tersebut lantaran jumlah anggota DPRA yang hadir tak mencukupi kuorum.

Lihat juga: Perkembangan Hak Angket DPRA, Anggota Banmus: Belum Ada Kelanjutan

DPRA hanya memutuskan untuk membawa kelanjutan penggunaan hak angket tersebut ke rapat badan musyawarah (banmus).

"Kan diputuskan dibawa ke banmus, seperti keputusan DPRA saat paripurna lalu, itu adalah hutang politik," katanya.

Ditanyai terkait dengan implikasi lainnya jika hak angket akhirnya mengambang, Mukhlis mengatakan bahwa hal itu bisa menjadi kesimpulan bahwa DPRA tidak menjalankan tugas secara menyeluruh dengan tuntas.

" Ya, berarti tidak jalani tugas yang semestinya dong, yang saya sebut hutang itu, ya ini, DPRA kan sudah memulai, harusnya dituntaskan," kata Mukhlis.

Namun Mukhlis Mukhtar tak menampik bahwa faktor "cuaca" dapat dengan mudah merubah situasi politik.

"Kendati aneh juga di mata publik jika angket itu mengambang, tapi secara politik itu biasa saja," katanya.

"Ke depan kita lihat saja, dilanjutkan atau tidak, namun jika tidak, terserah pada rakyat yang menilai. Untuk ke depan menjadi pelajaran bagi rakyat." | Rio Syahrany

Rubrik

Komentar

Loading...